
Pagi-pagi Dita kedatangan tamu yang tidak dirinya inginkan kemunculannya, tapi dengan senyuman lebar menemui Dita tanpa rasa bersalah.
Andin meminta maaf kepada Dita, bukan dirinya yang merusak rumah tangga bahagia Dita, tapi suaminya sendiri yang mencari rumah baru.
"Andin datang ke sini dengan perasaan bersalah, kak Armand selalu memaksa untuk menjalin hubungan. Lama-kelamaan perasaan ini tumbuh, Andin tidak bisa menghindar lagi kak Dita." Wajah Andin terlihat sedih, duduk di depan rumah Dita tanpa dipersilahkan.
Jika Dita ingin melakukan kekerasan bisa saja tapi tidak ada gunanya dirinya akan dipermalukan dan semakin direndahkan oleh suami dan selingkuhannya.
Dita tidak ingin merugikan dirinya, hanya karena emosi semata tidak memberikan keuntungan.
"Aku bisa memakluminya Din, wanita rendah memang seperti itu, berlaga mahal, tapi aslinya sangat murah." Senyuman Dita terlihat, dia mencoba menahan dirinya meskipun amarah sudah ada di ubun-ubun.
Tatapan Andin tajam tidak menyangka jika Dita tidak marah sama sekali, dia terlihat sangat tenang dan santai saja meskipun sudah tahu jika suaminya mendua. Andin pikir ada peperangan di dalam rumah, sehingga dirinya bisa menonton dan menikmati kehancuran istri tua.
Dengan santai Andin menyindir jika Dita tidak sempurna karena belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya sehingga dicampakkan.
"Wanita memang tidak akan sempurna jika mandul,"
"Kamu salah, manusia memng tidak ada yang sempurna, baik laki-laki maupun perempuan. Belum memiliki bukan berarti tidak akan memiliki. Hanya saja batas kesabaran manusia yang berbeda, apalagi kesetiaannya." Dita duduk dengan tenang menatap ke arah taman di depan rumahnya.
"Sampai kapan kak Dita? lelaki butuh kepastian." Andin meminta Dita lebih baik mundur dan melepaskan Armand untuk bahagia bersama wanita yang bisa membuatnya bahagia.
Tawa Dita terdengar, seandainya wanita selingkuhan sadar, dia hanya pelarian di saat hati goyah, bukan seseorang yang diutamakan.
"Jangan bangga Din, mungkin sekarang kamu dicintai, tapi belum tentu esok lusa dan selamanya. Jika istri yang dinikahi atas nama cinta juga diselingkuhi apalagi seorang selingkuhan." Kepala Dita menggeleng, meminta Andin berhati-hati jika suatu hari dia hanya sampah yang dicampakkan.
__ADS_1
Dita jauh lebih baik karena diakui sebagai istri dan keberadaannya diketahui oleh banyak orang, berbeda dengan Andin yang masih disembunyikan tanpa ada kepastian.
Tangan Andin tergempal erat, dia ingin membuat Dita menyerah sehingga segera menceraikan Armand, tapi yang dia dapatkan Dita jauh lebih kuat. Tidak merasa jika perselingkuhan suaminya sesuatu hal besar.
Bukan Dita yang rendahkan, tapi Andin yang tidak memiliki harga diri di mata Dita, wanita murahan tidak pantas bersaing dengan wanita terhormat.
"Aku harap kak Dita segera menceraikan kak Armand, sadarlah jika ...."
"Tidak akan, jangan meminta suatu hal yang mustahil. Tetaplah berada di tempat persembunyian. Sadar diri jika kamu hanya simpanan, tahu artinya simpanan sesuatu yang tidak akan pernah diakui di depan umum." Tawa kecil Dita terdengar, jika kedatangan Andin hanya untuk merendahkan dan menjatuhkan pertahan Dita, dia salah besar.
Bukan Dita yang akan menceraikan, tapi Armand yang akan memohon kembali kepadanya suatu haari nanti setelah bosan dengan wanita murahan.
Tanpa pamitan Andin langsung melangkah pergi begitu saja, merasa sangat marah dengan sindiran Dita yang merusak harga dirinya.
