Wanita Buronan

Wanita Buronan
Naik Gigi


__ADS_3

Sudah 3 bulan Kalila tinggal bersama Darian di istana miliknya. Namun rencananya belum berhasil juga. Eksekusi rencana balas dendamnya berjalan terlalu lama dan Kalila tidak suka itu. Kalila hampir tidak punya waktu untuk melaksanakan rencananya karena Darian selalu menempel bersamanya ketika di rumah.


Hari ini, Kalila akan menemui Niko. Ia harus bertemu dengan pria itu untuk membicarakan langkah mereka yang selanjutnya. Kalila perlu sebuah rencana hebat untuk mempercepat balas dendamnya. Ia harus segera menaikkan gigi dan menuju tujuan akhir secepatnya.


Sejak malam itu, Hanna lebih banyak mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar ketika makan saja. Tentu saja ini sangat menguntungkan bagi Kalila. Tidak ada lagi yang akan memata-matainya sepanjang hari. Jadi hari ini, tak lama setelah Darian pergi ke kantor Kalila pun pergi meninggalkan rumahnya. Ia harus menemui Niko hari ini juga.


Kalila menyetir dengan waspada. Matanya jelalatan dan mengawasi apakah ada yang mengikutinya. Setelah ia merasa semuanya aman, Kalila segera menghubungi Niko dan menentukan tempat pertemuan mereka.


Satu jam berkendara, Kalila akhirnya tiba di tempat ia akan bertemu dengan Niko. Mereka sengaja memilih sebuah kafe kecil tidak ternama yang berada di sudut Jakarta Timur. Tempat dimana mereka bisa terbebas dari pasang mata yang akan mencurigai mereka. Kalila tiba disana dan melihat sosok Niko yang sudah menunggunya.


"Hai, Niko!" Sapa Kalila kepada Niko.


Niko membalikkan tubuhnya. Bibirnya sumringah melihat sosok Kalila yang berjalan menghampirinya. Sudah berapa lama ia tidak melihat wanita ini? Tiga bulan mungkin? Sejak Kalila pindah bersama Darian, praktis Niko tidak bisa menemui wanita kesayangannya lagi. Dan itu sangat membuat Niko tersiksa dalam rasa rindunya.


"I miss you so bad, Kalila." Ucap Niko sembari memeluk Kalila.


(Aku sangat merindukanmu, Kalila.)


Kalila membalas pelukannya dengan hangat. Ia juga merindukan pria ini. Entah sejak kapan Niko mendapatkan posisi itu di hati Kalila. Tapi Kalila seringkali mendapati dirinya tanpa sadar memikirkan dan merindukan Niko.


"Aku juga, Nik." Jawab Kalila.


Kalila lalu duduk di hadapan Niko. Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan segelas kopi kepada Kalila. Kopi latte hangat kesukaannya.


"Kamu sudah memesankan minuman untukku?" Ucap Kalila tidak percaya.


Niko mengangguk.


"Dan ini kopi latte kesukaanku, Nik. Sungguh, terimakasih. Kalau kamu terus seperti ini, aku mungkin benar-benar akan jatuh cinta kepadamu." Canda Kalila.


Keduanya saling bertukar kabar sebentar. Lalu pembicaraan mereka mendadak menjadi serius. Lagipula tujuan utama mereka bertemu adalah merencanakan langkah selanjutnya dari balas dendam Kalila.


"Aku harus bagaimana, Nik? Rencana kita berjalan terlalu lambat. Aku bisa kehilangan kesabaranku karena terus menerus berakting seolah mencintai pria kejam itu." Keluh Kalila.


Niko berpikir sejenak.


"Kamu perlu sekutu, Kalila. Kamu harus punya tangan kanan yang akan membantumu di rumah itu." Balas Niko serius.


"Sekutu? Bagaimana mungkin? Siapa yang akan kujadikan sekutu? Mbak Hanna? Yang ada dia malah akan mengadukanku kepada Darian." Gerutu Hanna bingung.


"Bagaimana dengan asisten rumah tangga disana? Tampaknya Bibi itu bisa membantumu." Saran Niko.


Kalila menggeleng.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Nik. Bibi sudah bekerja begitu lama dengan Darian. Ia tidak mungkin bisa mengkhianati Darian. Selama ini kehidupannya jauh membaik karena bekerja pada Darian. Jadi Bibi juga bukan pilihan yang baik." Jelas Kalila bingung.


Keduanya lalu berpikir begitu keras. Tak ada suara lain selain bunyi mesin kopi yang terdengar halus. Tak peduli apapun yang mereka pikirkan, rasanya semua saran seperti jalan buntu. Hanya menambah masalah dan tidak berguna.


Setelah menit-menit berlalu dalam hening, akhirnya Niko dan Kalila bertatapan. Seolah mereka berdua menemukan sebuah cara yang paling tepat untuk masalah mereka. Niko mengutarakan ide cemerlangnya yang disambut dengan anggukan mantap oleh Kalila.


"Bagaimana kalau kita ganti Bibi di rumahmu?"


...****************...


Niko menelusuri jalan perkampungan yang cukup buruk. Di sisi kanan dan kirinya terbentang sawah yang sepertinya tidak ada habisnya. Ia mengunjungi desa yang menurut Kalila adalah desa tempat asisten rumah tangga mereka berasal. Kalila mengatakan bahwa putri dan cucu dari Bibi itu tinggal disini. Mereka hidup dengan mengandalkan penghasilan dari Bibi yang bekerja di rumah Darian. Dan kalau Niko tidak salah, Kalila memberitahu nama anak Bibi tersebut adalah Karmila.


