
Kalila menutup pintu apartemennya ketika ia melihat Darian yang sudah masuk ke dalam lift gedung apartemennya. Kalila lalu duduk di sofa ruang tamunya sembari meminum segelas kopi yang ia baru saja ia buat. Tak lama kemudian, pintu apartemennya dibuka. Niko masuk ke apartemennya dengan senyum sumringah. Seolah bisa menebak bahwa sesuatu yang baik baru saja terjadi.
"Bagaimana rencanamu hari ini?" Tanya Niko sembari duduk di samping Kalila.
Kalila tertawa bahagia bahkan sebelum ia menceritakan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Ada apa? Sesuatu yang bagus terjadi?" Tanya Niko penasaran.
Kalila beranjak masuk ke kamarnya dan keluar lagi membawa sebuah tas baru. Tas yang baru saja dibelikan Darian untuknya.
"Darian benar-benar sudah jatuh dalam genggamanku, Nik. Lihat apa yang dia belikan untukku tadi siang. Ia membelikan tas dua ratus juta ini untukku tanpa berpikir dua kali!" Seru Kalila antusias.
Niko melongok seolah tidak percaya. Ia tahu Darian memang selalu loyal pada wanitanya, tapi ia tidak pernah menyangka pria kejam itu akan seloyal ini. Terlebih pada Kalila yang baru ditemuinya beberapa kali.
"Wah! Luar biasa Darian! Aku harus belajar banyak dari dia!" Seru Niko kagum.
Kalila tertawa. Ia lalu kembali duduk di sisi Niko sembari menyalakan televisi di hadapannya.
"Kamu tidak perlu melakukannya, Nik. Tidak semua wanita silau dengan kemewahan." Ujar Kalila tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Kali ini Niko yang tertawa.
"Tapi rata-rata semua wanita suka dengan barang mewah, Kalila." Ujar Niko seraya ikut memperhatikan film yang sedang ditonton Kalila.
"Kalau begitu kamu harus mencari seseorang yang tidak seperti itu, Nik. Seseorang yang benar-benar mencintaimu dan bukannya hartamu." Ucap Kalila seolah menasihati Niko.
Dan orang itu adalah kamu. Niko membatin di dalam hati.
Lalu seolah teringat sesuatu, Kalila memutar tubuhnya menghadap ke arah Niko. Niko yang kaget refleks ikut menghadap ke arah wanita yang duduk disampingnya.
"Ngomong-ngomong, tolong sampaikan terimakasihku untuk temanmu yang sudah meminjamkan kantornya padaku. Kalau tidak ada dia, mungkin rencanaku untuk merebut hati Darian masih jauh dari kata sukses." Kata Kalila.
"Ah! Jadi itu kunci rahasia kesuksesanmu hari ini? Karena kantor itu?" Tanya Niko.
Kalila mengangguk dan memutar kembali tubuhnya menghadap televisi.
"Iya, begitulah. Sejak dulu Darian sangat suka wanita yang sukses. Karena ia yakin hanya wanita seperti itu yang bisa mengimbangi gaya hidupnya. Dan kamu lihat hasilnya kan, Nik? Dia sudah benar-benar jatuh dalam perangkapku." Tutur Kalila.
__ADS_1
"Baiklah, akan kusampaikan terimakasihmu kepada temanku." Ujar Niko.
Saat Kalila dan Niko tengah asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang keras dari arah pintu apartemen Kalila. Ketukan itu terdengar cepat seperti yang mengetuk sedang sangat marah. Kalila bertatapan dengan Niko karena bingung siapa yang datang ke apartemennya dalam keadaan emosi seperti itu.
Kalila berjalan ke arah pintu dan melihat melalui lubang intipnya. Betapa kagetnya Kalila ketika ia melihat Hanna berdiri disana. Wajahnya tampak marah dan siap menyemburkan api dari mulutnya.
"Siapa?" Tanya Niko pelan.
"Hanna." Jawab Kalila sama pelannya.
"Kenapa dia datang kesini?" Tanya Niko lagi.
Kalila mengedikkan bahunya karena ia juga tidak tahu apa tujuan wanita itu datang ke apartemennya sekarang. Ia lalu mengisyaratkan Niko untuk segera bersembunyi. Dan Niko menurutinya tanpa bertanya dua kali. Ia berlari ke kamar Kalila dan bersembunyi di dalamnya sementara Kalila membuka pintu dan menyambut tamunya yang marah.
"Hei! Who are you and what brings you here?" Kata Kalila pura-pura tidak mengenal Hanna.
(Hei, siapa kamu dan apa urusanmu datang kemari.)
Tapi seolah telah kehilangan akal sehatnya karena cemburu, Hanna langsung melayangkan tamparannya ke wajah Kalila. Tamparan itu mendarat mulus di pipi Kalila dan meninggalkan bekas kemerahan.