Kepala Dita geleng-geleng, dia memang berencana untuk menggugat cerai ke pengadilan, tapi kedatangan Andin menyadarkan Dita jika dirinya menceraikan maka dirinya kalah.
"Aku tidak akan menceraikan Kak Armand, teruslah berjuang untuk membuat hubungan suci ini putus, aku ingin melihat sehebat apa kekuatan perselingkuhan." Senyuman sinis Dita terlihat, tangannya tergempal kuat menahan diri untuk tidak terbawa emosi.
Pintu rumah terbuka, Armand keluar dari rumahnya tanpa mengetahui jika Andin datang bertamu.
"Malam ini aku tidak pulang, jangan hubungi aku apalagi mencari, rumah ini terlalu panas sehingga aku tidak nyaman." Suara dingin Arman terdengar menyindir istrinya yang hanya diam.
Tanpa menjawab Dita langsung berlalu pergi pergi masuk ke dalam rumah, tidak ingin menimpali apalagi memperdebatkan sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya.
Melihat Dita hanya cuek, Armand langsung mengikutinya kembali ke kamar, menatap Dita yang duduk santai di kamarnya.
__ADS_1
"Kamu bukannya ingin keluar dan menggugat cerai aku? ingat jika kamu yang menggugat lebih dulu jangan harap mendapatkan apapun, apalagi kamu tidak memiliki anak untuk aku mempertanggungjawabkan nafkah." Senyuman Armand terlihat, dia tidak masalah jika Dita ingin berpisah, tapi Armand tidak akan menggugat lebih dulu.
Kepala Dita mengangguk, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Menjawabnya tidak ada gunanya.
"Kamu punya mulut tidak? apa ingin aku lempar dengan botol ini?" Mata Armand melihat ke arah botol minum yang ada di atas nakas.
Mata Dita melihat ke arah Armand, menghela napasnya sampai ada tarikan napas dalam.
"Lakukan apa yang kamu inginkan, bukannya kamu yang mengatakan jika mendengar suara aku hanya membuat darah kamu naik?" Dita hanya tidak ingin Armand semakin marah jika dirinya terus bicara.
"Apa yang membuat kamu ingin bertahan?"
"Kak sudah cukup hati yang disakiti, jangan sakiti juga fisik aku, setidaknya aku wanita yang pernah kamu cintai." Ucapan lembut Dita terdengar mengingatkan kembali betapa bahagianya mereka sebelum menikah.
Janji yang dulu Armand janjikan hanya dia tepati selama tiga tahun, sisanya ia lupa jika sudah mengucapkan janji untuk menjaga, melindungi, membahagiakan dan menemani hingga ajal memisahkan. Janji yang disebutkan di depan kedua orang tua Dita.
"Tidak masalah jika kamu lupa, aku akan mengingatkan kembali ucapan kamu saat kita pertama menikah yang ingin setia sampai mati, lalu janji untuk memiliki anak dan menantinya selama mungkin. Kak Armand juga lupa saat kita pindah ke rumah ini yang katanya akan diisi dengan canda dan tawa, rezeki yang Kak Armand miliki rezeki atas cinta tulus kita." Tawa kecil Dita terdengar belum lama janji itu diucapkan, tapi semuanya hanyalah janji yang diucapkan oleh mulut saat bahagia pada waktu tertentu.
Rumah bahagia yang Armand janjikan dia tabur dengan tetesan luka, bukan hanya pengkhianatan yang dilakukan, tapi mengingkari segalanya hanya karena kebahagiaan sesaat.
"Ya, aku mengatakannya, tapi aku juga menginginkan keturunan dan ingin melihat anakku. Bersama kamu aku tidak memilikinya." Armand meminta maaf karena dia tidak bisa mencintai Dita lagi, perasaannya sudah lenyap karena terlalu lelah menunggu sesuatu yang baginya hanya buang-buang waktu.
"Cinta ... Jangan percaya cinta Dit, bahagia itu hanya ada di awal, tapi semakin kita mencintai maka tidak ada bahagia yang ada hanya bosan." Armand melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Dita yang terdiam tanpa berkedip.
Air mata Dita menetes, sakit sekali hatinya mendengar ucapan Armand jika tidak bisa mencintainya lagi.
__ADS_1
MAMPIR KE SAYAP YANG PATAH
DETAIL CEK IG VHIAAZAIRA