Wanita Cuek Dan Pria Dingin

Wanita Cuek Dan Pria Dingin
RAFFI


__ADS_3

3bulan telah berlalu..


Kondisi Akbar yang operasi berhasil belum menunjukkan tanda-tanda membaik.


Sedangkan Bunga dalam perawatan yang ketat karena mengalami depresi, semua cara dilakukan bahkan dokter terbaik di datangkan tapi Bunga masih tidak merespon.


Setiap harinya Haikal cukup stress melihat keadaan istrinya, Tatapan Bunga yang kosong membuat penyesalan terbesar untuk Haikal, tanpa makan dan minum Bunga bertahan menggunakan infus, tubuhnya semakin kurus hanya perutnya yang mulai membuncit. tubuh Haikal tidak kalah memprihatinkan dulu Haikal sangat kuat tapi sekarang tubuhnya semakin kurus, wajah kusut terkadang rambutnya acak-acakan tidak terurus.


Kesedihan masih berlarut dalam keluarga Chrispeter, kondisi Nenek Petra juga semakin memburuk melihat cucunya belum sadar, melihat cucu menantu nya seperti mayat hidup.


Ara melangkah masuk mendekati Bee dielusnya perut Bee sambil menagis sesekali Ara juga mengelus perutnya.


" aku ingin mendengar kamu marah Bee, aku rindu suara kamu. lihat sekarang aku gemuk sekali, tapi mengapa kamu kurus sekali. aku bisa merasakan tendangan dari dalam aku tidak tahu cowok apa cewek, karena kamu bilang kamu orang pertama yang harus tau jenis kelaminnya, lihat perutmu Bee " hiks hiks hiks tangisan Ara terdengar pilu.


Semua dokter yang mengawasi Bee datang Haikal Rian Roy Riani ayah Jose juga diruangan Bee.


Roy memeluk Ara yang sedang menangis.


" tuan Haikal ini keputusan terakhir kita, janin lemah kondisi ibunya juga lemah, mereka bertahan hanya dengan infus, kita tidak bisa memasukkan obat-obatan pada Nona karena kandungannya dan saya tidak bisa menjamin sampai kapan janin bertahan" ucap salah satu dokter.


....


" ayah, ibu" teriak Raffi.


" putraku" jawab seorang pria tampan.


" mana adikku ayah, apa dia tampan seperti diriku?" tanya Raffi.


" Tentu sayang, adikmu sangat tampan" ucap ibunya..


" namanya siapa ayah?" tanya Raffi..


" Raffa, Araffa Chrispeter" jawab ayahnya.


" namaku Araffi Chrispeter, adikku Araffa Chrispeter, aku Raffi dan dia Raffa" teriak Raffi kecil dengan bahagia.


" Raffi jadilah kakak yang baik yang akan melindungi adikmu" ucap ibunya.


" pasti ibu, aku kakak tertua yang akan melindungi adik-adikku" teriak Raffi.


" anak baik sini peluk ayah" ucap ayahnya menggakat tubuh Raffi yang sedang tertawa.

__ADS_1


" Raffi kembalilah, terimakasih telah menjadi anak baik" sebuah suara tanpa wujud.


Akbar mengerakkan tangannya, membuka perlahan matanya yang mengeluarkan airmata.


Dilihatnya Kia sedang duduk sesekali menguras air mata nya.


Dia tersenyum melihat wanitanya berada disisi nya, Akbar membuka penutup mulutnya menyentuh tangan Kia. Kia menggakat wajahnya menatap kearah suaminya dengan menangis.


" Dokter tidak boleh lemah" ucap pelan Akbar.


" Dokter, aku harus panggil dokter, Kia berjalan ke pintu tapi balik lagi, aku dokternya" ucap Kia bicara sendiri.


Akbar yang melihat tingkah linglung Kia ingin tertawa tapi tidak bisa, dia hanya tersenyum.


" Dokter Kiara konsentrasi" ucap Akbar pelan seakan mengejeknya.


Kiara menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, barulah dia bergerak mengecek keadaan Akbar lalu tersenyum seakan-akan dia tidak percaya jika Akbar sudah sadar. Kia mencubit tubuhnya sendiri dan meringis kesakitan.


" sayang, kamu benar-benar sadar aku tidak bermimpi kan" ucap Kia menciumi wajah Akbar.


