
Sesampainya di rumah steven duduk bergabung dengan ayah ibu dan lainnya sementara aku langsung berjalan ke kamar untuk ganti baju. Setelah selesai aku langsung menemui mereka di ruang tamu.
"Jadi naila kamu dan steven akan tunangan minggu depan dan kalian harus mempersiapkan dari sekarang agar tidak terlalu terburu buru," kata mamanya steven.
"Iya tante aku ikut aja gimana keputusan orang tua," kataku.
Setelah selesai membahas semuanya keluarga steven pun pulang dan setelah mereka pulang aku langsung masuk ke kamar untuk menggantungkan frame hadiah dari steven.
"Dimana ya bagusnya apa aku tanya ibu aja," kataku.
"Iya deh aku tanya ibu aja," kataku.
Lalu aku membuka pintu kamar dan berteriak memanggil ibu dari depan pintu.
"Ibu ibu sini deh bentar nai mau tanya sesuatu," kataku berteriak.
"Iya bentar," jawab ibu berteriak.
Tak lama kemudian ibu menghampiriku ke kamarku.
"Iya ada apa nai kok teriak teriak," kata ibu.
Aku menarik tangan ibu masuk ke dalam.
"Sini deh bu," kataku.
"Iya ada apa?" tanya ibu.
Aku mengambil frame dan menunjukkan pada ibu.
"Liat deh bu naila di kasih frame sama steven bagus kan," kataku sembari menunjukkan frame itu.
Ibu duduk di tempat tidur dan mengambil frame itu dari tanganku.
"Ternyata bubu kamu itu romantis ya," kata ibu.
Lalu aku menyusul duduk di tempat tidur.
"Iya lah hmm..menurut ibu ini cocoknya di gantung dimana ya?" kataku sembari bertanya.
"Kayaknya bagus di dinding sebelah situ deh," kata ibu sambil menunjuk ke arah dinding samping tempat tidur ku.
Lalu aku berjalan ke samping tempat tidur ku dan mengambil martil dan paku.
Setelah itu aku menggantungkan frame nya disitu.
"Gimana bu bagus kan," kataku.
"Iya bagus ya udah ibu keluar dulu ya mending kamu mandi ini udah sore," kata ibu lalu keluar.
"Aku selalu berdoa bu biar kita selalu sama sama bubu untuk cici dan cici untuk bubu aku gak pernah berharap lebih dari apa yang aku dapat sekarang kamu adalah salah satu cinta di hidup aku," kataku pada diri sendiri.
Keesokan harinya.
Aku mandi setelah selesai mandi aku berjalan keluar kamar dan di meja makan ternyata ada steven.
"Lho? kok ada bubu," kataku.
"Emang gak boleh," kata steven.
Aku ikut duduk bergabung.
"Ya gak apa apa sih cuman heran aja tumben kamu kesini pagi pagi," kataku.
"Udah nai biarin lah bubu kamu ini mau pendekatan dengan calon ayah mertuanya," kata ibu.
"Iya nai ayah udah mulai deket sama steven," kata ayah.
"Iya deh iya," kataku seolah pasrah.
Setelah selesai sarapan aku diantar steven berangkat ke kantor. Tak berapa lama kemudian aku sampai di kantor.
"Ya udah aku masuk dulu ya," kataku.
"Iya nanti sore pulang kantor aku mau jemput kamu buat urusin pertunangan kita," kata steven.
"Iya terserah kamu deh," kataku.
Lalu aku masuk dan menemui Tania.
"Pagi bu," sapa tania.
__ADS_1
"Pagi tan gimana ada yang interview," kataku.
"Iya bu kita dapat karyawan baru," kata tania.
"Bagian apa?" tanyaku.
"Itu bu officegirl dan satpam," katanya.
"Oke tolong kamu kenalin saya dan mereka," kataku.
Lalu kami berjalan menuju dapur kantor untuk menemui officegirl baru itu.
"Hey nina ini bu naila pemilik perusahaan," kata tania.
"Eh pagi bu saya nina officegirl baru," katanya sambil menyalam ku.
"Iya saya naila," kataku.
"Baik bu ibu mau bertemu dengan satpam baru," kata tania.
