
Kemudian aku mendekat dan tiba tiba dia keluar dari dalam mobil aku terkejut dan berpura pura tidak melihat.
"Nai ayo buruan naik nanti telat," katanya.
"Gak pak saya mau berangkat sendiri aja," jawabku.
"Udah deh cepetan gak usah banyak gaya deh," katanya lagi.
Tak berapa lama berdebat tiba tiba steven datang dan mengajakku berangkat bareng.
"Nai berangkat bareng yuk," ajaknya
"Duh gimana nih kalau gue ikut steven sama aja gue nyakitin hati sisil tapi kalau gue ikut pak No dia kan orangnya nyebelin banget," kataku dalam hati.
"Apaan lu, naila itu berangkat bareng gue tadi gue duluan yang jemput dia, ya kan nai," katanya.
"Hehehe," kataku tertawa terpaksa.
"Iya sorry ya stev kan pak No udah duluan jemput gue jadi gue berangkat bareng dia aja ya, lagian kan lo harus anter sisil chek up ke rumah sakit kalau lo telat gak apa apa nanti gue handle pekerjaan lo," kataku gugup.
"Oh ya udah deh gue anter sisil aja lo sama pak No aja deh nai," katanya dengan raut wajah kecewa.
"Kalau gitu gue berangkat dulu ya," kataku.
"Ya," jawabnya pendek.
"Yuk pak," ajakku kepada pak No.
Kami pun masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju ke kantor di sepanjang perjalanan aku menangis.
"Lo kenapa nangis sih emang gue ada salah ngomong atau apa gitu," katanya bingung.
"Engak kok pak lagian kalau saya cerita bapak juga gak akan ngerti," kataku.
"Ya udah deh gak apa apa lanjut aja nangisnya sampai lo puas tapi nanti di kantor jangan nangis lagi ya," katanya padaku.
Aku hanya diam tak menghiraukan. Tak lama kemudian kami sampai di kantor. Akupun langsung turun dari mobil sementara pak No mengantarkan mobilnya ke parkiran.
"Ya udah pak saya masuk duluan ya," kataku.
"Ya," jawabnya pendek.
Akupun masuk ke dalam kantor dan berjalan masuk ke dalam ruangan ku.
"Nai," kata mbak reina memanggil ku dari belakang.
"Ya mbak ada apa," tanyaku.
"Saya mau ngobrol lagi nih," katanya.
"Oh ya udah kita ngobrol dimana," tanyaku lagi.
"Di taman lagi aja biar lebih enak ngobrolnya," katanya.
__ADS_1
"Oh iya udah ayo," ajakku.
Kami berjalan menuju ke taman. Sesampainya di taman kami langsung duduk di salah satu bangku taman.
"Mbak mau ngobrol soal apa emangnya," tanyaku.
"Ya soal steven lah," jawabnya.
"Ohh emang kenapa dengan steven," tanyaku lagi.
"E..e steven punya pacar gak," tanyanya.
"Hmm punya emang kenapa," tanyaku.
"Yahh punya ya padahal aku pengen jadi pacar dia," katanya dengan raut wajah kecewa.
"Ohh mbak suka sama steven," kataku.
"Ya iya lo gak ngerti gue tuh suka sama dia dari pertama kali ketemu," katanya dengan nada tinggi.
"Emang suka banget ya mbak," kataku.
"Ya iyalah bangeet malah aku bakal lakuin apa aja buat bikin dia juga cinta sama aku," katanya dengan nada semakin tinggi.
"E..e.. mending gak usah deh mbak," kataku menyela.
"Emang kenapa lo gak mau gue deket sama dia," katanya kesal.
"Bu..bukan dulu itu ada juga yang suka sama steven sampai kayak mbak gitu trus yah malah sakit hati ditolak mentah mentah sama steven," kataku.
"Iya kalau mbak gak percaya ya udah," kataku sambil berdiri lalu meninggalkan dia ditempat itu.
