
Kinanti berteriak kesakitan. Ia mengerang sambil memegang perutnya yang nyeri sedari tadi. Rasanya seperti ususnya mau pecah. Para sipir takut kejadian yang kemarin menimpa Kinanti terulang lagi dan bisa-bisa mereka terkena sanksi apabila lalai mengawasi para tahanan. Dengan sigap mereka membawa Kinanti ke klinik penjara. Bu Manisah membuntuti dengan panik di belakangnya.
"Permisi dokter Niko. Tahanan Kinanti Anindira mengalami sakit perut yang tampaknya sangat parah. Tolong segera ditangani, Dok." Ucap salah seorang sipir kepada Niko.
Niko tampak panik. Ia segera memerintahkan para sipir membopong Kinanti ke dalam klinik dan memeriksanya.
"Saya mohon agar Anda untuk tetap di luar agar saya dapat memeriksa pasien dengan seksama." Ujar Niko lalu menutup pintu klinik.
Para sipir terlihat berjaga di luar ruangan klinik. Beberapa di antaranya tampak khawatir dengan keadaan Kinanti. Satu dua orang tampak lebih takut mendapatkan sanksi karena terdapat tahanan yanv kolaps dalam shift mereka. Tiba-tiba Niko berteriak dari dalam ruangan. Membuat para sipir bubar barisan dan masuk ke dalam klinik.
"Ada masalah apa dokter?" Tanya salah satu sipir bingung.
"Saudari Kinanti harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang. Terdapat penyumbatan pembuluh darah menuju jantungnya dan saya tidak bisa menangani itu semua disini. Kinanti harus dibawa ke rumah sakit sebelum semuanya menjadi fatal!" Titah Niko dengan tegas.
Para sipir bergerak dengan kecepatan seribu kaki. Jika Kinanti sampai tewas di dalam shift mereka, para sipir benar-benar dalam masalah. Potong gaji hanya akan menjadi sanksi terkecil bagi mereka. Kemungkinan salah satu dari mereka akan kehilangan jabatannya sebagai kambing hitam atas kelalaian yang dilakukan. Dan tidak ada yang mau itu terjadi.
Hanya butuh waktu beberapa menit, mobil untuk mengangkut Kinanti ke rumah sakit sudah dipersiapkan. Salah seorang sipir pria mengendarainya dengan lihai. Tak perlu waktu lama, Kinanti sudah tiba di rumah sakit bersama Niko dan Bu Manisah. Niko mendorong kursi roda yang membawa Kinanti ke unit gawat darurat. Meminta Kinanti mendapatkan penanganan yang tepat secepatnya.
"Suster, tolong pasien saya! Pembuluh darahnya tersumbat dan nyawanya dalam bahaya!" Seru Niko panik. Rasa takut menelannya bulat-bulat.
Beberapa suster dan seorang dokter jaga bergegas memeriksa Kinanti. Mereka bolak balik melakukan tes dan prosedur pengobatan tapi Kinanti tetap mengerang kesakitan. Hingga akhirnya nafas Kinanti tampak tercekat. Kinanti menarik nafasnya dengan sangat sakit. Satu tarikan. Dua tarikan. Tiga tarikan.
Tiitttttt.....
Mesin EKG mengeluarkan garis lurus. Pertanda jantung Kinanti sudah berhenti berdetak. Para suster saling menatap dan kemudian dokter yang bertugas menggelengkan kepalanya.
Dua orang sipir yang mengikuti mereka terduduk lemas. Salah seorang tahanan benar-benar tewas di bawah pengawasan mereka. Apa yang harus mereka katakan kepada kepala sipir? Haruskah mereka jujur mengatakan jika mereka telah lalai? Itu sama saja dengan bunuh diri. Kedua sipir itu saling tatap. Bingung menyelimuti kepala mereka.
"Mohon maaf, Pak. Saudara Kinanti tidak bisa kami selamatkan." Ucap dokter yang bertugas dengan penuh penyesalan.
Bu Manisah terduduk lemas. Air matanya merembes. Wanita itu sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Dan sekarang ia melihat Kinanti kehilangan nyawa di hadapannya. Bu Manisah merasa gagal lagi. Ia gagal menyelamatkan putrinya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Bu Manisah hanya dapat berteriak memanggil nama Kinanti di sela tangisnya.
"Kinanti!"
...****************...
Ponsel Darian berbunyi. Darian merasa heran siapa yang berani menghubunginya selarut ini? Siapapun itu telah mengganggu nikmatnya permainan yang tengah ia lakukan dengan istri barunya, Hanna.
