
Saat sudah akan keluar apartemen tiba tiba handphone ku berdering. Dan penelponnya nomor tak dikenal.
"Siapa nih nelpon kok nomor gak ke save apa ayah nomor baru soalnya kan gak ada yang tau nomor aku selain ayah ibu sama si badak rese," kataku bingung.
"Ya hallo ini siapa ya?" tanyaku.
"Ini gue nai orang yang bener bener sayang sama lo," katanya.
"Hah? steven," kataku ragu.
"Ya gue steven sahabat lo tapi lo gak pernah cerita kalau lo bakal pergi ke Amerika gue gak nyangka nai, kalau lo emang gak terima cinta gue se enggaknya gue bisa jadi temen curhat lo dan lo bisa cerita semua ke gue," katanya.
Aku langsung mematikan telponnya dan berlari keluar. Saat sampai diluar aku bertabrakan dengan si badak rese.
"Dak dak itu aduh itu..." kataku dengan nafas tersengal sengal.
"Iya itu ada apa nai nafas dulu biar tenang," katanya.
"Huh... oke steven tau nomer gue," kataku dengan cepat.
"Nomor apa?" tanyanya.
"Nomor handphone lah masa nomor sepatu," kataku kesal.
"Hah? tau dari mana dia," katanya terkejut.
"Ya mana gue tau lo nanti beliin gue nomor baru trus kasih tau ke ayah dan ibu satu lagi bilang ke ayah atau ibu jangan kasih tau nomer gue ke siapa siapa," kataku.
"Iya bawel nanti gue kerjain semuanya, ngomong ngomong lo mau kemana?" katanya.
"Ada deh kepo lo, gue mau kemana kek terserah gue lah," kataku.
Kemudian aku berjalan turun ke bawah. Sampai di loby ternyata disana udah ada caline.
"Hi, line" kataku.
"Hi ready to go," katanya.
"Yes already. Les't leave later," kataku.
Kemudian kamipun berangkat. Sesampainya di kampus aku langsung masuk dan bertemu ibu kepala. Tak lama kemudian aku mengikuti kelas pertama ku.
Tak terasa kelas pun usai aku keluar dari kelas.
"Mending gue ajak ketemu aja si badak rese," kataku.
Sebelum sempat menelpon si badak sudah menelpon lebih dulu.
"Halo nai tolong gue, gue tadi mau ke mall trus gue lewat jalan sepi taunya pas di jalan gue nabrak pohon tolong gue dong disini gak ada orang," katanya dengan nada memelas.
"Oh my god. Lo dimana biar gue susul lo dimana badak rese," kataku panik.
Tak lama kemudian dia sherlock tempat dia berada. Tanpa berfikir panjang aku langsung berlari keluar kampus dan naik taksi untuk menolong si badak rese.
"Pliss bertahan badak rese gue butuh lo pliss jangan tinggalin gue," kataku dalam hati.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku sampai di tempat yang dikirim badak rese.
"Lho kok tempatnya indah sih ini mah taman dan gak mungkin badak rese kecelakaan disini," kataku.
"Ya karna gue gak bener bener kecelakaan," katanya dari belakangku.
Aku berbalik ke belakang.
"Ihhh apa apaan sih gue panik dan gara gara lo gue jadi ninggalin kampus tanpa bilang ke caline," kataku kesal.
"Iya sorry sebenarnya gue ngajak lo kesini karna gue mau bilang sesuatu ke lo," katanya.
"Ngomong apa? kayaknya penting banget," kataku.
"Iya ini emang penting banget kita ngomongnya disana ya," katanya sambil menarik tanganku.
Setelah berjalan tak jauh kami sampai di tempat yang benar benar indah.
"Indah banget dak," kataku.
"Iya," katanya.
Kemudian dia berlutut di depanku.
"Naila gue bukan cowok yang romantis gue gak bisa berbuat romantis gue cuman mau ungkapkan semua perasaan gue ke lo, gue tau cinta yang lo punya bukan buat gue gue tau tapi gue cuma ingin lo tau gue punya cinta yang besar buat lo dan gue gak berharap buat lo balas perasaan gue, gue cuman pengen lo tau gue cinta sama lo, Do you want to be my girlfriend," katanya dengan sangat indah.