Tak ku sadari sepanjang obrolan kami Pak No mendengarkan.
"Yesss!!!" suara teriakan dari balik pohon.
Aku mendekat dan ternyata benar itu pak No.
"Lho bapak ngapain disini bukannya ada meeting," kataku binggung.
"Iya tadi meetingnya di cancel," katanya sambil senyum menyerengai.
"Trus bapak kenapa teriak yes," kataku tambah bingung.
"Gak usah dipikirin tapi lo beneran gak suka dan gak pacaran sama steven kan," katanya.
"Iya emang kenapa pak," kataku semakin bingung.
"Gak apa apa kalau gitu saya balik ke kantor dulu ya," katanya.
"Iya iya pak silahkan," kataku.
Lalu dia pergi ke kantor sementara aku pergi ke sebuah warung di dekat kantor. Sesampainya disana aku langsung memesan minuman. Tapi aku mengingat sesuatu disana.
"Oh iya, kan gue mau urus penambahan kontrak. Aduh kok bisa lupa sih gue," kataku kesal pada diri sendiri.
"Mbak ini minumannya," kata si penjual sambil menyodorkan minuman.
__ADS_1
"E.. gini mbak nanti saya balik lagi baru saya minum saya lupa ada urusan penting," kataku.
"Oh iya iya saya simpan dulu," katanya sambil berbalik ke arah awalnya.
Lalu aku langsung berlari menuju kantor. Karna terlalu terburu buru aku hampir terjatuh untung saja ada yang menolong ku.
"Huh, makasih ya," kataku sebelum melihat wajahnya.
"Ya sama sama," jawabnya.
"Hah?! steven," kataku dalam hati.
"Hai nai," katanya.
"Sorry ya gue telat soalnya nganter sisil chek up nya macet dijalan habis itu di rumah sakit ngantri lagi," katanya.
"Oh iya gak apa apa kok lagian gue gak jadi meeting," kataku.
"Trus kalau gak jadi meeting lo kok lari lari buru buru amat," katanya.
"Iya soalnya gue mau urus penambahan kontak gue jadi 3 tahun lagi," kataku.
"Ihh gue mau dong sekalian nabung," katanya.
"Ya udah bilang aja ke pak No," kataku lalu berlari lagi menuju ke kantor.
Dan akhirnya aku sampai di depan ruangan pak No. Tanpa berfikir panjang dan tanpa mengetuk pintu aku langsung masuk ke dalam.
"He..he..he apa apaan nih main nyelonong aja gak pake salam atau ketuk pintu gak sopan amat," katanya.
"I..iya pak sorry tadi saya buru buru mau bahas soal kontrak," kataku.
"Oh iya tunggu bentar semalem udah gue siapin tapi gue taruh dimana ya," katanya bingung.
Dia terdiam berusaha mengingat dimana dia letakkan berkas kontrak untuk ku.
"Ohh iya di mobil bentar ya saya ambil," katanya.
"Eh tunggu bentar pak katanya steven mau tambah kontrak juga," kataku.
"Apa apaan gak gak gak ada tuh," katanya lalu pergi ke luar ruangan.
Sementara dia pergi aku melihat lihat sekeliling. Dan aku melihat sebuah foto seorang wanita.
"Siapa nih cantik banget tapi kalau dilihat lihat kok mirip pak No," kataku.
"Itu mama gue," kata pak No tiba tiba dari belakang ku.
"Ohh ini mamanya pak No," kataku.
"Iya itu mama gue wanita paling cantik di dunia," katanya.
"Iya sih mamanya pak No cantik banget," katanya.
"Ya udah ini kontraknya sekarang lo tanda tangan," katanya.
"Iya pak ngomong ngomong mamanya bapak sekarang dimana," tanyaku penasaran.
"Mama gue sekarang tinggal di surga dia pasti lagi bahagia banget," katanya.
__ADS_1