Setelah bertanya kesana kemari, Niko akhirnya menemukan rumah yang ia cari. Sebuah rumah beton kecil dengan pekarangan yang tidak terlalu besar. Niko memacu mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Si empunya rumah keluar dengan raut penasaran. Ia bertanya-tanya siapa orang kaya yang mendatangi rumahnya secara mendadak itu.


"Permisi, Mbak. Maaf mengganggu. Apakah Mbak Karmila ada?" Tanya Niko pada seorang wanita muda yang menggendong seorang bayi.


Wanita muda itu tampak bingung.


"Saya Karmila, Mas. Tapi ada keperluan apa ya Mas mencari saya?" Tanya Karmila tidak mengerti. Siapa lelaki tampan dari kota yang tiba-tiba mencarinya ini?


Niko tersenyum ramah. Ia lalu mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Karmila.


"Saya Niko, Mbak. Saya mendapat kontak Mbak atas rekomendasi kenalan saya di kota. Saya ingin menawarkan pekerjaan untuk Mbak. Apakah Mbak mau?" Tawar Niko dengan ramah.


"Pekerjaan apa, Mas?" Ujar Karmila penasaran.


Karmila tampak berpikir. Ia tampak tertarik dengan tawaran Niko apalagi setelah mendengar gaji dan fasilitas yang akan diberikan kepadanya. Mungkin Karmila sudah letih terkurung di desa. Atau mungkin Karmila ingin ibunya beristirahat dan membiarkan dirinya yang bekerja saja. Bahkan tanpa diskusi alot pun Karmila tidak ragu untuk menerima tawaran itu.


"Saya mau, Mas. Kapan saya bisa mulai bekerja, Mas?" Ujar Karmila bersemangat.


Niko tersenyum penuh kemenangan.


"Secepatnya, Mbak."


...****************...


Darian baru saja pulang dari kantornya. Tubuhnya sangat lelah karena hari ini ia sangat sibuk. Ia sungguh membutuhkan pelukan dari Kalila untuk mengisi kembali baterainya.


"Kalila, kamu dimana Sayang?" Teriak Darian ketika kakinya menginjakkan rumah.


Kalila menyembulkan kepalanya dari pangkal tangga. Wajahnya sumringah melihat Darian yang sudah pulang. Ia berlari menghampiri pria itu seperti anak kecil yang senang menyambut orang favoritnya pulang.


"Ian!" Ucap Kalila manja sambil memeluk Darian.

__ADS_1


Darian mendekap wanita itu erat dalam pelukannya. Sungguh ia benar-benar sudah jatuh sejatuhnya pada Kalila. Sejam saja tidak bertemu Kalila sudah membuat pikirannya tidak dapat berkonsentrasi lagi. Ia terus menerus memikirkan Kalila sepanjang hari.


"Aku rindu sekali sama kamu, Ian." Keluh Kalila manja.


Darian tertawa. Ia lalu mengecup bibir Kalila pelan.


"Aku juga, Sayang. Kamu mau pergi jalan-jalan?" Ajak Darian dengan semangat.


Namun belum sempat Kalila menjawab, mata Darian menangkap sosok asisten rumah tangga mereka. Wanita tua itu berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah yang ragu dan bimbang.


"Ada apa, Bi?" Tanya Darian.


"Saya mau bicara sesuatu sama Mas Ian." Ucap Bibi sedikit takut.


"Soal apa Bi?" Timpal Darian tidak mengerti. Jarang sekali pembantunya ini berbicara dengannya. Jika Bibi sampai seperti ini, berarti ada hal serius yang akan dibicarakan.


"Saya mau izin istirahat dulu, Mas." Ucap Bibi pelan.


"Istirahat bagaimana, Bi?" Tanya Darian tidak mengerti.


"Saya mau berhenti kerja, Mas." Jelas Bibi lagi.


Darian tampak kaget. Bibi sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di rumahnya sejak Darian kecil. Jadi mendengarnya tiba-tiba minta berhenti sungguh mengejutkan.


"Alasannya apa Bi?" Tanya Kalila dengan nada bingung.


"Cucu saya tidak ada yang mengurus, Mas Ian, Non Kalila. Anak saya Karmila dapat pekerjaan di kota. Jadi saya harus pulang kampung untuk mengurus cucu saya." Jawab Bibi dengan sangat hati-hati.


Darian memijat kepalanya yang tidak pusing. Astaga, lalu siapa yang akan rumahnya kalau pembantunya pulang? Ia tidak mungkin meminta Kalila melakukan semuanya. Walaupun Kalila pasti tidak keberatan, namun Darian keberatan. Karena itu akan mengurangi waktunya bersama Kalila.


"Kapan Bibi mau pulang?" Tanya Darian kemudian.


"Besok, Mas." Ujar Bibi lagi.


Darian hanya mengangguk dan memberikan isyarat kepada Bibi untuk kembali ke belakang. Ia lalu duduk di kursi ruang tamu dan tak lama Kinanti juga ikut duduk di sampingnya.


"Sudah, tidak apa-apa, Ian. Aku akan mengerjakan pekerjaan rumah sampai kita menemukan ART yang baru." Ucap Kinanti sambil menyenderkan kepalanya di bahu Darian.


"Aku tidak mau, Sayang. Nanti aku tidak bisa bermanja-manja denganmu lagi karena kamu terlalu sibuk mengurusi rumah." Gerutu Darian manja.


"Lalu bagaimana?" Tanya Kinanti bingung.


"Kita akan mencari pengganti Bibi secepatnya. Kamu bisa membantuku kan, Sayang?" Pinta Darian sungguh-sungguh.

__ADS_1


Kalila mengangguk yakin. Ia tersenyum tipis pada Darian.


"Oh tentu saja, Ian. Aku bisa menemukan pengganti Bibi secepatnya."


__ADS_2