
"Sayang, apakah sudah waktunya aku minum obat?"
Darian bertanya pada Kalila yang sedang mengganti pakaian Darian. Kalila melirik jam dinding kamar mereka.
"Sebentar lagi, Ian. Setelah mengganti bajumu, aku akan memberikan obatnya kepadamu." Jawab Kalila tersenyum manis.
Darian hanya mengangguk saja. Sejujurnya, tidak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Pertama kakinya lumpuh dan ia terjebak di kursi roda ini selamanya. Dan sekarang penglihatannya benar-benar sudah memburuk. Bahkan mungkin dapat dikatakan Darian sudah tergolong buta. Tidak ada hal apapun yang bisa ia lihat selain bayangan semu yang tidak jelas bentuknya.
Setelah mengganti pakaian Darian, Kalila beranjak berdiri dan mengambil obat yang ada di nakasnya. Kalila tersenyum tipis. Kata-kata Dokter Andi kembali terngiang di kepalanya.
"Ini kortikosteroid. Berikan ini tiga kali sehari agar penglihatan Darian semakin memburuk."
Kalila mendengus pelan.
Oh, Darian. Bagaimana rasanya menjalani hidup seperti ini? Apakah kamu akan memilih mati atau hidup dengan keterbatasanmu?
"Sayang, kamu dimana? Kenapa kamu tidak ada di dekatku?" Tanya Darian panik karena mengira Kalila pergi meninggalkannya sendiri.
Kalila berjalan cepat menghampiri Darian.
"Tenang, Ian. Aku hanya mengambil obatmu saja. Ini, ayo minum obatmu." Ucap Kalila sembari meletakkan dua buah kapsul di telapak tangan Darian.
Dengan hati-hati pria itu memasukkan kedua kapsul itu ke dalam mulutnya. Kapsul berisi obat berbahaya yang akan membuatnya semakin tak berdaya.
...****************...
Ponsel Darian berdering. Kalila segera meraihnya dan mengangkatnya. Sejak Darian mengalami kebutaan, seluruh pekerjaannya sebagai Direktur Utama praktis menjadi tanggung jawab Kalila. Meskipun secara tertulis, status itu masih berada pada Darian. Namun prakteknya, Kalila yang berperan sebagai Direktur Utama Bara Kahuripan.
Kalila melangkah mendekati Darian dan menyodorkan ponsel itu ke dekat telinganya.
"Ada telepon dari Pak Rianto. Sepertinya akan diadakan RUPS Darurat dan mereka membutuhkan kehadiranmu." Ucap Kalila memberi tahu Darian.
Darian berdeham. Membuat suaranya terdengar berwibawa.
"Iya, Pak Rianto. Saya Darian. Ada perlu apa menelepon saya?" Tanya Darian tegas.
Kalila menatap Darian yang tampak serius menerima panggilan itu. Wajahnya seketika berubah mengeras entah karena apa. Tapi Kalila tahu benar panggilan itu membawa kabar yang tidak baik.
__ADS_1
"Baik, saya akan segera kesana. Satu jam lagi saya akan tiba." Tutur Darian menutup teleponnya.
Darian menghela nafas dalam. Ia lalu menyerahkan ponselnya pada Kalila yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Tanya Kalila bingung.
Darian menatap jauh ke depannya.
"Para pemegang saham bersikeras ingin melakukan RUPS Darurat." Jawab Darian pelan.
Kalila membelalak. Tampak sangat terkejut dengan kabar itu.
"Tapi untuk apa? Apakah ada pemeriksaan pajak?" Tambah Kalila lagi. Sedikit khawatir dengan gonjang-ganjing di dalam perusahaan.
"Untuk menggulingkanku. Para pemegang saham menganggapku tidak memiliki kompetensi sebagai Direktur Utama lagi. Dan mereka ingin menggantiku sekarang." Jelas Darian dengan emosi tertahan.
"Dan semua ini karena penyakit sialan ini!" Umpat Darian kesal. Tangannya meraih gelas yang ada di dekatnya dan melemparnya hingga hancur berkeping-keping.
Kalila langsung memeluk Darian yang terbakar api amarah. Tangannya naik turun mengusap punggung Darian, mencoba menenangkannya.
"Tenang, Ian. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang bisa mengambil posisimu." Bisik Kalila berusaha menghibur Darian.
"Mereka pikir bisa merebut Bara Kahuripan dari tanganku. Mereka kira bisa menyingkirkanku dengan mudah hanya karena kondisiku. Tapi mereka salah besar. Aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaan ini pada orang lain." Desis Darian penuh amarah. Kedua tinjunya terkepal di sisi tubuhnya.
