Wanita Buronan

Wanita Buronan
Misi Sukses


__ADS_3

"Kalau begitu aku pamit pulang ya, Kalila." Ucap Darian sambil menghabiskan martininya.


"Serius? Cepat sekali. Ini baru jam sepuluh, Darian." Keluh Kalila sambil pura-pura merajuk.


"Sorry, aku tidak bisa berlama-lama disini Kalila." Tutur Darian menyesal.


"Oh, istrimu menunggu di rumah ya?" Tanya Kalila.


Darian tertawa.


"Tidak. Aku belum punya istri. Hanya saja aku tidak enak dengan pekerja di rumahku yang harus membukakan gerbang tengah malam untukku." Ucap Darian berbohong.


"Really? Woah Darian, you keep making me amazed with you." Ucap Kalila terkejut.


(Serius? Wah Darian, kau semakin membuatku kagum denganmu).


"Ah, aku sudah terbiasa untuk tidak merepotkan orang, Kalila. Oh iya, bisakah aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Darian tiba-tiba.


"Meminta apa?" Balas Kalila.


"Bisakah kamu memanggilku Ian saja? Tidak ada alasan khusus, hanya agar kita bisa lebih akrab saja." Ucap Darian.


"Okay, bukan masalah, Ian." Ujar Kalila setuju.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Aku benar-benar harus pulang." Kata Darian sembari keluar dari apartemen Kalila.


Kalila mengangguk dan ikut mengantarnya sampai ke pintu. Gadis itu lalu memeluk Darian erat yang membuat Darian sedikit kaget dengan keberanian Kalila.


"Sampai berjumpa lagi, Ian." Ucap Kalila santai.


Darian sedikit salah tingkah karena aksi Kalila barusan. Ia lalu mengerjapkan matanya beberapa kali dan kembali menghadap ke arah Kalila.


"Ya, tentu saja. Aku akan segera menghubungimu saat sampai di rumah, Kalila."


...****************...

__ADS_1


Kalila tertawa puas. Ia melihat bagaimana Darian percaya dengan topeng barunya. Betapa Darian tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Kalila yang baru ia temui dua kali.


"Ternyata mudah sekali menaklukanmu, Ian. Seingatku dulu, jangankan mencintai, menoleh ke arah Kinanti pun kau enggan. Tapi sekarang kau tampak seperti orang yang sangat berbeda di depan Kalila." Gumam Kalila seraya menatap bayangannya di cermin.


Bagaimana tidak? Perlakuan Darian pada Kalila sangatlah berbeda dengan perlakuannya pada Kinanti. Bagi Kalila, Darian sangat tampak seperti orang yang mencoba mengambil hati Kalila. Kalila dapat melihat dengan jelas kepalsuan yang ia ciptakan untuk memikat Kalila. Darian bahkan rela berbohong tentang statusnya demi Kalila.


"Dan katamu kamu belum punya istri. Astaga, Darian! Lalu Hanna itu apa kalau bukan isterimu?" Ujar Kalila lagi kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar Kalila dibuka oleh seseorang. Niko datang dan masuk ke dalam kamarnya. Senyumnya sumringah melihat Kalila.


"Bagaimana rencana pertamamu?" Tanya Niko penasaran.


"Mulus, Nik. Tentu saja. Aku tahu segala sesuatu tentang Darian. Menaklukannya bukanlah hal yang sulit jika aku bisa tampak lebih cantik daripada Hanna." Ujar Kalila sembari menyisir rambutnya.


"Kamu harus berhati-hati, Kalila. Darian tidak seceroboh itu. Dan Hanna mungkin tidak akan membiarkanmu hidup jika dia tahu kamu sedang mendekati Darian." Nasihat Niko pada Kalila.


"Tenang saja, Nik. Aku sudah mati satu kali. Ancaman apapun tidak akan mampu membuatku mundur lagi." Balas Kalila.


Gadis itu lalu berjalan ke arah tepi ranjangnya. Ia duduk di sebelah Niko yang sudah terlebih dulu duduk disana.


"Ngomong-ngomong, darimana kamu bisa membeli apartemen mewah ini?" Ujar Niko penasaran.


"Untungnya aku cukup pintar untuk menyembunyikan semua ini dari Darian." Sambung Kalila lagi.


Niko menatap Kalila lamat-lamat. Gadis itu menoleh karena merasa ada yang memperhatikannya. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Entah karena suasana yang semakin malam atau karena Niko yang sedari awal sudah jatuh cinta pada Kalila, Niko mendekatkan wajahnya kepada wanita itu.


Kalila menutup matanya. Ia tahu akan kemana arahnya. Dalam sepersekian detik, bibir Niko mendarat lembut di bibir Kalila. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. Kalila balas menciumnya dengan sama lembutnya. Ia melingkarkan tangannya di leher Niko. Keduanya menikmati ciuman mereka yang romantis.


