
Niko menatap Kalila tidak percaya. Darian benar-benar tidak ingin melepaskan Kalila. Ia mengikatnya dengan pernikahan sebagai balasan dari jabatan yang diberikan untuk Kalila. Dan Niko paham benar, apabila Kalila menolaknya makan Darian pasti akan mencurigai motif Kalila sebenarnya.
"Apa yang kamu katakan? Darian ingin menikah denganmu?" Ulang Niko lagi.
Kalila mengangguk pelan. Niko menghela nafas berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lalu bagaimana dengan kita?"
Kalila tersenyum tipis. Tangannya mengelus wajah Niko dengan lembut. Walaupun tidak pernah mengucapkannya, Kalila sadar benar rasa cintanya untuk Niko sudah mulai tumbuh. Dan ia tidak bisa mengabaikan perasaan itu lagi. Tapi Niko tidak memiliki dosa apapun kepada Kalila. Akan sangat tidak adil jika Niko harus ikut terseret dalam lingkaran balas dendam ini.
"Tidak akan ada yang terjadi dengab kita, Niko. Kita bisa tetap bertemu seperti biasa kan? Di jam kerjaku misalnya." Ucap Kalila lembut.
Niko menatap Kalila dengan wajah murung. Matanya mulai diselimuti kesedihan karena berita yang baru disampaikan Kalila.
"Tapi kamu tahu bagaimana besarnya cintaku padamu, Kalila. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu menikah dengan pria lain? Apalagi melihatmu bersamanya?" Ucap Niko lirih.
Kalila mendekat ke Niko lagi. Kali ini mencium bibir Niko lembut dan sedikit lebih lama.
"Maafkan aku karena sudah melukai hatimu, Niko. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kamu tahu bagaimana posisiku kan?" Ujar Kalila sambil mendongak dan menatap Niko tulus.
Niko langsung merengkuh Kalila dalam pelukannya yang erat. Tangannya mengelus-elus kepala Kalila yang ada di depan dadanya. Sementara bibirnya terus menciumi puncak kepala Kalila berkali-kali.
"Kamu janji tidak akan meninggalkanku?" Tanya Niko pelan.
"Tidak akan pernah. Aku akan selalu bersamamu, Sayang." Ucap Kalila sungguh-sungguh.
Telinga Niko tertarik mendengar panggilan yang Kalila sematkan untuknya. Ia mengangkat wajah Kalila dan menatapnya dengan terkejut. Namun Niko tak bisa menyembunyikan sumringahnya yang begitu lebar.
"Kamu memanggilku apa tadi?" Tanya Niko tak percaya.
Kalila tertawa kecil.
__ADS_1
"Sayang? Niko Sayang?" Goda Kalila dengan manja.
"Apakah itu artinya kita resmi menjadi sepasang kekasih sekarang?" Niko kembali bertanya.
Kalila mengangguk. Hati Niko melonjak senang mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Kalila. Akhirnya setelah membersamai Kalila sekian lama, cinta sebelah tangan itu akhirnya berbalas juga.
"Dan aku mencintaimu, Niko Sayang." Bisik Kalila sebelum mendaratkan ciuman lagi di bibir Niko. Kali ini sangat bergairah dan dalam.
Dan untuk kedua kalinya, permainan cinta itu kembali menggelora. Begitu panas sepanas mentari Jakarta yang bersinar terik di luar.
...****************...
CKLEK!
Pintu megah di istana Darian Chatra Wijaya terbuka. Darian yang mendengar suaranya langsung menoleh ke arah pintu masuk itu. Mencoba menerka siapa yang tengah memasukki rumahnya dan berjalan ke arahnya.
"Kalila?" Tanya Darian menebak.
Suara sepatu hak tinggi itu tetap mendekat tanpa menjawab pertanyaan Darian. Pria itu mulai tampak cemas karena kekasihnya tidak mungkin diam saja ketika ditanya oleh Darian.
Sosok itu semakin mendekat. Setiap detiknya terasa sangat lambat bagi Darian karena ketidakberdayaannya. Tanpa ia sadari, jantungnya berdegup begitu kencang seolah akan melompat dari rusuknya.
"Jawab pertanyaanku! Siapa kamu dan apa maumu?!" Bentak Darian.
