Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Aku tetap ingin kuliah


__ADS_3

"tidak, aku tetap ingin kuliah, yah. Aku yakin aku bisa jadi arsitek yang sukses." kataku pada ayah.


"untuk apa kau kuliah ujung-ujungnya ke dapur juga" kata ayah seolah sangat sepele padaku.


"Tapi, yah...."aku ingin bicara namun dipotong ayahku.


"gak ada tapi- tapian pokoknya kamu gak usah kuliah, anak perempuan itu gak perlu sekolah tinggi tinggi, lebih baik kau menikah dengan laki laki kaya supaya hidupmu enak." katanya dengan nada yang tinggi.


"Gak, enggak pokoknya aku harus kuliah." ocehku sambil berlalu.


Oh, iya aku naila, aku itu baru aja tamat SMA, tapi ayah selalu melarang ku untuk kuliah.


Aku masuk ke kamar dan membanting pintu.


"Braaaakk....." suara pintu yang kubanting.


Tak lama setelah itu ibu datang ke kamarku.


"kamu kenapa nai, pasti debat lagi ya sama ayah." kata ibu padaku.


"Iya, bu. Itu ayah nyebelin banget, masih aja ngelarang aku buat kuliah, ibu tau kan aku pengen banget kuliah. Tunggu deh bu, emang wanita itu gak boleh kuliah ya, bu?" tanyaku penasaran.


"Siapa bilang, wanita bebas buat sekolah, sama halnya dengan pria." ibu menyaut memberi semangat.


"Tapi kok ayah ngelarang aku buat kuliah sih, bu." kataku kembali pada ibu.


"Mungkin menurut ayah itu yang terbaik untukmu, karena gak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya ke hal yang tidak baik."kata ibu menasihatiku.


"Ibu bilang yang terbaik. Ah, ternyata ibu sama saja sama ayah, gk bisa ngertiin aku." kataku sambil berlari.


Di tangah perjalanan menuju rumah pohon, aku terus menangis.

__ADS_1


Yap, aku Punya rumah pohon kayu yang sangat kecil paling, muat buat dua orang. Sesampainya di rumah pohon aku menjerit "Aaaaaaaaaaah....." jeritku meluapkan emosiku.


Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki yang mamijak dedaunan kering. Setelah aku menoleh ternyata....


" Oh, steven." kataku mengungkap rasa penasaran.


"Iya, gue. lo kenapa triak-triak, pake mewek segala, bukannya lo kuat ya kayak baja." ocehnya tanpa henti.


"Sssst, apa sih kok lo nyerocos mulu." kataku menghentikan ocehannya.


"Oke, oke sorry ya, nai gue tau lo lagi sedih, gue cuman pengen ngehibur lo."katanya.


Oh iya, steven itu sahabat deket gue dari sd, dia yang selalu buat gue happy kalau lagi ada masalah.


"Iya gak apa-apa gue ngerti kok, duduk nih disamping gue." kataku sambil menepuk tanah yang berada di sampingku.


"Emang masalahnya apa sih nai, cerita dong." katanya penasaran.


"gini stev....." sebelum aku melanjut cerita telponku berbunyi


Aku langsung mengangkat telpon.


"Bentar stev, ya hallo" sapaku lembut.


"Ya, bisa bicara dengan naila?"tanyanya.


"Iya, saya sendiri ada apa ya bu?" aku balik bertanya.


"Selamat ya kamu dapat beasiswa S1 jurusan Arsitektur." Suaranya terdengar semangat. "Hah, yang bener, bu?" ucapku tak percaya. "Iya, besok tolong kamu datang ke sekolah, ya." kata guru itu padaku.


Lalu setelah telpon ditutup aku spontan memeluk steven dan memegang wajahnya dengan raut wajah kebingungan. "Yeay......yeay" aku menjerit.

__ADS_1


Dia tampak semakin heran melihat aku melompat menuju arah pulang.


"Hey....lo kenapa?" jeritnya meluapkan rasa bingungnya.


Namun perkataannya hilang tertiup angin. "La......la.....la.......la" aku bernyanyi sepanjang jalan.


Sesampainya di rumah aku melihat ayah yang sedang memahat barang dagangannya.


Ya, ya ayahku seorang penjual hiasan dinding yang terbuat dari kayu dia memahat semua kayu itu sendirian, tapi penghasilannya tak seberapa, mungkin karna itu dia gak ngebolehin aku kuliah karna gak ada biaya.


Aku masuk ke dalam rumah tanpa memberi senyum.


"Eh, naila anak ibu, udah pulang." sapa ibu dengan lembut.


"Ya, bu aku udah pulang." jawabku ketus.


Aku berlari memasuki kamar dan mengunci pintu.


"Yeay akhirnya aku bisa kuliah juga, semoga aku bisa jadi arsitek yang sukses." kataku kegirangan.


Tak kusadari ibu sedang mengintip dari luar kamar ku.


"Maksudmu apa nai, kamu mau kuliah?" tanya ibu keheranan dengan sikapku.


"Aaa...anu bu " jawabku gugup sambil menarik ibu dari depan pintu.


"ssst, pelan-pelan ngomongnya, bu aku takut ayah denger." kataku dengan suara berbisik. "Emang kenapa?" bisik ibu.


"aku dapat beasiswa S1 jurusan arsitektur dari sekolahku, bu." kataku pada ibu.


"Wah, hebat banget anak ibu ini." kata ibu sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


Kubalas rasa bangga ibu dengan senyumku. Tiba-tiba ayah lewat dari kamarku dan melihat kami yang sedang berpelukan.


"Ada apa kalian kok bahagia banget?" tanya ayah pada aku dan ibu.


__ADS_2