
Pesta pernikahan Kinanti dan Darian baru saja selesai satu jam yang lalu. Dan sebagai hadiah dari hotel tempat mereka melaksanakan pernikahannya, Kinanti dan Darian dapat menghabiskan malam pengantinnya di salah satu president suite yang ada di lantai paling atas hotel itu.
Malam itu adalah pertama kalinya Kinanti menjejakkan kakinya di dalam president suite sebuah hotel. Tempat yang biasanya hanya bisa ia pesan untuk keperluan atasannya, kini ia sendiri yang akan menempatinya malam ini. Dengan takjub Kinanti melihat ke sekeliling ruangan itu yang mungkin lebih besar dari rumahnya. Pemandangan kota Jakarta di malam hari tersaji melalui jendela kaca super besar di area tamu.
"Kenapa? Kamu baru pertama kali ke tempat seperti ini?" Tanya Darian mengejek.
Kinanti mengangguk. Ia tidak peduli dengan nada bicara Darian yang terdengar merendahkan. Barulah satu hari menjadi menantu Keluarga Wijaya, Kinanti sudah merasakan nikmatnya hidup bergelimangan harta. Rasanya Kinanti tidak akan mau meninggalkan dunia ini dan kembali hidup susah.
Ting!
Ponsel Kinanti berdering, ia melihat notifikasi yang masuk. Sebuah pesan whatsapp masuk ke ponselnya. Dari Ranti, rekan satu timnya bersama Tristan dulu. Kinanti bertanya-tanya ada masalah apa sehingga Ranti menghubunginya? Karena semenjak mereka sudah tidak satu tim, Ranti sangat jarang menghubungi Kinanti.
Turut berduka cita.
Telah meninggal dunia, rekan/teman/sahabat kita Tristan Desmon Adelio pada pukul 17.00 WIB. Semoga mendiang diberikan tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Bagai mendengar petir di siang bolong, jantung Kinanti mencelos membaca isi pesan itu. Tristan? Tristan yang ia kagumi selama ini? Yang selalu ia dekati sepanjang ia bekerja di Bara Kahuripan? Tristan meninggal dunia? Kenapa semuanya terjadi sangat mendadak? Kalau begitu tidak aneh jika sepanjang pesta pernikahannya, Kinanti tidak menemukan sosok Tristan di antara tamu yang hadir. Padahal hampir seluruh karyawan PT Bara Kahuripan hadir disana.
Air mata Kinanti merembes dari pelupuk matanya. Kinanti menolak untuk mempercayai kabar yang ia terima. Dengan cekatan Kinanti menekan nomor telepon Ranti. Ia harus mengetahui lebih lanjut tentang berita ini.
"Halo, Nan?" Tanya Ranti di telepon. Suaranya bindeng seperti habis menangis. Bagaimana tidak? Dulu Kinanti, Ranti, dan Tristan sangatlah akrab. Hampir setiap hari mereka bersama-sama. Jadi kehilangan Tristan juga terasa berat bagi Ranti.
"Mas Tristan... sudah..." tanya Kinanti tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Iya, Nan. Tadi sore Mas Tristan sudah berpulang." Jawab Ranti lirih.
"Tapi sakit apa, Ran?" Tanya Kinanti tidak percaya.
"Selama satu bulan terakhir ini Mas Tristan memang sering bolak-balik ke rumah sakit, Nan. Awalnya sih dia mengeluh karena sering pusing. Tapi ternyata hasil cek lab menunjukkan kalau Mas Tristan terkena meningitis." Jelas Ranti.
"Meningitis? Maksudmu radang selaput otak? Bagaimana mungkin?" Ulang Kinanti masih tidak percaya.
"Aku juga kurang tahu, Nan." Jawab Ranti pelan.
Ingatan Kinanti kembali ke beberapa minggu yang lalu. Apakah alasan Tristan sering tidak datang ke kantor adalah ini? Karena ia mengalami sakit kronis dan harus bolak-balik ke rumah sakit? Hati Kinanti terasa sangat sakit. Orang yang ia cintai tengah berjuang melawan sakitnya, tapi Kinanti malah tidak ada di sisinya.
__ADS_1
Penyesalan memang akan menghampiri setiap manusia. Namun Kinanti tak ingin menyesali keputusannya lagi. Setidaknya ia ingin ada bersama Tristan di saat terakhirnya. Kinanti ingin hadir disana dan ikut mengirim Tristan menuju peristirahatan terakhirnya.
"Kapan pemakamannya, Ran? Aku mau kesana." Ucap Kinanti.
"Besok pagi jam 8, Nan. Kamu bisa kesini sekarang, aku ada di rumah Mas Tristan sampai pemakamannya." Jawab Ranti.
Kinanti bergegas mengganti pakaiannya karena ia ingin segera pergi ke rumah Tristan. Namun sebuah suara bertanya padanya. Suara Darian.
"Kamu mau kemana?" Tanya Darian saat keluar dari kamar mandi. Ia bingung melihat istrinya yang sibuk berganti pakaian dan bukannya bersiap mandi.
"Mas Tristan meninggal, Pak. Aku mau ke rumahnya sekarang." Jawab Kinanti pada Darian.
"Tristan? Siapa Tristan?" Ujar Darian bingung.
"Dia atasanku yang lama. Saya mau ke rumahnya sekarang, Pak. Saya pamit." Ucap Kinanti mengambil tasnya untuk pergi.
