
Kalila mendengarkan dengan saksama penjelasan dokter yang menangani Darian. Sementara Darian hanya dapat mengamatinya sambil terbaring di ranjangnya. Entah apa yang mereka bicarakan namun Darian sungguh penasaran.
Beberapa menit kemudian, Kalila dan dokter itu masuk ke dalam ruangan tempat Darian dirawat. Darian menatap keduanya dengan wajah penasaran.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Darian bingung.
"Kita akan ke ruang fisioterapi, Ian. Dokter akan memeriksa sarafmu dan memastikan penyembuhanmu." Jawab Kalila sembari tersenyum lembut.
Darian mengangguk setuju. Dengan bantuan dua orang perawat pria, Darian berhasil dipindahkan ke kursi roda dalam sekali percobaan. Kalila lalu meminta kepada kedua perawat itu agar mereka membiarkan Kalila untuk mendorong kursi roda Darian. Kedua perawat itu mengangguk dan berjalan meninggalkan Kalila dan Darian.
"Bagaimana perasaanmu hari ini, Ian?" Tanya Kalila sembari mendorong Darian perlahan.
"Entahlah, Sayang. Aku terjebak di kursi roda ini jadi perasaanku cukup buruk. Tapi sejak aku sakit, kamu jadi begitu memanjakanku sehingga rasanya aku mulai mencintai rasa sakitku." Canda Darian pada Kalila.
Kalila tertawa renyah. Beberapa menit kemudian mereka tiba di ruang fisioterapi dimana para dokter akan memeriksakan saraf Darian. Khususnya saraf di tubuh bagian bawahnya.
Begitu Kalila mendorong Darian masuk ke dalam, Kalila dapat merasakan tubuh Darian yang seketika menegang. Wanita itu lalu berjalan ke depan Darian dan berjongkok menghadapnya. Kalila meraih sebelah tangan Darian dan menggenggamnya erat. Tangan itu terasa dingin sekali. Pasti sekarang Darian merasa sangat gugup.
"Kamu takut, Ian?" Tanya Kalila lembut.
Darian mengangguk pelan.
"Jangan takut, Ianku Sayang. Semua dokter disini akan membantumu agar cepat sembuh. Lagipula kamu memiliki aku disini, Ian." Bujuk Kalila penuh kasih sayang.
Darian menatap Kalila tulus. Sebenarnya bukanlah dokter yang ditakutkan oleh Darian. Ketakutannya adalah mengetahui diagnosis yang diberikan dokter. Ia takut mengetahui apa yang ia tengah alami dan apakah ia bisa sembuh kembali atau tidak.
Kedua perawat yang tadi membantu Kalila dengan sigap mendorong kursi roda Darian ke salah satu ranjang pasien. Seorang dokter sudah menunggunya disana. Dokter muda itu adalah fisioterapis yang bertugas pada Darian. Pria muda itu tersenyum ramah kepada Darian.
"Selamat pagi, Pak Darian. Bagaimana keadaan Bapak hari ini?" Tanya dokter itu ramah.
"Baik, Dok. Tolong segera mulai tesnya, Dok. Saya tidak betah lama-lama disini." Jawab Darian gugup.
Dokter muda itu tertawa. Ia lalu mengangguk dan segera melaksanakan serangkaian tes pada Darian. Tidak jauh dari keduanya, Kalila berdiri dan mengamatinya dengan saksama. Ia harus tahu benar hasil tes Darian. Karena rencana selanjutnya sepenuhnya bergantung pada kondisi Darian.
__ADS_1
Semoga yang terburuk menyertaimu, Ian.
...****************...
Doker muda itu mengajak Kalila untuk masuk ke ruangannya. Menimbang dari rautnya, tampaknya ada hal serius yang harus ia bicarakan dengan Kalila. Wanita itu kembali membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Darian.
"Tunggu sebentar, Ian. Aku harus berdiskusi dengan dokter tentang kondisimu." Ucap Kalila lembut.
Darian tampak keberatan dengan Kalila yang akan hanya akan berdua bersama dokter muda itu. Darian memang pria pencemburu akut. Siapapun sudah mengakuinya. Jadi wajar kalau ia tidak pernah suka wanitanya dekat dengan lawan jenis selain dirinya.
"Aku tidak akan bermain api dengannya, Ian Sayang. Kamu tahu benar kalau aku ini hanya milikmu. Kumohon jangan cemburu, oke?" Pinta Kalila dengan mata memohon.
Akhirnya Darian luluh di bawah mata indah itu. Ia mengangguk pelan dan Kalila langsung memeluk Darian erat. Kalila lalu beranjak berdiri dan masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam ruangan, sang dokter muda sudah duduk sembari membaca laporan milik Darian. Wajahnya tampak sangat serius sembari jemarinya sibuk membolak balik setiap halaman. Tidak salah lagi, pasti ada yang tidak beres.