"Sialan! Siapa ini?!" Umpat Darian kesal.
"Maaf, Pak. Saya Adnan, kepala Lapas Perempuan tempat Ibu Kinanti ditahan." Ucap si penelepon dengan gugup.
"Oh iya, ada apa? Berani-beraninya kamu menelepon saya malam-malam begini!" Seru Darian kesal.
"Saya ingin menyampaikan kabar penting, Pak." Jawab Adnan si kepala lapas.
"Kabar sepenting apa yang sampai mengharuskan kamu menelepon saya selarut ini, Pak Adnan?!" Darian masih membalasnya dengan emosi.
"Ada apa dengan Kinanti?" Tanya Darian penasaran. Hanna yang mendengar nama Kinanti juga merasa tertarik dengan percakapan suaminya.
"Bu Kinanti meninggal dunia karena serangan jantung semalam, Pak." Ucap Adnan perlahan.
Darian sumringah mendengar kabar itu. Ia tidak bisa menahan rasa bahagianya karena telah menyingkirkan Kinanti selamanya. Tawanya menggelegar di tengah malam yang larut.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Hanna bingung.
Darian mengecup bibir Hanna dengan senang.
"Kinanti sudah tewas, Sayang! Kerja Niko bagus sekali dalam melenyapkan Kinanti!" Seru Darian senang.
Hanna juga tak kalah senangnya mendengar berita itu. Akhirnya rencana mereka untuk sepenuhnya menguasai Bara Kahuripan sudah selesai. Pion terakhir sudah tumbang hanya dengan sekali libas. Memang Niko adalah pilihan paling tepat. Tidak salah jika Hanna menyarankan Darian untuk menggunakan Niko sebagai ujung tombaknya. Niko berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dan Kinanti sudah lenyap selamanya.
__ADS_1
...****************...
Kinanti terbangun. Matanya terbuka tapi ia tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap dan terasa dingin. Mungkinkah ia benar-benar sudah tewas? Kinanti meraba-raba tubuhnya dan ia yakin ia belum tewas. Tiba-tiba terdengar ketukan dari arah luar. Pintu kecil di atas kepalanya terbuka dan Kinanti seperti ditarik keluar oleh seseorang.
Kinanti membuka matanya dan melihat Niko serta Bu Manisah berdiri di dekatnya. Menatapnya dari atas dengan senyum yang sumringah.
"Selamat datang di kehidupan keduamu, Kinan." Sambut Niko dengan senyum yang lebar.
Wanita itu terlonjak kaget. Kinanti duduk dan melihat sekelilingnya. Rupanya tadi ia terkurung dalam lemari pendingin mayat di ruang jenazah. Sialan! Telat sedikit saja Kinanti bisa mati kedinginan. Untungnya Niko dan Bu Manisah datang tepat waktu.
"Ayo cepat berdiri. Kita tidak bisa berlama-lama disini." Perintah Niko.
Niko segera memberi Kinanti satu stel pakaian untuk ia kenakan. Mereka bertiga lalu mengendap keluar dari ruang jenazah tempat Kinanti dinyatakan meninggal dunia. Seorang pria tampak menunggu di dekat pintu belakang rumah sakit. Niko tersenyum kepadanya dan memberikan sebuah amplop berwarna putih yang tampaknya berisi beberapa lembar ratusan ribu.
"Saya mohon semua ini tetap menjadi rahasia, Pak. Bapak bisa kan mengatur semuanya?" Pinta Niko serius.
Pria itu tersenyum sembari menerima amplop yang diberikan Niko.
"Tenang saja, Mas Niko. Urusan seperti ini sih kecil. Saya titip pesan yang baik saja ke Bapak, ya." Balas pria itu sambil tersenyum penuh harap.
Niko tersenyum.
"Tenang saja, Pak. Nanti saya akan bilang ke Papa untuk menaikkan jabatan Bapak."
Pria itu dengan cepat membuka gerbang belakang rumah sakit yang sudah tertutup semak belukar. Kinanti, Niko, dan Bu Manisah berlari melewatinya. Kinanti bingung dan menghentikan langkahnya setelah ia merasa berada dalam jarak yang cukup aman.
"Kita mau kemana, Niko?" Tanya Kinanti tidak mengerti.
Niko meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya dengan kedua belah tangannya.
"Ke kehidupan barumu, Kinanti."
__ADS_1