Wanita Buronan

Wanita Buronan
Serangan Pertama


__ADS_3

Hanna benar-benar merasa tidak betah di rumahnya sendiri. Ternyata ini yang dikatakan Darian bahwa ia akan membawa neraka dunia kepada Hanna. Semenjak kedatangan Kalila di rumah mereka, hidup Hanna persis berubah seperti hidup di neraka. Ia terus menerus terbakar api cemburu melihat keromantisan Darian dan Kalila. Darian sangat mementingkan Kalila dan selalu mengesampingkan Hanna yang merupakan istri sahnya.


Setiap malam, Darian hanya akan bersama dengan Kalila. Keesokan paginya Darian akam sarapan bersama Kalila dan langsung pergi ke kantor. Sepulang dari kantor pun Darian akan langsung mencari Kalila dan bukannya Hanna. Dan setiap malam pula, Hanna hanya dapat mendengarkan dari pintu kamar Darian. Suara ******* pelan kedua insan yang sedang bercinta dengan begitu hebatnya. Sementara Hanna sendiri terkungkung sepi.


"Darian, aku bisa bicara sebentar denganmu?" Tanya Hanna suatu sore.


Darian baru saja pulang dari kantor dan hanya menatap Hanna dingin.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" Ucap Darian datar.


"Bisakah setidaknya kamu duduk disini dan mendengarkanku dengan serius?" Seru Hanna.


Darian berdecak kesal. Wanita ini memang tidak tahu diri dan selalu menuntutnya.


"Astaga, apa yang mau kamu bicarakan? Cukup katakan saja sekarang dan aku bisa kembali menemui Kalila!" Bentak Darian kepada Hanna.


"Kalila lagi! Kalila lagi! Apakah hanya Kalila yang ada di pikiranmu sekarang?! Jangan lupa, aku adalah istri sahmu Darian! Aku yang berhak atas semua ini dan bukan wanita murahan itu!" Teriak Hanna.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Hanna. Darian tanpa ragu melayangkan tangannya ke pipi yang dulu selalu ia cium dan elus. Hanna terhenyak. Ia memegang pipinya yang masih terasa panas.


"Jika kamu berani mengatakan hal buruk lagi soal Kalila, maka bukan hanya tamparan yang mengenai wajahmu. Mungkin sesuatu yang lebih buruk dan akan menghancurkan wajah cantik yang selalu kamu banggakan itu, Hanna!" Ancam Darian kepada Hanna.


Namun Hanna tak mundur selangkah pun. Ia menatap Darian dengan berapi-api.


"Sebenarnya apa yang kamu mau, Hanna?" Tanya Darian dengan nada yang meninggi.


"Aku mau kamu bersikap adil padaku dan simpananmu itu! Jika malam ini kamu bersamanya maka besok kamu harus bersamaku! Jika kamu membelikannya perhiasan, maka kamu juga harus membelikanku! Aku hanya minta keadilan, Darian! Aku ini isterimu, bukan pajangan yang hanya duduk diam di rumahmu!" Seru Hanna sembari menunjuk Darian.


Tapi Darian malah tertawa mengejek. Ia melihat Hanna dengan tatapan yang sangat merendahkan. Seolah Hanna adalah makhluk paling menjijikkan yang pernah ia lihat.


"Kamu? Seorang Hanna Diandra berbicara tentang keadilan? Dimana omong kosong keadilanmu ketika aku masih menikah dengan Kinanti, hah?!" Tantang Darian.

__ADS_1


Hanna menciut. Lagi-lagi Darian berhasil membungkamnya dengan satu kali jawaban.


"Oh, Hanna istriku. Sekarang yang aku minta kepadamu hanya satu. Jadilah seperti Kinanti. Diam dan tidak melawan. Mengerti?" Ancam Darian lalu pergi meninggalkan Hanna.


Wanita itu hanya dapat melihat punggung suaminya yang berjalan menjauh lalu masuk ke dalam kamarnya dan menemui Kalila. Hanna emosi. Sekujur tubuhnya hangus dalam api amarah. Tinjunya terkepal di kedua sisi tubuhnya.


Lihat saja, Kalila. Aku akan menunjukkan kepadamu siapa ratu sebenarnya di rumah ini.


...****************...


Alarm Kalila berbunyi dan membangunkan tidurnya. Tepat pukul 5 pagi. Waktu dimana Kalila selalu bangun setiap hari. Kalila melirik ke arah Darian yang tidur memeluk tubuhnya dengan erat. Ia mendaratkan ciuman singkat di bibir Darian yang lalu membangunkan pria itu.


Darian membuka matanya dengan malas.


"Kamu mau kemana?" Tanya Darian saat melihat Kalila beranjak bangun.