Kalila menatap Darian tidak mengerti. Bagaimana mungkin ia bisa melawan para pemilik saham dengan keadaannya yang seperti ini.
"Apa maksudmu, Ian? Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Kalila bingung.
Darian tersenyum culas. Senyum yang selalu muncul jika ia menemukan solusi paling hebat untuk masalahnya.
"Aku akan menunjukmu untuk mengambil alih posisiku, Kalila." Ucap Darian mantap.
"Apa?"
Darian meraba dan menyentuh pipi Kalila.
"Iya, Sayang. Kamu, Kalila Jayanti, mulai sekarang akan menjadi Direktur Utama PT. Bara Kahuripan."
__ADS_1
...****************...
Kalila segera memakai setelan formal terbaiknya. Blazer dan celana mahal yang dulu ia beli dengan gaji pertamanya bekerja di Bara Kahuripan. Kalila tersenyum puas menatap bayangannya di cermin. Tak pernah ia menyangka bahwa hari ini akan kembali. Hari dimana ia bisa menginjakkan kaki lagi di perusahaan tempat ia mengabdikan dirinya dulu.
Namun ada yang berbeda kali ini. Ia tidak kembali sebagai Kinanti si keset kaki korporat. Ia datang sebagai Kalila. Kalila yang akan menjadi Direktur Utama Bara Kahuripan yang baru.
"Kamu sudah siap, Sayang?" Tanya Kalila menghampiri Darian yang sudah menunggunya sejak tadi.
Darian mengangguk.
"Akan aku tunjukkan kepada orang-orang tua itu bahwa aku bukanlah seseorang yang bisa mereka injak begitu saja. Aku, Darian Chatra Wijaya akan membuat mereka menyadari posisinya masing-masing." Geram Darian kesal.
Kalila mengelus bahu Darian lembut.
"Iya, Ian. Kamu pasti bisa melakukannya. Aku akan selalu membantumu." Ucap Kalila dengan senyumnya yang merekah.
Kalila lalu mendorong Darian keluar dari rumah mereka dan masuk ke dalam mobil. Dengan sigap, sopir pribadi Darian menyalakan mobil dan mengendarainya membelah jalanan yang ramai. Setengah jam kemudian, Kalila dan Darian tiba di tempat itu.
"Kamu sudah siap?" Tanya Kalila pada Darian.
Pria itu mengangguk. Kalila mendorong kekasihnya memasukki gedung bertingkat delapan itu. Seketika puluhan pasang mata mengarah pada keduanya. Bagaimana tidak, sudah lama Darian tidak muncul di kantor. Dan hari ini ia datang dengan kursi roda dan diiringi oleh seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Wajar saja banyak yang tertarik untuk memperhatikan mereka berdua.
"Kenapa semua orang memeperhatikan kita, Ian?" Tanya Kalila heran.
Darian tertawa kecil.
"Tentu saja. Karena kita pemilik sebenarnya kerajaan ini, Kalila." Jawab Darian dengan pongah.
Kalila mengangguk-angguk tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia langsung mendorong Darian masuk ke lift yang melesat naik ke lantai delapan. Tempat dimana RUPS darurat akan dilaksanakan. Sepersekian menit berlalu, lift berdenting. Menandakan mereka telah tiba di lantai tersebut.
Ketukan hak sepatu Kalila terdengar menggema di seluruh koridor ruangan. Ia bersama Darian berjalan dengan cepat menyusuri lorong panjang tersebut sebelum akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu kaca besar.
"Jangan takut, Kalila. Kita tidak datang untuk merebut. Kita hanya akan memepertahankan singgasana kita." Ucap Darian dengan nada angkuh.
Kalila menarik nafas dalam dan melangkah memasukki ruangan itu bersama Darian. Sontak mereka menjadi pusat perhatian dari dua puluh orang yang ada di dalam sana.
"Selamat pagi, semuanya. Apakah kedatangan saya mengejutkan kalian?" Tanya Darian dingin.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawabnya. Kesemua orang itu sibuk berbisik satu sama lain. Mungkin mempertanyakan siapa wanita yang bersama Darian itu. Dan seolah bisa membaca atmosfir di dalam ruangan tersebut, Darian berdeham keras. Membuat setiap pasang mata kembali fokus kepadanya dan Kalila.
"Perkenalkan, ini Kalila. Calon isteri saya dan pengganti saya sebagai Direktur Utama PT Bara Kahuripan yang selanjutnya."