
Kehidupan di penjara sungguh keras. Tidak, Kinanti tidak melebih-lebihkannya. Walaupun ia terbiasa hidup susah, itu semua tidak ada tandingannya dengan kesulitan yang ia hadapi selama berada di penjara. Sejak satu minggu yang lalu, Kinanti resmi menyandang sebuah predikat baru. Narapidana Kinanti Anindira dengan nomor 257.
Kinanti tinggal bersama empat orang lainnya di dalam sel berukuran 2x3 meter. Dua narapidana karena kasus pencurian bernama Siti dan Maimun, seorang pecandu narkoba bernama Mitha, dan seorang wanita tua yang sangat pendiam. Hingga memasukki hari ketujuhnya di dalam sel, ia tidak tahu apapun tentang wanita tua itu selain tentang namanya.
Wanita tua itu bernama Manisah. Seorang tahanan yang baik dan selalu menuruti perkataan sipir. Ia juga taat pada jadwal yang diberikan penjara pada setiap tahanan. Hanya saja Kinanti tidak pernah melihatnya bersosialisasi atau sekedar bertegur sapa dengan yang lain. Sekedar bertukar senyum pun tidak pernah. Sungguh menyeramkan.
Sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di dalam lapas, Kinanti sudah menjadi salah satu tahanan yang paling populer. Siapa yang tidak mengenalnya? Menantu durhaka keluarga kaya raya yang membunuh mertuanya sendiri. Sindiran-sindiran pedas sudah menjadi makanan sehari-hari Kinanti. Belum lagi intimidasi dari narapidana lain yang lebih senior menambah naik turunnya kehidupan Kinanti di penjara.
"Dasar perempuan tidak tahu di untung!" Sindir salah seorang narapidana saat Kinanti melewati sel mereka.
"Dasar wanita gila!" Ucap yang lain.
"Dasar wanita bajingan!" Tambah yang lain.
Perempuan tidak tahu di untung, wanita gila, dan bahkan wanita bajingan. Semua hinaan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan perploncoan yang Kinanti alami selama di penjara. Seperti tidak berhati nurani, mereka turut menyiksa fisik dan batin Kinanti dengan berbagai cara. Tidak peduli bahwa Kinanti tengah hamil besar sekalipun.
Di minggu keduanya sebagai narapidana, Kinanti mulai mendapatkan tugas-tugas ringan seperti membersihkan taman dan menyapu lapangan penjara. Karena perutnya yang sudah sangat besar, cukup sulit bagi Kinanti untuk melaksanakan tugasnya. Kinanti tengah menyapu lapangan penjara dengan sapu lidi ketika tiba-tiba segerombolan narapidana yang terlihat sangar menghampirinya.
"Heh, anak baru ya?" Tanya salah satu wanita berbadan besar yang tampaknya pemimpin kelompok itu.
Kinanti mengangguk tanpa menjawab.
"Kalau ditanya itu jawab! Jangan diam saja! Memangnya kamu bisu hah?!" Seru wanita lainnya sambil menjambak rambut Kinanti dengan keras.
"Argh!" Erang Kinanti merasa sakit.
"Belikan kami rokok sekarang!" Perintah pemimpin wanita tadi pada Kinanti.
Tapi Kinanti bingung. Bagaimana bisa dia mendapatkan rokok di tempat seperti ini? Bukankah benda itu dilarang di dalam penjara?
"Tapi bagaimana saya bisa mendapatkan rokok disini, Mbak?" Tanya Kinanti bingung.
"Itu bukan urusan kami! Pokoknya cepat belikan kami rokok sekarang!" Perintah wanita tambun itu dengan kejam.
Kinanti berjalan membelah lapangan penjara. Matanya memencar ke seluruh penjuru tempat mencari dimana ia bisa mendapatkan sekotak rokok. Ia bertanya kepada setiap orang dan mereka hanya memberikan nama satu tahanan. Kartika si penghuni sel nomor 12.
__ADS_1
Akhirnya Kinanti berhasil menemukan narapidana wanita bernama Kartika itu. Tubuhnya kurus kecil dan matanya tampak cekung seperti seorang pecandu. Tapi siapa yang menyangka, wanita mungil ini adalah narapidana paling dicari dalam penjara. Alasannya apalagi kalau bukan karena kemampuannya menyuplai segala kebutuhan narapidana. Mulai dari rokok hingga gigolo.
"Mbak Kartika?" Tanya Kinanti ragu.
Kartika menoleh. Matanya sayu menatap Kinanti.
"Mau beli apa?" Balas Kartika langsung.
Kinanti menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya di bibirnya. Memberi isyarat seperti orang merokok. Kartika tertawa melihatnya.
"Gila kamu. Perut sudah hampir meletus masih saja merokok." Ucap Kartika tidak percaya.
Kinanti hanya tertawa kecil dan tidak membalasnya. Sudahlah, tidak peduli siapa yang akan memakai rokok ini yang penting Kinanti sudah membelikannya.
