
Selama satu minggu berturut-turut Darian lagi-lagi tidak pulang ke rumah. Setelah dua minggu mantap di rumah bersama Kinanti, sekarang Darian menghilang lagi. Kembali seperti Darian yang dulu, yang selalu meninggalkan istrinya sendirian dan mengejar Hanna kemanapun wanita itu pergi.
Kinanti yakin benar pasti Darian kembali kepada Hanna. Entah bagaimana caranya, Hanna berhasil membuat Darian berbaikan dengannya. Dan pasti sekarang Hanna mengurung Darian di apartemennya untuknya seorang diri. Hanna pasti akan melarang Darian mampir ke tempat lain sepulang dari kantor. Kinanti dapat membaca ketakutan wanita itu akan kehilangan Darian.
Namun Kinanti juga tidak bisa diam saja. Bukan karena ia ingin merebut kembali suaminya. Sejujurnya ia sudah menyerah memperjuangkan hal itu. Sudah satu tahun lebih mereka menikah dan Darian tak kunjung berubah. Jadi tidak ada gunanya untuk memintanya kembali. Meskipun Kinanti berlutut dan menangis darah, hati Darian hanyalah milik Hanna dan ia pasti akan kembali pada Hanna juga.
Yang membuat Kinanti gelisah menunggu kepulangan Darian adalah karena ibu mertuanya yang terus menerus menanyakan perihal acara makan malam bersama mereka. Ia bingung kenapa menantunya tak kunjung dapat memastikan tanggal yang pasti. Kenapa menantunya terkesan mengulur-ngulur untuk memberitahukan jawaban Darian.
"Bagaimana, Ti? Kapan kamu dan Ian bisa makan malam bersama Mama dan Papa?" Tanya Mama Darian di telepon pagi itu.
Kinanti menggumam tampak memikirkan sesuatu.
"Nanti Kinanti tanya ke Mas Ian lagi ya, Ma. Mas Ian masih sangat sibuk, jadi Mas Ian belum bisa menetapkan tanggalnya." Ucap Kinanti berbohong.
Kebohongan kecil yang Kinanti lakukan untuk menutupi aib suaminya. Namun di sisi lain, kebohongan itu juga menyakiti hati mertuanya. Sang ibu menganggap seolah kedua anaknya tidak ingin lagi bertemu dengan mereka.
"Kenapa, Ti? Ian tidak mau lagi ya bertemu dengan Mama Papa?" Tanya ibu mertuanya dengan nada murung.
Kinanti jadi merasa serba salah. Bukan maksudnya untuk melukai hati sang ibu mertua. Hanya saja Kinanti bingung dan tidak bisa memutuskan waktu yang tepat. Bagaimana ia bisa memutuskannya sendiri kalau Darian saja tidak ada bersamanya?
"Bukan begitu, Ma. Nanti malam Kinanti tanya lagi ke Mas Ian ya. Nanti malam Kinanti pasti kasih tahu ke Mama soal waktunya." Kata Kinanti sambil mencoba menghibur ibu mertuanya.
Dan bagai janjinya didengar oleh Tuhan, Darian pun pulang setelah selama tujuh hari menghilang. Kinanti dengan segera membuka pintu ketika bel dibunyikan. Ia tahu benar yang datang adalah Darian karena Kinanti melihat sedan sport Darian masuk melewati pagar rumah mereka.
"Kamu pulang, Mas?" Tanya Kinanti saat melihat Darian.
"Iya. Atau kamu mau aku tidak pulang?" Balas Darian cuek. Ia berjalan melewati Kinanti dengan acuh.
__ADS_1
Kinanti berlari mengikuti langkah suaminya yang cepat.
"Mas, ada yang harus aku bicarakan dengan kamu." Ucap Kinanti pada Darian yang sudah menaikki setengah tangga.
Darian menoleh ke bawah. Melihat ke arah Kinanti.
"Tidak bisa nanti saja? Aku capek dan mau istirahat." Balas Darian dingin
"Tidak bisa, Mas. Aku sudah berjanji sama Mama." Ujar Kinanti mantap.
Kinanti mempercepat langkahnya sehingga ia berhasil menyusul Darian. Mereka berjalan berdampingan dan masuk ke dalam kamar. Darian membuka jasnya dan Kinanti langsung dengan sigap membantu Darian membuka dasinya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Darian.
"Mama mau mengajak kita makan malam. Katanya Mama rindu dengan kamu yang sangat sibuk akhir-akhir ini." Jawab Kinanti. Tangannya masih sibuk membuka dasi dan kemudian kancing kemeja Darian.
Darian menghembuskan nafas. Entah ia merasa lelah atau sebal mendengar perkataan Kinanti.