"Tunggu," kataku.
"Nina tolong kamu siapkan saya coklat panas," kataku pada nina.
"Baik bu," katanya dengan sopan.
Lalu aku dan Tania berjalan ke parkiran kantor untuk menemui satpam baru itu.
"Bimo.." kata Tania.
"Iya bu," jawabnya sopan.
"Ini ibu naila pemilik perusahaan ini," kata tania.
"Ohh saya bimo satpam baru," katanya sambil tertunduk sopan.
"Iya saya suka melihat kamu," kataku.
"Hah? ibu suka sama saya," katanya.
"Maksud saya kamu orang yang baik saya suka kamu kerja disini," kataku berusaha menjelaskan.
"Ohh saya pikir ibu suka sama saya," katanya.
Aku tertawa geli.
Kemudian aku kembali berjalan masuk ke dalam kantor. Saat berada di ruangan ku aku melihat secangkir coklat hangat sudah disajikan.
Aku meminum coklat panas itu sampai habis. Tak berapa lama kemudian aku merasa aneh dengan tenggorokan ku. Lalu lama kelamaan aku mulai pusing dan mual mual. Lalu tak sadarkan diri.
......
Tak berapa lama kemudian aku mulai sadarkan diri dan membuka mata. Saat pertama kali membuka mata aku melihat steven di sebelah ku.
"Mmmm..." kataku karna tenggorokan ku terasa sakit.
"Nai sayang kamu udah sadar," katanya sambil mengelus kepalaku.
Dia menggenggam erat tanganku.
"Iya aku gak apa apa kok, ini aku dimana ya," kataku.
"Tadi kamu itu ditemukan tergeletak di lantai dan mulut kamu mengeluarkan busa gitu dan meraka langsung telpon aku dan langsung bawa kamu ke rumah sakit," katanya menjelaskan.
"Kenapa ya aku bisa keracunan," kataku bingung.
"Kamu terakhir minum apa atau makan apa?" tanya steven tergesa gesa.
"Terakhir aku itu minum coklat panas dari officegirl yang baru trus habis itu tenggorokan ku kayak perih gitu," kataku menjelaskan dengan sulit.
"Oke," kata steven.
Tiba tiba steven keluar dari ruang rawat ku. Lalu tak berapa lama kemudian dia kembali ke kamar ku.
"Kamu dari mana sih kok kayak keburu buru gitu," kataku.
"Aku mau cari penyebab kamu kesakitan," katanya.
"ihh kamu mah lebay aku kan udah gak apa apa," kataku.
"Kamu kan gak tau seberapa takutnya aku tadi aku bener bener takut kehilangan kamu kamu itu hujan yang selalu ada ketika hati ku kering," katanya sambil memegang erat tangan ku.
"Ya udah lah aku kan udah baik baik aja sekarang mending kamu pulang pasti kamu udah capek banget," kataku.
__ADS_1
Tak lama kemudian tania membawa cangkir bekas minuman ku dan juga nina si officegirl yang baru.
"Lho? kok semua pada kesini gimana kantor," kataku.
"Tenang aja bu ada bimo dan tia," kata tania.
"Trus nina ngapain kesini," kataku lagi.
"Tadi kan kamu bilang kalau kamu terakhir minum minuman buatan dia aku bakal chek gelas ini kita bakal buktikan apakah dia yang mau mencelakakan kamu," kata steven menjelaskan.
Lalu steven pergi membawa gelas itu untuk di tes lab sementara tania dan nina menunggu di ruang rawat ku.
"Kamu tenang aja nin kalau kamu gak salah steven gak mungkin marahin kamu jadi kamu tenang aja," kataku berusaha menenangkan nina yang tampak lemas.
"Iya bu saya baik baik aja kok," kata nina yang berusaha tenang.
Tak berapa lama kemudian steven membawa amplop putih ke dalam ruangan ku.
"Gimana bu?" kataku penasaran.
"Aku bener dia pelakunya dia yang udah meracuni kamu di dalam minuman yang dia buat," kata steven dengan nada tinggi.
Aku menoleh ke arah nina.
"Kamu ada masalah apa dengan saya sampai sampai kamu mau mencelakakan saya," kataku.