"Hei! Apa-apaan ini? Siapa kamu berani menamparku?!" Seru Kalila tidak terima.
"Suamimu? Aku bahkan tidak mengenalmu bagaimana bisa aku mendekati suamimu, wanita gila!" Balas Kalila.
"Kamu tidak usah pura-pura bodoh! Aku tahu kamu habis berkencan seharian dengan suamiku! Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri!" Bentak Hanna.
Kalila tampak berusaha mengingat-ingat sesuatu. Ia lalu tampak kaget ketika mengingat pria yang dimaksud wanita di hadapannya ini.
"Maksudmu Darian?" Tanya Kalila dengan nada tidak percaya.
"Iya! Darian adalah suamiku dan aku adalah istri Darian!" Ujar Hanna dengan emosi.
"Astaga, sungguh aku tidak tahu kalau Darian sudah beristri. Dia bilang kepadaku kalau dia masih single dan belum punya pasangan!" Ucap Kalila penuh sesal.
"Mana mungkin! Tidak mungkin Darian bilang kalau dia belum beristri! Itu pasti akal-akalan wanita busuk sepertimu agar bisa merebut suami orang, kan?!" Bentak Hanna lagi.
"Terserah kamu mau percaya padaku atau tidak. Tapi aku benar-benar tidak tahu menahu soal Darian yang sudah beristri. Kalau aku tahu, aku tidak mungkin mendekatinya. Aku juga tidak suka merebut barang milik orang lain." Ujar Kalila berusaha meyakinkan Hanna.
__ADS_1
Emosi Hanna perlahan mereda. Nafasnya yang semula menggebu-gebu kini mulai teratur setelah mendengar kata-kata Kalila.
"Maksudmu? Kamu benar-benar tidak tahu kalau Darian sudah beristri?" Tanya Hanna sekali lagi.
Kalila mengangguk.
"Kamu bisa tanyakan langsung pada suamimu. Darian benar-benar bilang kepadaku kalau ia belum memiliki istri." Jawab Kalila.
"Sekarang kamu sudah tahu kan aku adalah istrinya Darian? Aku minta sekarang kamu menjauh dari hidup kami. Jangan pernah berani untuk merusak hubungan kami atau kamu akan tahu akibatnya, Kalila." Ancam Hanna kepada Kalila.
"Tenang saja, Hanna. Sudah aku katakan kalau aku tidak pernah menyukai barang orang lain. Aku berjanji akan menjauh dari Darian."
Hanna mengangguk puas. Ternyata perempuan bernama Kalila ini tidak ada apa-apanya. Baru diancam sedikit saja ia sudah gentar dan mundur. Hanna harus memberitahukan kepada gadis ini bahwa tidak ada yang bisa merebut Darian darinya. Jika Kinanti yang istri sahnya saja bisa ia singkirkan, apalagi sekedar Kalila yang baru ditemui Darian beberapa kali. Hanna percaya ia mampu menyingkirkan wanita ini dan menjaga rumah tangganya dengan Darian.
...****************...
"Sialan! Bagaimana bisa Hanna tahu kamu sedang mendekati Darian?" Tanya Niko panik saat keluar dari persembunyiannya.
Kalila hanya tertawa kecil. Seorang Hanna bukanlah masalah baginya. Malah Kalila akan memanfaatkan insiden hari ini untuk keuntungannya.
"Dia mengikutiku dan Darian sejak pagi, Niko. Karena itu Hanna bisa tahu tentang hubunganku dengan Darian serta dimana aku tinggal." Jelas Kalila seolah tidak merasa takut sedikitpun.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Hanna sudah mengancammu untuk menjauhi Darian kan?" Tanya Niko khawatir.
"Jangan takut, Niko. Aku akan memanfaatkan semua ini untuk keuntungan kita. Aku akan membuat Darian sendiri yang akan membelaku dari Hanna. Dan Hanna harus menerimaku, suka atau tidak." Ucap Kalila sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku mohon berhati-hatilah, Kalila. Hanna bukan wanita biasa. Ia bisa menjadi sangat berbahaya jika itu berkaitan dengan Darian." Niko mengingatkan Kalila.
Kalila menatap Niko lurus dan meletakkan kedua tangannya di bahu Niko. Jantung Niko menjadi berdebar sedikit kencang karenanya.
"Jangan khawatir, Nik. Aku berjanji aku tidak akan terluka." Kata Kalila meyakinkan Niko.
Kalila lalu mengetikkan sebuah pesan di ponselnya yang membuat Niko bertanya-tanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Niko penasaran.
Kalila tersenyum penuh arti kepada Niko.
__ADS_1
"Ini serangan keduaku."