Namun tiba-tiba kelebatan masa lalu kembali menghinggapi memori Kalila. Ia teringat bagaimana Darian dulu menyentuhnya. Menjamahnya. Memperlakukannya seperti sebuah boneka pemuas nafsu. Dan kemudian mengkhianatinya. Menjebaknya dengan begitu kejam. Semua potongan masa lalu itu bermunculan secara bersamaan dan membuat Kalila sesak nafas. Ia dengan buru-buru melepaskan bibirnya dari Niko.


"Kenapa Kalila? Apakah aku melukaimu?" Tanya Niko bingung.


Kalila menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia memijat keningnya berharap dapat meredakan nyerinya sedikit.


"Bukan, bukan itu, Niko. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Maaf." Ucap Kalila beranjak pergi meninggalkan Niko.

__ADS_1


Niko khawatir dengan gadis itu. Ia mengejar Kalila dan memegang tangannya pelan. Kalila menoleh. Niko terkejut melihat mata Kalila yang merah dan berlinang air mata. Niko segera merengkuh Kalila dalam pelukannya. Ia merasa bersalah. Ia tidak sadar jika ciuman singkat itu dapat membangkitkan berjuta kenangan buruk yang Kalila coba kubur rapat-rapat.


"Maafkan aku, Kalila. Sungguh, aku tidak bermaksud melukaimu." Ucap Niko penuh sesal. Tangannya mengelus kepala Kalila, berharap bisa menenangkan gadis itu.


Kalila menangis tersedu dalam pelukan Niko. Ia kira masa lalunya sudah lama meninggalkannya. Tapi Kalila tidak pernah menyangka bahwa satu momen intim singkat akan membuat semua memori menyakitkan itu kembali. Bahkan rasanya luka lama itu kembali terbuka dan menganga.


Hanya tangisan Kalila yang terdengar memenuhi apartemen itu. Tangisan pilu yang menunjukkan betapa sakit hati yang dirasakan. Betapa dalam luka yang ditorehkan. Dan betapa berat bagi Kalila untuk memulai kehidupan yang baru dan membalaskan dendamnya.


...****************...


Darian membuka pintu rumahnya dan ia mendapati istrinya, Hanna, menunggunya di ruang tamu. Wajah Hanna tampak tidak senang karena Darian yang pulang terlambat.


"Kamu darimana saja, Sayang? Kenapa kamu baru pulang selarut ini." Tanya Hanna. Tangannya terlipat di depan dadanya seolah menunggu penjelasan.


"Larut? Ini baru jam sebelas Hanna, jangan terlalu berlebihan. Aku mohon." Ucap Darian mengacuhkan Hanna.


"Berlebihan? Biasanya kamu selalu pulang paling lambat pukul 9 malam, Sayang. Karena itu aku bertanya mengapa kamu terlambat malam ini?" Balas Hanna dengan nada tidak senang.


"Aku sibuk hari ini. Aku harus rapat sampai larut malam. Sudahlah hentikan omelanmu. Aku sangat lelah sekarang." Bentak Darian.


Darian langsung naik ke kamarnya dan disusul oleh Hanna yang mengikutinya. Hanna bertanya-tanya kemana suaminya pergi hingga pulang selarut ini. Namun Hanna takut menanyakannya langsung pada Darian. Ia takut mendengarkan kebenaran yang keluar dari mulut suaminya.


Hey, Kalila. Ini aku, Darian. Aku ingin memberitahumu kalau aku sudah sampai di rumah. Terimakasih ya untuk martininya tadi.


Darian tersenyum sembari mengetik pesan itu. Ia lalu mengirimkan pesan itu pada Kalila. Tak lama kemudian, pesan balasan dari Kalila masuk.


Wah, aku kira kamu sudah melupakanku. Ian. Oh tentu saja, itu bukan sebuah jamuan yang besar. Kamu tidak perlu berterimakasih hanya karena segelas martini. Aku akan menjamumu dengan sesuatu yang lebih baik lain kali.


Darian makin sumringah membaca balasan dari Kalila. Pikirannya sudah merencanakan berbagai macam skenario untuk kembali menemui Kalila. Ia mengetikkan balasan untuk Kalila lagi.


Serius? Wah, aku akan sangat menunggunya, Kalila. Kabari aku secepatnya kapan jamuan selanjutnya akan dilakukan.


Hanna heran melihat suaminya yang tampak tersenyum sembari memainkan ponselnya. Aneh. Darian tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya.


"Dengan siapa kamu berkirim pesan?" Tanya Hanna datar.

__ADS_1


"Hanya temanku." Jawab Darian singkat.


Meskipun Darian menjawabnya seperti itu, pikiran Hanna tetap saja tidak tenang. Ia yakin ada hal yang disembunyikan Darian darinya. Dan Hanna akan mencari tahu tentang itu.


__ADS_2