Sosok itu tiba-tiba berjalan dengan cepat ke belakang Darian. Tangannya melingkar di leher Darian dengan lembut namun mengancam. Darian dapat merasakan kuku-kuku panjang sosok itu bertengger di lehernya. Dan Darian semakin yakin bahwa siapapun ini bukanlah Kalila. Kekasihnya itu tidak pernah memanjangkan kuku sekalipun.
"Ssssttt! Tidak bisakah kamu diam?" Bisik sosok itu tenang.
Darian membeku. Siapa ini? Ia tidak pernah mendengar suara asing ini. Bagaimana bisa wanita asing ini masuk ke rumahnya begitu saja?
"Jangan berani-beraninya melukai saya! Saya akan memanggil satpam di rumah ini dan menyeret kamu keluar sekarang juga!" Ancam Darian dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Sosok itu tertawa kecil.
"Apa yang bisa dilakukan pria lumpuh sepertimu, Darian? Membunuhku? Berdiri pun kamu tidak bisa, Darian." Balas wanita itu dengan nada dingin.
"Sudahlah, hentikan perlawananmu. Aku tidak akan melukaimu. Malah aku akan bersenang-senang denganmu, Darian. Ayo kita menghabiskan malam yang sangat menyenangkan!" Bisik si wanita itu.
Lalu Darian merasakan sebuah tusukan benda tajam di lehernya. Apa ini? Jarum suntik?
Wanita itu tampak menusukkan jarum suntik yang berisi entah cairan apa di leher Darian. Sepersekian detik kemudian, Darian tampak lemas dan perlahan kehilangan kesadarannya. Di sisa kesadarannya, hanya satu nama yang dipanggil terus menerus oleh Darian.
"Kalila... tolong aku..."
***
Kalila melangkah masuk ke rumah yang ia tempati bersama Darian. Hari ini adalah hari pertamanya menjabat sebagai Direktur Utama PT Bara Kahuripan. Dan sungguh Kalila tidak pernah mengira kalau itu akan sangat melelahkan. Wajar saja hanya orang-orang terpilih yang dapat duduk di posisi itu.
Suasana rumah sangat hening malam itu. Padahal waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam. Aneh sekali. Biasanya Bu Yati akan memasak di dapur dan suaranya lumayan berisik. Dan Darian akan duduk di ruang tengah menunggu Kalila. Dengan tatapan kosong entah kemana karena tentu saja Darian tidak bisa menonton apapun dengan matanya itu.
Dan Hanna? Tidak perlu dipertanyakan. Semenjak wajahnya hancur, wanita itu seperti kehilangan kewarasannya. Yang dilakukan Hanna hanyalah mengurung dirinya sepanjang hari dan kadang berteriak-teriak tidak jelas di kamarnya. Setiap kali Hanna keluar kamar, hanya kekacauan yang ia buat. Karena itu atas kesepakatan kedua orangtuanya dan Darian, Hanna akan dikurung di kamarnya dan dirawat oleh seorang suster.
Tapi hari ini, rumah sangat terasa aneh. Seperti setiap orang pergi entah kemana. Kalila celingukan mencari siapa saja yang bisa ia temui.
"Ian? Bu Yati? Kalian ada dimana?" Seru Kalila memanggil orang-orang di rumah.
"Aneh. Semuanya pergi kemana?" Gumam Kalila bingung.
Kalila mengedikkan bahunya seolah tak mau ambil pusing. Ia lalu berjalan menaikki tangga menuju kamar utama. Tentu saja ia harus menyapa dan menemui si Raja yang lumpuh. Siapa lagi kalau bukan Darian.
Beberapa menit berjalan, Kalila sampai di depan kamar yang ia gunakan bersama Darian. Tanpa ragu ia menekan kenop pintu dan mendorong pintu besar itu terbuka. Namun kamar itu tampak sedikit kacau. Seolah habis terjadi pergulatan yang begitu panas di kamar itu.
Lalu mata Kalila menangkap hal yang sangat mengejutkan. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka. Di ranjangnya, di kasur yang selama ini ia gunakan bersama Darian, Kalila melihat wanita lain yang berbaring tanpa busana di atasnya. Dan di samping wanita itu, Darian yang sama bugilnya tidur dengan lelap. Dengan lengan yang melingkar saling berpelukan, keduanya tampak begitu pulas tidur tanpa menyadari kehadiran Kalila.
__ADS_1
Kalila terkesiap. Dan tak ada kata lain yang meluncur dari mulutnya selain teriakan memanggil nama sang kekasih yang tampaknya sedang berselingkuh.
"DARIAN!!!"