Wanita Buronan

Wanita Buronan
Akal Bulus Para Monster


__ADS_3

Darian mengumpat dan meracau berbagai kata-kata kasar sepanjang perjalanannya. Ia tidak percaya istrinya kini sedang berbadan dua. Dan terlebih lagi wanita sialan itu mati-matian ingin mempertahankam kandungannya meskipun Darian menolaknya. Bahkan jika besok dunia akan kiamat sekalipun, Darian tidak akan pernah mau punya anak dari siapapun. Baik dari Hanna maupun dari Kinanti.


Tangan Darian mencengkeram roda kemudi mobilnya hingga buku-bukunya memutih. Ia memacu mobilnya dengan cepat menuju apartemen kekasihnya. Berada di rumah bersama Kinanti membuat kepalanya terasa ingin pecah. Jadi lebih baik ia bermanja-manja dan menghilangkan stressnya bersama Hanna.


Ding! Dong!


Darian menekan bel apartemen Hanna berkali-kali dengan kesal. Sudah lima menit ia berdiri di depan pintu tetapi si pemilik rumah juga tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


"Sialan, dimana Hanna? Apakah dia pergi?" Ucap Darian mulai kehilangan kesabarannya.


Tidak berapa lama, pintu tersebut dibuka. Tampak seorang wanita berbakut piyama mandi berwarna putih menyembulkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.


"Sayang? Katanya tiga hari ini kamu tidak akan kesini?" Tanya Hanna bingung melihat Darian yang ada di hadapannya.


Darian mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Ia lalu melangkah dengan gusar memasukki apartemen milik Hanna. Hanna bingung, kenapa kekasihnya tampak sangat emosi? Ada masalah apa di rumahnya sehingga ia datang selarut ini?


"Ada apa, Sayang? Kamu ribut dengan Kinanti?" Ucap Hanna seraya duduk bersama Darian di sofa ruang tamunya.


"Kinanti." Darian menghentikan kata-katanya sejenak.


Hanna semakin bingung. Kepalanya menuntut jawaban atas kekacauan emosi pria di hadapannya.


"Kinanti kenapa?" Tanya Hanna sekali lagi.


"Kinanti hamil."


Bak disambar petir di siang bolong. Hanna tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Kinanti? Si wanita kampungan itu? Sekarang sedang hamil? Bagaimana Hanna bisa percaya Kinanti sedang hamil kalau Darian saja selalu bercinta dengannya dan bukan dengan Kinanti.


"Bagaimana bisa? Kamu bilang kamu tidak pernah suka dengannya? Kamu bilang Kinanti bukan seleramu dan kamu tidak akan pernah melakukan apapun kepadanya? Kok tiba-tiba Kinanti bisa hamil?" Hanna mengejar Darian dengan sederet pertanyaan.


Darian melempar kepalanya ke senderan sofa yang ia dudukki. Bagaimana bisa kedua wanita yang ada di hidupnya sama-sama memiliki tenaga tidak terbatas untuk mengoceh dan meracau? Darian kesini dengan harapan bisa mendapat ketenangan, tapi sedari tadi Hanna malah mengejarnya dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


"Argh! Kalian wanita sama saja!" Seru Darian sambil beranjak meninggalkan Hanna.


Hanna berlari mengejar Darian. Ia tidak akan menyerah sebelum pertanyaannya dijawab.


"Jawab dulu pertanyaanku, Ian." Ucap Hanna sambil menarik bahu Darian.


"Kamu mau aku menjawabnya seperti apa? Iya Hanna, Kinanti memang hamil anakku karena selama dua minggu aku tinggal disana, aku bercinta tanpa henti dengan Kinanti! Kamu mau jawaban yang seperti itu?" Sembur Darian kesal.


Walaupun akal sehatnya tahu bahwa Kinanti pasti hamil anak Darian, tapi Hanna tetap saja ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Darian. Lagipula Hanna kenal betul seperti apa Darian. Tidak mungkin Darian bisa tinggal di rumah yang sama dengan seorang wanita secantik Kinanti tanpa sedikitpun tergoda untuk menyentuhnya. Apalagi selama dua minggu, Darian tidak bertemu dengan Hanna. Dengan siapa lagi Darian harus menyalurkan nafsunya kalau bukan dengan Kinanti?


"Kamu mau mempertahankan anak itu?" Tanya Hanna sambil mengajak Darian duduk di sampingnya.


"Aku belum gila, Hanna. Untuk apa aku mempertahankan anak dari wanita kampungan itu? Kamu tahu aku tidak pernah mau punya anak kan?" Jawab Darian.


Hanna mengangguk. Iya, Hanna paham benar. Dan sampai sekarang Hanna tidak tahu apa alasan Darian tidak mau memiliki anak. Hanna sendiri harus merelakan kehamilannya sebanyak tiga kali demi menuruti kehendak Darian yang ingin childfree selamanya. Meskipun Hanna juga sangat ingin memiliki bayi yang mirip seperti dirinya dan Darian, rasa takutnya untuk kehilangan Darian jauh lebih besar daripada itu. Karena itu Hanna dengan sukarela menuruti keinginan Darian untuk menggugurkan kandungannya waktu itu.


