
Sudah tiga hari terakhir ini Kalila terus berada di rumah sakit. Apalagi yang ia kerjakan kalau bukan mengurus dan merawat Darian? Meskipun Kalila membenci pria ini setengah mati, ia tetap harus berpura-pura menjadi kekasih yang baik di depan semua orang. Lagipula bagaimana jika Darian tiba-tiba bangun dan Kalila tidak ada di sisinya? Bisa-bisa Darian merasa curiga dengan Kalila.
Kalila menarik kursinya dan duduk di pinggir ranjang Darian. Ia meraih tangan Darian yang berbalut perban dan mengelusnya lembut. Kalila menempelkan tangan itu dengan lembut di pipinya.
"Ianku Sayang, apakah kamu mendengarku? Aku sangat merindukanmu, Sayang. Cepatlah bangun. Aku mohon." Pinta Kalila lirih dengan suara yang mulai terisak.
Tiba-tiba Kalila merasakan jemari Darian yang penuh luka itu bergerak sedikit. Awalnya hanya gerakan kecil namun lama kelamaan jemari itu bergerak naik turun berulang kali. Kalila histeris dan berteriak bahagia. Ia segera menghambur keluar dan memanggil dokter dan suster yang bertanggung jawab atas Darian.
"Dokter, Suster! Darian! Kekasih saya!" Ucap Kalila terbata-bata sembari berlari menghampiri dokter yang bertugas.
Dokter itu menatap Kalila dengan penuh tanda tanya.
"Iya, Bu? Ada apa dengan pasien Darian?" Tanya Dokter itu tenang.
Kalila kembali mengatur nafasnya perlahan.
"Darian, tadi jarinya bergerak. Sepertinya Darian akan segera sadar!" Ucap Kalila bersemangat.
Dokter itu membelalakkan matanya. Ia segera berdiri dari kursinya dan ikut berlari bersama beberapa suster ke kamar tempat Darian dirawat. Dan benar saja, meskipun masih terbaring lemah, kedua mata Darian sedikit terbuka. Matanya menatap ke arah pintu masuk seolah menunggu siapa yang akan datang melewati pintu itu.
Dokter dan dua orang suster tadi bergerak dengan cepat. Mereka segera memeriksa denyut nadi, detak jantung, dan segala indikator kecil yang Kalila tidak mengerti. Di dalam hatinya, Kalila berkali-kali berdoa semoga Darian melupakan semua hal yang terjadi kecuali dirinya. Sungguh Kalila khawatir jika Darian menghendus sesuatu yang mencurigakan di balik kecelakaannya.
Satu jam berlalu dan ketiga tenaga medis itu akhirnya keluar dari ruangan tempat Darian dirawat. Wajah sang dokter sumringah sembari menjabat tangan Kalila. Wanita itu menatapnya dengan bingung.
"Ada apa, Dok?" Tanya Kalila.
"Selamat, Bu. Ini kabar baik. Pasien Darian sudah sadar dari komanya. Meskipun belum bisa berbicara sepenuhnya, tapi pasien Darian sudah bisa membuka matanya dan memberikan reaksi sederhana. Mungkin Tuhan benar-benar mendengarkan doa Ibu Kalila dan memberikan kesempatan kedua bagi Pak Darian!" Ucap Dokter itu penuh haru.
Kalila tersenyum palsu. Seandainya Tuhan memang mendengarkan doanya, pasti Darian akan berakhir di kamar mayat dan bukannya hidup lagi.
"Ah! Apakah benar, Dok? Ya Tuhan! Ini kabar yang sangat baik! Terimakasih telah membantu Darian, Dok!" Balas Kalila sambil menyeka air matanya.
"Apakah saya sudah bisa menemui Darian, Dok?" Tanya Kalila antusias.
Dokter itu mengangguk. Kalila sumringah dan membungkuk sedikit pertanda terimakasih pada sang dokter. Ia lalu berjalan masuk ke kamar VVIP dimana kekasihnya berada. Dan Kalila mendapati Darian dengan mata yang terbuka. Kedua matanya menatap kosong ke arah langit-langit seolah tengah berkontemplasi tentang apa yang baru saja menimpanya.
"Sayang? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Kalila pelan sembari duduk di sisi Darian.
Pria itu menoleh pelan dan menatap ke arah Kalila. Mata yang kosong itu seketika tampak bersinar bahagia dan diisi oleh kehangatan lagi. Seolah Kalila memang sosok yang ia tunggu selama ini.
__ADS_1
Darian mengangguk pelan.
"Kamu ada disini?" Ucap Darian dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara.
Kalila menangis penuh haru. Ia mengangguk berkali-kali.
"Tentu saja, Sayang. Aku disini bersamamu. Dan akan selalu begitu." Balas Kalila sambil mengusap pipi Darian lembut.
"Jangan menangis, Sayang." Imbuh Darian lagi dengan hanya menggerakkan bibirnya.