"Aku mau turun, Ian Sayang. Aku mau olahraga bentar terus masak sarapan buat kamu. Kamu kan harus kerja." Ucap Kalila lembut.


Darian mengerang pelan.


Kalila melonggarkan pelukan Darian dan mengelus kepala pria itu dengan lembut.


"Tidak bisa, Ian. Aku tidak mau kamu pergi kerja dalam keadaan lapar. Biarkan aku ke bawah ya." Pinta Kalila sambil tersenyum.


Akhirnya Darian menyerah dan membiarkan kekasihnya meninggalkannya sendiri di kamar.


"Kalila dan rutinitasnya yang tidak bisa diganggu." Gumam Darian sambil tertawa kecil.


Kalila tengah berjalan menuruni tangga ketika ia melihat Hanna yang berjalan mengendap-endap masuk ke dapur. Lantai 1 masih tampak gelap dan hanya beberapa lampu kecil yang dinyalakan. Namun Kalila tahu benar sosok yang dilihatnya adalah Hanna.


"Tumben Mbak Hanna sudah bangun sepagi ini?" Tanya Kalila pada dirinya sendiri.


Kalila menangkap sesuatu yang mencurigakan dari gelagat Hanna. Kenapa ia harus mengendap-endap seperti maling kalau tidak ada yang perlu disembunyikan? Kalila merasa Hanna hendak melakukan salah satu rencana liciknya yang ditujukan kepada Kalila. Ia lalu berjalan mengendap-endap mengikuti Hanna yang sudah berada di dapur. Mata Kalila melihat Hanna yang tampaknya melakukan sesuatu yang mencurigakan.

__ADS_1


Kalila memperhatikan Hanna lamat-lamat. Hanna tampak mencampurkan sesuatu pada bahan makanan untuk sarapan yang sudah Kinanti siapkan dari semalam.


"Mbak Hanna lagi apa?"


Kalila mendekatkan telinganya dan menguping apa yang digumamkan Hanna sendirian di dapur yang gelap.


"Hmmm setidaknya kamu akan masuk rumah sakit untuk beberapa hari karena ini, Kalila. Nikmati makanan beracun spesial buatanku, wanita ******." Gumam Hanna pelan.


Kalila terbelalak mendengarnya. Sialan! Hanna sudah mulai beraksi lagi dan mulai ingin menghancurkan Kalila. Setelah selesai melaksanakan rencananya, Hanna berbalik dan keluar dari dapur. Tentu saja dengan mengendap-endap. Kalila bersembunyi di bawah meja makan agar Hanna tidak dapat melihatnya. Tanpa curiga Hanna berjalan kembali ke kamarnya sambil tertawa kecil.


Setelah Hanna masuk ke dalam kamar, Kalila keluar dari tempat persembunyiannya. Ia lalu masuk ke dapur dan melihat apa yang baru saja dilakukan Hanna. Kalila menemukan ayam marinasi yang ia siapkan telah dicampur sesuatu yang Kalila tidak tahu apa. Yang jelas ayam itu menjadi berbau pahit dan tentu saja tidak mungkin untuk dikonsumsi.


"Ah, sialan. Aku jadi harus membuang ayam ini." Gumam Kalila.


Kalila baru akan membuang ayam beracun tersebut namun sebuah ide cemerlang terlintas di kepalanya. Mungkin makanan beracun ini tidak terlalu buruk. Kalila punya ide lebih baik lagi agar balas dendamnya terasa semakin manis.


Kalila mengembalikan ayam itu dan memasaknya seperti biasa. Lalu Kalila memotong-motong ayam itu dan menyusunnya di sebuah piring. Senyum licik Kalila tersungging tipis di bibirnya yang indah.


"Maafkan aku, Ian Sayang. Tapi akhir-akhir ini semua berjalan terlalu baik untuk penjahat sepertimu." Gumam Kalila pelan.


Tak lama kemudian, Kalila mendengar langkah Darian yang berderap menuruni tangga. Suaranya terdengar bersenandung dan tampak sangat bahagia. Dan seperti biasa, Darian akan langsung menghampiri Kalila di dapur. Lengannya melingkar di pinggang Kalila dan bibirnya mencium pipi Kalila dengan manis.


"Kamu memasak apa pagi ini?" Tanya Darian penasaran.


Kalila tersenyum dan membalikkan tubuhnya hingga menghadap Darian. Kedua tangannya memegang sebuah piring dengan beberapa potong ayam di atasnya.


"Aku membuat ayam katsu kesukaanmu, Ian." Ucap Kalila ceria.


Darian sumringah mendengarnya.


"Apakah ini khusus untukku?" Tanya Darian penuh semangat.


Dan lagi-lagi senyum misterius itu muncul di bibir Kalila.

__ADS_1


"Iya, Ian Sayang. Ini semua hanya untukmu."


__ADS_2