Dan ternyata dia adalah seseorang yang menyamar dia melepas rambut palsunya dan juga *** lalat di wajahnya begitupun dengan kacamatanya.
"Karna gue benci sama lo karna lo kakak gue reina bunuh diri dan lo juga rebut cinta gue steven," katanya dengan marahnya.
"Hah? kamu adiknya mbak reina sekretaris matthew," kataku terkejut dan belum sepenuhnya percaya.
"Iya dan bodohnya kami berdua sama sama jatuh cinta dengan laki laki yang sama dia stres dan akhirnya bunuh diri," katanya mulai menangis.
"Sorry gue bener bener gak tau soal meninggalnya mbak reina dan gue sama sekali gak tau," kataku.
Steven mendekatinya.
"Tapi cinta yang lo punya untuk gue itu salah dan cinta itu gak seharusnya ada," kata steven.
"Lo sendiri yang bilang ke naila kalau cinta gak pernah salah dan naila juga bilang begitu jadi kenapa cinta yang gue dan reina punya di bilang sebuah kesalahan," katanya sambil memukul mukul steven.
"Iya cinta gak harus memiliki tapi cinta kadang harus merelakan bahkan harus kahilangan," kata steven.
Dia mulai menangis dan terjatuh aku meminta bantuan tania untuk turun dari tempat tidur dan mendekati emely.
"Gue tau perasaan lo dan gue ngerti ini berat buat lo tapi cinta gak bisa dipaksa dan kalau dipaksa akhirnya akan mengakibatkan rasa sakit," kataku.
"Gue yakin di luar sana ada yang menantikan lo dan mungkin itu bukan steven kalau lo bener bener cinta sama steven lo harus bisa buat relakan dia karna mungkin gue adalah cinta yang seharusnya dia miliki," kataku.
Dia semakin menangis dan tiba tiba tertunduk di kaki ku.
"Eh apa yang lo lakuin ayo berdiri," kataku sambil membantunya berdiri.
"Lo emang perempuan yang pantes buat steven gue bener bener minta maaf gue udah buat dosa yang besar banget dan itu mungkin sulit banget buat dimaafin," katanya.
"Gue tau perasaan lo gue gak bakal lapor lo ke polisi lo berhak hidup bahagia karna gue gak mau apa yang terjadi sama reina itu terjadi sama lo karna sebenernya lo adalah perempuan yang baik," kataku lalu menghapus air matanya.
"Kalau gitu gue pamit ya semoga hubungan lo dan steven selalu baik baik aja," katanya lalu pergi.
Lalu aku kembali ke tempat tidur.
"Tan kamu pulang ya ini udah sore sama satu lagi tolong siapkan bahan presentasi kita untuk client pertama kita itu," kataku.
"Baik bu kalau gitu saya pamit pulang ya bu," katanya lalu pergi.
Sekarang tinggal aku dan steven dan saat aku menoleh ke arahnya matanya penuh amarah.
"Bubu aku harap kalau nanti orang tua kita datang terus tanya aku kenapa kamu jangan ceritain soal emely," kataku.
"Tapi kenapa dia udah hampir bunuh kamu dan aku hampir kehilangan kamu dia udah salah besar dan sepantasnya di penjara," kata steven.
"Dia gak salah dia juga gak mau terjebak dalam cinta dia gak mau berbuat jahat sebenernya tapi karna cinta itu dia mau jahat sama aku tapi sejujurnya aku tau dia gak mau lakukan itu," kataku.
Tak berapa lama kemudian Ibu, ayah, Papa dan mamanya steven datang bersamaan.
"Nai kamu kenapa?" kata ibu dengan mata seperti sehabis menangis.
"Nai gak apa apa kok tadi cuman salah makan," kataku beralasan.
"Sekarang keadaan kamu gimana?" kata mamanya steven.
"Aku udah baik baik aja kok tan dan nanti malam kalau udah bener bener stabil nai udah boleh pulang," kataku menjelaskan.
__ADS_1
Tak terasa hari mulai malam dokter datang untuk memeriksa ku dan ternyata keadaan ku sudah stabil dan aku di diperbolehkan untuk pulang malam itu juga.