"Ini. Simpan yang benar dan jangan sampai ketahuan." Ucap Kartika menyelipkan sekotak rokok ke tangan Kinanti.
Kinanti mengangguk. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengamati keadaan. Setelah dirasa aman, Kinanti berjalan kembali ke lapangan penjara. Tempatnya tadi menyapu dan juga tempat dimana segerombolan wanita perundung itu menunggunya.
Namun sekembalinya ke tempat awalnya, Kinanti tidak menemukan sekelompok wanita sangar yang tadi menyuruhnya membelikan rokok. Yang ia lihat hanyalah seorang sipir wanita dengan tatapan garang. Tatapannya tajam seperti pisau yang akan menghujam Kinanti. Kinanti sadar, ia dalam masalah besar.
"Eh, saya dari kamar mandi, Bu." Jawab Kinanti berbohong. Lagipula tidak mungkin Kinanti mengatakan bahwa ia habis membeli rokok kan?
"Jangan bohong kamu! Saya sudah setengah jam lebih menunggu kamu disini! Berani-beraninya kamu mangkir dari tugas hah? Lihat hasil pekerjaanmu! Masih berantakan dan sudah kamu tinggalkan!" Seru sipir itu lagi.
Kinanti melihat ke arah sekelilingnya. Sampah dan dedaunan yang tadinya sudah ia kumpulkan dan tumpuk di satu sudut lapangan, kini bertebaran lagi. Lapangan yang tadinya sudah hampir bersih, kembali berantakan seperti tidak pernah disapu.
"Sialan, ini pasti akal-akalan wanita gendut itu!" Umpat Kinanti dalam hati.
"Kamu harus dihukum! Temui saya setelah kamu menyelesaikan tugas ini!" Titah sipir wanita itu lalu meninggalkan Kinanti yang meredam amarahnya sendirian.
...****************...
Kinanti memijat-mijat tubuhnya yang pegal. Hukuman dari sipir wanita itu tidak main-main. Kinanti disuruh mengepel aula tempat para tahanan berkumpul dengan selembar kain. Ditambah lagi Kinanti harus melakukannya dalam keadaan hamil besar. Mungkin kata pegal saja tidak akan mampu mewakili remuknya tubuh Kinanti.
Pintu selnya terbuka. Kinanti mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang masuk. Ternyata Bu Manisah datang sembari membawa makanan. Mungkin untuk dirinya sendiri. Namun tanpa disangka, Bu Manisah melangkah menghampiri Kinanti. Ia lalu duduk di samping Kinanti.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan?" Tanya Bu Manisah membuka suara.
Sungguh ini adalah pertama kalinya Kinanti mendengar suara wanita tua ini. Apa yang menghinggapi wanita tua ini sehingga ia mau berbicara dengan Kinanti?
"Eh, iya Bu?" Kinanti bertanya lagi memastikan pertanyaan Bu Manisah.
"Kehamilanmu. Sudah berapa bulan kandunganmu?" Tanya Bu Manisah lagi.
Kinanti menunduk melihat perutnya lalu mengelus-elusnya.
"Sudah sembilan bulan, Bu. Semestinya saya sudah harus melahirkan dalam waktu dekat. Tapi tidak tahu kenapa belum ada tanda-tandanya. Sepertinya bayi saya pun belum mau keluar dari tempatnya." Ucap Kinanti sambil tersenyum.
Bu Manisah tersenyum lembut pada Kinanti. Ia lalu mengelus perut Kinanti yang membulat.
"Anakmu kembar, ya?" Tanya Bu Manisah lagi.
"Iya, Bu. Bagaimana Ibu bisa tahu?" Balas Kinanti terkejut.
"Perasaan saja. Soalnya perutmu lebih besar dari kehamilan biasanya." Jawab Bu Manisah.
Kinanti hanya mengangguk-angguk pertanda mengerti. Keduanya lalu diam lagi. Bingung tentang apa yang harus dibicarakan.
"Tadi saya lihat kamu menemui Kartika." Ucap Bu Manisah mengakhiri hening di antara mereka.
"Iya, Bu. Saya disuruh napi yang disana untuk membelikan rombongan mereka rokok." Kata Kinanti sambil menunjuk ke arah sel tempat rombongan narapidana perundung tadi berkumpul.
Bu Manisah melongok ke arah sel tersebut dan mengangguk pertanda mengerti.
"Lain kali, kamu tidak perlu menuruti perintah mereka. Lihat akibatnya, kamu jadi mendapat hukuman dari sipir kan?" Nasihat Bu Manisah pada Kinanti.
"Tapi bagaimana kalau mereka mencelakai saya, Bu?" Ujar Kinanti khawatir.
Bu Manisah tersenyum dan menepuk bahu Kinanti seolah berusaha menghapus keresahannya.
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa padamu."
__ADS_1