Kinanti mendecak kesal. Dasar pria kepala batu. Mau berapa kalipun diberitahu ia tidak akan percaya bahwa ibunya lah yang meminta anaknya untuk datang makan malam.
"Bukan, Mas. Seminggu yang lalu Mama kesini dan mau mengajak kita makan malam. Aku selalu mencoba menelepon kamu tapi kamu tidak pernah mengangkat teleponku. Makanya aku baru bisa memberitahumu sekarang." Jelas Kinanti.
Darian berjalan meninggalkan Kinanti dan menuju kamar mandi.
"Jadi bagaimana, Mas?" Kejar Kinanti pada Darian.
"Jangan minggu ini dan minggu depan. Aku sudah punya janji dengan Hanna. Tiga minggu lagi atau akhir bulan depan saja." Ucap Darian cuek lalu menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Kinanti tidak habis pikir dan kecewa dengan Darian. Bukan karena ia merasa terluka Darian menganggap Hanna lebih penting dibandingkan dirinya. Kinanti sudah lama belajar untuk bertahan dengan rasa kecewa itu. Tapi bagaimana dengan kedua orangtua Darian? Sepenting itukah Hanna baginya sehingga ia lebih memilih untuk pergi dengan Hanna ketimbang makan malam bersama orangtuanya? Sebesar apapun cintanya kepada Hanna, bukankah semestinya Darian tetap mengutamakan orangtuanya?
Mungkin inilah yang dikatakan ibu mertuanya dulu. Hanna selalu membuat Darian menjadi jauh dengan keluarganya. Entah apa yang dibisikkan wanita itu sehingga ia berhasil mencuci otak Darian untuk membatasi interaksi dengan keluarganya sendiri. Mungkin satu-satunya hal yang membuat Darian masih terikat dengan keluarganya adalah karena Darian khawatir aset yang ia milikki dialihkan ke orang lain. Sungguh semakin hari Kinanti menjadi semakin kecewa dengan pria tidak berhati yang ia panggil sebagai suami ini.
...****************...
Kinanti ragu. Bagaimana ia harus mengatakan kepada ibu mertuanya bahwa anaknya lebih memilih pergi bersama selingkuhannya dibandingkan dengan keluarganya? Haruskah Kinanti mengatakan yang sejujurnya? Atau apakah sebaiknya Kinanti berbohong saja agar kedua mertuanya tidak merasa kecewa?
"Halo, Ma?" Sapa Kinanti pada ibu mertuanya di telepon.
"Halo, Ti!" Balas ibu mertuanya dengan semangat.
"Ehm, Ma. Soal yang makan malam itu." Ucap Kinanti terdengar bimbang.
"Kenapa, Ti?" Tanya ibu mertuanya penasaran.
Pada akhirnya keputusan harus diambil dan Kinanti memilih pilihan keduanya. Lebih baik ia berbohong untuk melindungi hari kedua mertuanya daripada harus jujur demi memberikan pelajaran kepada Darian. Kinanti tidak peduli apakah Darian akan menyesal atau bahkan berubah menjadi lebih baik. Tapi Kinanti tidak ingin kedua mertua yang sudah ia anggap seperti kedua orangtuanya sendiri ini merasa kecewa karena putranya.
"Mas Ian akhir-akhir ini sangat sibuk, Ma. Agenda rapatnya dengan investor padat sekali. Jadi mungkin agak susah buat Mas Ian menyisihkan waktu untuk makan malam bersama." Ucap Kinanti pelan.
Terdengar suara oh lemah dari ibu mertuanya. Kinanti tahu benar ibu mertuanya merasa kecewa dengan putranya sendiri.
"Tapi Mas Ian janji akan meluangkan waktu akhir bulan depan, Ma. Minggu keempat bulan Agustus. Bagaimana Ma? Mama mau? Mau ya Ma?" Pinta Kinanti penuh harap.
Suara Mama Darian terdengar sangat sedih. Tapi ia bisa apa. Putranya sudah dewasa dan memiliki prioritasnya sendiri. Mungkin kedua orangtuanya sudah tidak ada lagi di dalam daftar itu. Dan Mama Darian tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin akan datang ke kantor Darian dan marah-marah karena Darian sok sibuk. Jadi hanyalah rasa kecewa yang bisa ia terima dan mau tidak mau ia harus menelan pil pahit itu seorang diri.
"Iya, Ti. Mama mau kok. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?" Ujar Mama Darian pelan.
__ADS_1
Kinanti merasa bersalah. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Kinanti istrinya, Darian tidak akan mendengarkan kata-kata orang lain selain Hanna. Jadi membujuk Darian sama saja berbicara dengan patung batu. Memantul tanpa masuk ke telinga sedikit pun. Dengan perasaan menyesal, Kinanti meminta maaf kepada ibu mertuanya.
"Maafkan Kinanti ya, Ma."