Kalila mengangguk lagi.
"Aku tidak bisa menahan tangisku. Aku begitu bahagia melihatmu sadar, Ian Sayang. Terimakasih sudah kembali padaku." Tutur Kalila penuh haru.
Darian tersenyum lemah melihat kekasihnya yang ada bersamanya. Di dalam hatinya, Darian sangat bersyukur telah memilih Kalila untuk mengisi hatinya. Namun bagi Kalila, sadarnya Darian berarti babak baru bagi upaya balas dendamnya. Kalila tersenyum tipis melihat sosok yang terbaring di depannya.
Sebentar lagi kamu akan merasakan neraka dunia yang sebenarnya, Ianku Sayang.
...****************...
Hari ini genap dua hari Darian tersadar dari komanya. Alat bantu pernafasan sudah dilepas dan Darian sudah bisa berbicara seperti dulu lagi. Kalila selalu ada di sisinya setiap saat. Bahkan Darian sampai khawatir dengan kondisi Kalila yang tampak tidak mempedulikan dirinya sendiri.
"Ayo makan, Ian Sayang. Kamu butuh nutrisi agar kamu bisa cepat sembuh." Bujuk Kalila sembari menyuapkan satu sendok bubur pada Darian.
"Tapi aku belum melihatmu makan sejak tadi, Sayang. Kamu begitu sibuk mengurusiku hingga lupa untuk menjaga dirimu sendiri." Gerutu Darian khawatir.
Kalila tertawa renyah.
"Astaga, Darian. Jangan mengomel seperti seorang ibu-ibu seperti itu. Sekarang bagiku yang paling penting adalah pemulihanmu. Tidak ada yang lain." Balas Kalila keras kepala.
Darian menghela nafas pelan.
"Ya Tuhan, Kalilaku Sayang. Aku tidak mau makan jika kamu tidak berjanji akan makan setelah ini." Ucap Darian pura-pura merajuk.
Kalila menjewer kedua telinganya sambil tersenyum kecil.
"Baiklah aku akan makan setelah kamu makan. Sekarang ayo buka mulutmu!" Omel Kalila kesal.
Darian terkekeh dan menuruti perintah Kalila tanpa ragu. Satu suapan masuk mendarat di mulutnya yang masih terluka.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi suka mengomel seperti anak kecil, Ian." Gerutu Kalila setelah Darian menghabiskan porsi makanannya.
Darian tersenyum lebar.
"Karena hanya saat sakit aku bisa bermanja-manja denganmu, Kalilaku Sayang. Kumohon biarkan aku seperti ini sesekali ya." Pinta Darian sembari menatap langsung ke arah Kalila.
Kali ini Kalila yang tertawa kecil.
"Kamu seperti ini seumur hidup pun aku tidak masalah, Ian. Aku akan mengurusmu dengan sepenuh hatiku!" Ucap Kalila sumringah.
Keduanya lalu tertawa bersama. Namun tiba-tiba Darian menghentikan tawanya, membuat Kalila bertanya-tanya.
"Ada apa, Ian?" Tanya Kalila heran.
"Bagaimana keadaan Hanna?" Balas Darian pelan.
"Kamu mau melihat Hanna?" Ucap Kalila lembut.
Darian mengangguk.
"Apakah boleh? Kamu tidak keberatan kan, Sayang?"
Kalila tersenyum penuh kelembutan.
"Tentu saja tidak. Lagipula Mbak Hanna adalah isterimu. Ayo, akan kuantar kamu melihatnya." Ajak Kalila.
Dengan bantuan suster, Darian dipindahkan ke kursi roda agar ia bisa berjalan-jalan keluar. Kalila mendorongnya pelan dan melewati kamar Hanna yang terpisah dua kamar dari kamar Darian.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Darian saat melihat wajah Hanna yang terbungkus perban.
"Wajahnya rusak parah, Ian. Mungkin akan butuh waktu lama bagi Mbak Hanna agar bisa kembali terlihat seperti dulu." Jelas Kalila pelan.
Darian mengangguk-angguk.
"Ini adalah ganjaran untuknya. Semua ini terjadi karena pikiran jahatnya yang ingin menghancurkan hubungan kita, Sayang." Ucap Darian dingin.
Kalila lalu berjongkok di hadapan Darian dan tersenyum tipis kepada pria itu.
"Sudahlah, kita lupakan itu semua ya? Tuhan memberikanku kesempatan agar bisa bersama denganmu lagi dan aku tidak ingin kamu terus memikirkan dendammu, Sayang. Maafkan Mbak Hanna ya?" Pinta Kalila sembari menatap ke mata Darian.
__ADS_1
Pria itu luluh. Ia tersenyum kecil pada Kalila. Dan wanita itu memeluk Darian erat.
"Terimakasih sudah selalu ada bersamaku, Kalila."