"Maaf dokter, apakah Dokter ingin berbicara dengan saya?" Tanya Kalila sopan.
Dokter muda itu mengangguk. Ia lalu menunjukkan laporan hasil tes Darian kepada Kalila.
"Ini hasil tes dari Pak Darian, Bu. Kami sudah melakukan banyak tes mulai dari pijat palpasi, EMG, dan bahkan lumbal fungsi. Namun hasilnya sungguh buruk." Ucap Dokter tersebut penuh sesal.
"Maksudnya, Dok?"
Dokter itu lalu menunjuk ke sebaris kolom di sebuah tabel. Isinya memperlihatkan skor tes fisik Darian.
"Ibu lihat hasil tes Pak Darian disini? Semua hasilnya menunjukkan angka nol. Dan Ibu tahu apa artinya?" Tanya Dokter muda itu.
Kalila menggeleng.
"Nol berarti sama sekali tidak ada kontraksi otot di bagian bawah Pak Darian, Bu. Dengan kata lain, Pak Darian benar-benar mengalami kelumpuhan permanen." Ujar Dokter itu dengan berat hati.
Kalila tak percaya itu. Ia begitu kaget hingga mulutnya menganga. Kalila menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang lain.
"Astaga, bagaimana saya harus mengatakan ini pada Darian, Dok? Apakah tidak ada kemungkinan bagi Darian untuk sembuh, Dok? Berapapun biayanya kami siap membayar, Dok." Ucap Kalila sungguh-sungguh.
__ADS_1
Dokter itu menghela nafas pelan.
"Walaupun ada, kemungkinan itu sangat kecil sekali, Bu. Karena kerusakan utama ada di tulang belakang Pak Darian. Dan itu butuh proses yang sangat panjang, Bu."
Darian melihat Kalila yang tampak lesu dengan bingung. Tepat setelah Kalila keluar dari ruangan dokter tadi, ekspresi mukanya tampak tidak bersemangat. Kekasihnya itu hanya duduk dan melamun di dekat Darian.
"Sayang, ada apa? Apa kata dokter?" Tanya Darian pelan sembari menyentuh tangan Kalila.
Bagaikan tersentak dari lamunannya, Kalila menoleh dan tersenyum kikuk pada Darian.
"Ah, tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya sedang banyak pikiran saja." Jawab Kalila berbohong."
Darian menggenggam tangan Kalila dan menatapnya serius.
"Katakan padaku, apa yang dikatakan dokter sebenarnya? Kenapa kamu tampak sangat terpukul?"
Kalila menghela nafas pelan. Lalu tangisnya pecah. Wanita itu langsung menghambur memeluk kekasihnya yang bingung.
"Dokter bilang kamu mengalami kelumpuhan permanen, Ian." Ucap Kalila sambil menangis.
Darian melongo. Bagaikan mendengar petir di siang bolong ia mengetahui fakta itu. Fakta bahwa mungkin selama sisa hidupnya ia akan berada di kursi roda sialan itu. Dan semua ini karena kecelakaan hari itu.
Darian mengepalkan tinjunya dengan geram. Ia sepenuhnya menyalahkan Hanna atas semua ini. Kalau Hanna tidak berulah seperti itu, mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Dan Darian masih akan hidup seperti semula.
"Hanna..." desis Darian kesal.
Kalila lalu melepaskan pelukannya dan menatap Darian dengan penuh kasih sayang. Ia menyeka air matanya dengan sembrono dan kedua tangannya menangkup wajah Darian yang tampak tercengang.
"Tapi dokter bilang masih ada harapan, Sayang. Kamu masih bisa sembuh dengan terapi yang rutin. Kita jangan menyerah dulu, ya. Please?" Pinta Kalila tulus.
Darian mengangguk pelan. Emosinya terlalu membumbung tinggi saat ini. Jika bukan karena air mata Kalila, mungkin Darian sudah akan mengacaukan rumah sakit ini. Tapi air mata kekasihnya itu meluluhkan semua amarahnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ian. Tidak peduli bagaimanapun keadaanmu." Ucap Kalila sambil memeluk Darian.
__ADS_1
Darian sangat tersentuh dengan ketulusan cinta kekasihnya itu. Namun yang tidak ia ketahui adalah di balik punggungnya, Kalila tengah tersenyum sangat lebar. Hatinya melonjak girang karena permainan baru saja menjadi lebih menyenangkan.
Bagaimana rasanya menjadi tidak berdaya, Ian Sayang?