"Jadi sekarang apa rencanamu?" Ujar Hanna pada Darian.


Hanna terdiam. Kepalanya ikut memutar mencari solusi. Tapi Hanna adalah wanita dengan seribu satu kelicikan. Seperti Darian yang sering dijulukki oleh Kinanti sebagai sosiopat, Hanna juga sama kejamnya dengan kekasihnya. Tak perlu waktu lama bagi Hanna untuk menemukan jawaban atas permasalahan mereka. Dan mungkin dengan satu strategi ini, Hanna bisa melenyapkan semua halangannya untuk mendapatkan Darian dalam sekejap mata.


Hanna tersenyum dan menatap Darian dalam.


"Aku punya rencana, Ian."


...****************...


Darian kagum dengan otak cemerlang Hanna. Memang benar pilihannya. Hanya wanita inilah yang mampu mengimbangi caranya berpikir. Hanya Hanna yang dapat menemukan solusi seefisien ini untuk masalahnya. Dan hanya Hanna yang dapat menjadi rekannya dalam segala hal.


"Bagaimana ideku?" Tanya Hanna meminta pendapat Darian setelah ia menjelaskan rencananya.


Darian berpikir sejenak. Rasanya ide Hanna tidak begitu buruk dan bahkan sangat brilian. Dengan rencana yang Hanna buat, Darian bukan hanya akan menyingkirkan Kinanti dari hidupnya tetapi juga mengamankan seluruh hartanya.

__ADS_1


"Bagus sekali, Sayang. Kamu memang brilian." Jawab Darian sambil mengelus kepala Hanna.


Hanna tertawa lepas. Apakah itu tawa kebahagiaan? Bagaimana bisa seorang manusia normal tertawa karena sebuah rencana mengerikan seperti itu?


"Tapi kamu harus tahu, rencana ini punya bayaran yang sangat mahal, Sayang. Apa kamu yakin mau melakukannya?" Ujar Hanna.


Darian mengangkat sebelah alisnya. Apa ini? Hanna tidak pernah mengatakan ini di awal. Bayaran apa yang Hanna maksud? Mungkin akan lebih baik jika Darian mendengarkannya dulu. Lagipula tidak mungkin kekasihnya akan menjebaknya dalam sebuah jurang kesengsaraan kan?


"Apa bayarannya?" Tanya Darian.


"Bayaran yang paling kecil mungkin Kinanti akan pergi dari hidupmu." Jawab Hanna.


"Lalu bayaran yang terbesar?" Darian bertanya sekali lagi.


"Bayaran terbesarnya kamu bisa kehilangan seluruh orang yang ada di sekitarmu. Papa dan Mamamu." Sambung Hanna terdengar meyakinkan.


Darian memikirkan perkataan Hanna dengan tenang. Berbagai konsekuensi mungkin akan ia hadapi apabila rencana ini gagal, tapi Darian percaya dengan otak dan kemampuan Hanna. Darian yakin seratus persen rencana ini tidak akan gagal. Dan apabila rencana ini berhasil, Darian dan Hanna akan dalam posisi yang aman selamanya. Memimpin kerajaan bisnis Bara Kahuripan bersama.


"Hmmm tawaranmu boleh juga, Sayang. Walaupun bayarannya berat, aku akan menerimanya. Yah, lagipula aku tidak peduli lagi dengan Papa dan Mama. Kamu kan tahu, mereka bukan orangtua kandungku." Balas Darian menyetujui tawaran Hanna.


Keduanya lalu tertawa lepas. Rasanya kemenangan sudah ada di tangan mereka dan mulut mereka sudah dapat mengecap manisnya air mata musuh. Darian memeluk Hanna dan mencium bibirnya dengan penuh gairah. Entah mengapa hari ini Hanna terlihat menjadi ribuan kali lebih seksi karena otaknya yang cemerlang. Hanna membalasnya dengan penuh nafsu. Ia ******* dan menjelajahi bibir Darian dengan lidahnya.


Secepat kilat keduanya sudah terlibat lagi dalam permainan cinta yang panas. Darian memimpin dengan kepiawaiannya menarik Hanna menuju puncaknya. Berkali-kali dalam semalam hingga mereka terkulai bahagia. Kebahagiaan mutlak karena merasa kemenangan sebentar lagi akan datang pada mereka.


"Oh iya, aku boleh minta sesuatu kalau rencana ini berhasil?" Tanya Hanna sambil menyenderkan kepalanya di dada Darian.


"Hmm. Boleh. Kamu mau hadiah apa? Akan aku berikan semua yang kamu mau." Jawab Darian sambil memilin-milin rambut Hanna dengan jemarinya.


Hanna bangkit dari tidurnya. Ia duduk menghadap Darian sembari menatap pria itu dengan serius. Tampaknya Hanna akan meminta sebuah hal yang sangat besar.


"Nikahi aku. Aku mau menjadi istrimu yang sah. Nyonya Darian Chatra Wijaya."

__ADS_1


__ADS_2