"Waw ternyata badak suka sama gue dan dia bisa ngomong se romantis ini gue gak nyangka banget," kataku dalam hati.
Sekilas aku memikirkan dan teringat oleh ku sebuah artikel yang pernah ku baca di kantor si badak kalau dengan kekasih baru aku bisa lupain cinta yang lama.
"Gue juga suka sama lo tapi gue belum terlalu cinta sama lo tapi....gue nyaman sama lo gue juga selalu bahagia sama lo," kataku.
"Thank you, nai. I really love you and I will always try to make you happy," katanya lalu memelukku.
Setelah berpelukan dia mengantar ku kembali ke kampus.
"Where have you been?" kata caline saat aku baru sampai.
"Gimana nih aku bilang apa?" tanyaku pada si badak rese.
"Bilang aja tadi ada urusan penting," katanya.
"Oke," kataku.
"I had a sudden and very important matter," kataku.
"Oh yes you've meet the head of campus now," katanya.
"Okey," kataku kemudian berlari ke arah ruangan ibu kepala kampus.
Setelah tak lama berbincang akhirnya kamipun pergi ke kantor tempatku bekerja setelah tak lama kemudian akupun selesai tanda tangan kontrak dan lainnya. Kemudian aku pulang bersama matthew.
"Udah selesai?" tanyanya saat melihatku keluar.
"Udah kok kita mau kemana?" kataku sambil merangkul tangannya.
"Kita makan yuk," ajaknya.
Sebelum masuk ke dalam mobil tiba tiba telponku berdering.
__ADS_1
"Siapa nai?" tanyanya.
"Ini nomornya steven tadi," kataku gugup.
"Ya kalau kamu belum siap gak usah diangkat," katanya.
"Aku harus berani kalau aku sembunyi terus masalah gak akan selesai dan aku akan buktikan ke kamu kalau aku bisa move on," kataku.
"Iya oke kalau gitu," katanya.
Kemudian aku mengangkat telponnya.
"Nai pulang dong gue kangen," katanya.
"Dengar ya stev gue sama matthew udah punya hidup baru jadi lo jangan ganggu gue lagi," kataku.
"Maksud lo?" katanya.
"Ya gue sama dia udah pacaran dan cowok yang ada di hati gue sekarang itu cuma dia," kataku.
"Gak gak mungkin lo pasti bohong," katanya.
"Terserah lo deh mau percaya atau enggak yang pasti gue cinta sama dia," kataku ragu.
Kemudian aku menutup telponnya setelah itu aku menangis dengan sigapnya dia langsung memeluk ku. Aku nyaman saat di peluknya.
"Aku tau ini berat buat kamu tapi kamu harus kuat dan aku janji akan selalu bersama kamu kapanpun kamu butuh," kataku.
Matthew langsung mengantarku pulang karna situasi tak mendukung untukku jalan.
Sesampainya di apartement.
"Kamu istirahat dulu nanti malam aku jemput baru kita jalan kalau sekarang gak memungkinkan," katanya.
"Iya tapi janji nanti malam di jemput," kataku.
"Iya," jawabnya.
Setelah itu akupun masuk. Tak terasa malam pun tiba aku bersiap dan berdandan se cantik mungkin.
"Kok perasaanku sama Matthew gak sama ya sama perasaan aku ke Steven," kataku saat sedang melamun.
Tak lama kemudian matthew menjemputku dan mengajakku ke tempat yang indah banyak bintang juga bunga bunga.
"Ini indah banget kamu yang siapin," kataku bahagia.
"Iya aku sengaja siapin tempat ini buat kamu, karna aku tau kamu type cewek yang sederhana lebih suka alam dan kamu lebih suka sendiri daripada beramai ramai," katanya.
"Aku gak nyangka kamu tau semua yang aku mau aku sayang kamu," kataku lalu memeluknya.
Setelah malam yang sangat indah itu aku melalui hari dengan sukacita belajar dan bekerja.
__ADS_1