Kia langsung menghubungi keluarga, mereka satu persatu berdatangan dan menangis haru melihat kondisi Akbar yang membaik bahkan bisa tersenyum.


Nenek Petra memeluknya dengan penuh cinta, cucu kesayangan kini sadar..


" iya, Nenek akan segera dirawat, nenek akan sehat" jawab Nenek Petra mencium kening Akbar.


Mata Akbar mencari dua sosok yang tidak terlihat, semuanya menyadari pandangan Akbar dan mereka menundukkan kepala.


" Riani, dimana Haikal dan Bee" tanya Akbar.


" Haikal sedang menangis, sebentar lagi dia akan kehilangan anaknya kondisi Bee semakin memburuk," ucap Riani jujur. satu-satunya orang yang tidak akan berbohong ialah Riani karena itu Akbar bertanya padanya.


" Apa yang terjadi pada Bee" tanya Akbar lagi.


Semua orang coba menghentikan Riani, bahkan Rian sudah memeluk bahunya ingin membawanya keluar.


tapi Riani menepis tangan Rian. dia langsung menangis.


" Bee depresi berat, dia tidak merespon seperti orang hidup tapi tidak ada jiwanya, bahkan dokter sudah kehabisan cara menyadarkannya, kondisi janin juga semakin lemah, kemungkinan akan digugurkan" ucap Riani menangis.


" bawa aku menemui mereka" ucap Akbar tapi semua melarangnya.

__ADS_1


Akbar menatap Kia, Kiara hanya tersenyum..


" aku mengizinkan dengan pengawasan ku, kondisi stabil tapi ingat kau harus mendengarkan instruksi dariku, apapun keluhan diskusikan denganku, paham" ucap Kia seakan mengancam Akbar.


Akbar dipindahkan di kursi roda, tangannya masih diinfus mereka berjalan keruangan Bee, dari jauh mereka melihat kondisi Haikal yang sangat buruk dia duduk dilantai meremas kepalanya dan menangis sesenggukan, hati Akbar sangat pilu mendengarkan tangisannya.


" Haikal!" panggil Akbar.


Haikal melihat kearah Akbar, matanya sembab dengan airmata yang keluar.


" kau sangat lemah, tidak pernah terpikirkan kau akan menagis sepilu ini, percayalah anak dan istrimu akan baik-baik saja." ucap Akbar.


Haikal mendekati kursi roda, meletakkan kepalanya di pangkuan Akbar menangis. Akbar membelai rambut nya, mengelus kepala Haikal penuh cinta, Kia Ara dan Riani menangis. Roy dan Rian sesekali menghapus air mata mereka.


" bawa aku melihat Bee Kia" ucap Akbar.


mereka semua masuk kedalam, Akbar melihat kondisi Bee memang sangat buruk.


" Kia, biarkan ruang rawat kami jadi satu, aku ingin melihat detail kondisi Bee, kalian bebas bicara apapun dengan nya, aku hanya akan mengawasi." ucap Akbar.


" minta semua dokter yang menangani Bee kesini, aku ingin mendengar penjelasan mereka," ucap Akbar lagi.


Semua bergerak menuruti keinginan Akbar, tempat tidur mereka bersebelahan, karena ruangan rawat Bee sangat besar.


Beberapa dokter bicara dengan Akbar, tatapan Akbar kesal kepada mereka..


" Apa dia pernah pingsan?, atau kejang-kejang?" tanya Akbar dengan nada tinggi membuat Kia berdiri karena dia tidak mau kondisi Akbar drop lagi.


" Tidak pernah" jawab mereka.


" Maka kalian tidak punya hak mengeluarkan janinnya, kondisi ini membuktikan fisik Bee kuat untuk melindungi anaknya, " ucap Akbar.


" Bertahan lah Bee, kami yakin kamu mampu melewati semua ini" batin Akbar dalam hati.


Kondisi Akbarl mulai membaik, dia sibuk meneliti setiap perubahan Bee, Akbar dibantu oleh Kia dan Rian. karena meminta Haikal sudah tidak mungkin, melihat kondisinya saja sudah menyedihkan di kepalanya hanya berisi tentang Bee, semua aktivitas tidak ada yang berjalan setiap hari dia hanya disisi Bee, untuk urusan perusahaan juga Roy yang mengontrol.


....


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA...


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE..

__ADS_1


SELAMAT HARI IBU SEMUANYA...


__ADS_2