Namun Darian langsung menarik tangan Kinanti dengan kasar. Tatapannya tampak tidak setuju dengan aksi Kinanti.
"Tidak boleh. Kamu harus disini malam ini." Ucap Darian dingin.
"Tidak mau. Saya akan pergi sekarang juga." Balas Kinanti sengit.
Darian menarik Kinanti dengan kuat lalu menghempaskannya ke ranjang. Sebelah tangannya mencengkeram kedua tangan Kinanti dan tangan yang satunya mengelus pipi Kinanti. Darian tersenyum licik.
"Kalau saya melarang kamu, kamu bisa apa?" Tanya Darian.
"Saya mohon, Pak. Saya harus hadir di pemakaman Mas Tristan. Saya mohon izinkan saya." Pinta Kinanti penuh harap.
Tapi Darian tidak menggubrisnya. Matanya menatap Kinanti dengan kejam.
"Kamu itu sudah menikah dengan saya. Jadi sekarang kamu adalah milik saya. Properti saya. Kalau saya bilang tidak boleh, berarti kamu harus menurutinya." Ucap Darian sambil tertawa gelap.
Kinanti meringis. Rasa takut timbul melihat sosok tiran Darian yang muncul kembali. Nyalinya kecut. Kinanti hanya berukuran setengah tubuh Darian dan pria itu bisa saja menghempaskannya dalam sekali pukul jika ia tidak suka melihat Kinanti.
Kinanti memalingkan wajahnya. Air matanya mengalir. Hatinya terluka karena ia gagal ada di sisi Tristan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Hapus air matamu, Istriku. Kamu tidak boleh menangisi pria lain selain suamimu." Ucap Darian sambil mengusap air mata Kinanti.
"Malam ini kamu harus melayani aku layaknya seorang istri." Ujar Darian sambil berbisik di telinga Kinanti.
Darian dengan kasar melucuti pakaian Kinanti. Satu demi satu. Tanpa aba-aba ia memulai permainannya. Kinanti mengerang kesakitan. Sungguh rasanya seperti miliknya akan robek begitu saja. Tapi Darian tampak tidak peduli. Senyum kejamnya mengembang dan tatapannya tidak lepas dari wajah Kinanti yang melenguh merasakan sensasi kesakitan dan kenikmatan.
Kinanti merasa seperti sebuah boneka yang diperlakukan dengan kasar oleh suaminya. Air matanya tidak berhenti mengalir. Kinanti marah. Marah pada keadaan yang memaksanya menjadi seperti ini. Tetapi ia juga marah kepada dirinya sendiri karena Kinanti terjebak di posisi ini adalah buah dari pilihannya sendiri.
Sebuah penyesalan besar dalam hatinya adalah tidak bisa melihat Tristan untuk terakhir kalinya. Pria yang selalu ia kagumi selama tiga tahun terakhir. Yang ia impikan untuk menjadi pendamping hidupnya. Malah harus ia tinggalkan di pembaringan terakhirnya. Entah apakah Kinanti akan memaafkan dirinya sendiri atas semua ini.
...****************...
Pagi harinya Kinanti terbangun dalam keadaan tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Wajar saja mengingat betapa gilanya Darian semalam menjelajahi tubuhnya. Bagian bawah Kinanti bahkan masih terasa nyeri karena aksi Darian. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa malam pertamanya akan berlangsung dengan kasar seperti itu. Alih-alih merasa dicintai, Kinanti malah seperti barang yang telah dibeli hanya untuk digunakan.
Ia melihat ke sisi ranjangnya. Kinanti bingung karena ia tidak menemukan sosok Darian di sisi tempat tidurnya. Matanya berkeliling mencari suaminya. Namun sudut matanya menangkap segepok uang berwarna merah di atas nakas. Kinanti mengambil uang itu dengan tatapan bingung.
"Untuk apa ini?" Gumam Kinanti pada dirinya sendiri.
"Itu untukmu. Untuk layananmu semalam." Jawab Darian seraya berjalan dari arah balkon.
Kinanti menggenggam uang itu dengan kesal. Apa yang ada di pikiran Darian? Apakah menurutnya harga seorang istri adalah sama dengan segepok uang ini? Apakah benar di matanya Kinanti hanyalah sebuah properti? Betapa kejam dan tidak berhati pria yang ia panggil suami ini.
"Aku tidak butuh uang ini." Ucap Kinanti mengembalikan segepok uang itu di tempat semula.
Darian tertawa mengejek.
"Kamu tidak usah munafik. Alasan kamu mau menikah denganku adalah karena uang kan? Lalu kenapa sekarang kamu menolaknya? Mau berpura-pura suci dan menjadi istri sejati?" Tanya Darian tanpa perasaan.
Hati Kinanti terluka dengan perkataan itu. Sehina itukah Darian memandangnya? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa materi adalah alasan utama Kinanti menerima tawaran untuk menikah dengan Darian. Tapi bukan berarti Darian bisa memperlakukannya seperti wanita malam yang dibayar sehabis melayani birahinya. Kinanti memang miskin, tapi sungguh ia masih punya harga diri.
"Anggap saja ini uang belanjamu, istriku." Jawab Darian sambil tersenyum meremehkan.
Kinanti beranjak dari tempat tidur dan mengambil kain untuk menutupi tubuhnya. Tanpa menggubris perkataan Darian, ia meninggalkan pria itu dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Darian tertawa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis miskin mengacuhkan uang yang ia berikan? Sungguh sulit dipercaya.
"Hahaha. Dasar wanita gila."
__ADS_1