
Dan akhirnya kami sampai di rumah sakit aku dan steven turun dari taksi, steven masih dalam keadaan pingsan.
Aku memanggil beberapa suster untuk menangani steven.
"Sus tolong temen saya dia tadi kecelakaan," kataku panik.
"Iya baik mbak," kata salah satu suster.
Steven pun di bawa ke ruang UGD. Aku panik sekali disatu sisi steven di sisi lain masa depanku.
"Duh, gimana nih kalau sampai big boss marah kontrak bisa dibatalkan," kataku bingung.
"Tapi gak mungkin kan aku ninggalin steven sendirian." tambahku.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Dok.. dok gimana kondisi teman saya," kataku panik.
"Hmm.. temen kamu baik baik aja kok mungkin dia pingsan karna terkejut," kata dokter menjelaskan.
"Huh baguslah e..e.. saya boleh jenguk dia dok," kataku lega.
"Boleh tapi jangan berisik ya biarkan dia istirahat," kata dokter lagi.
__ADS_1
"Iya dok iya saya masuk dulu ya," kataku sambil membuka pintu.
Setelah aku berada di dalam ruangan, air mata seolah ingin menetes melihat steven yang kocak terbaring tak berdaya. Aku mendekat dan duduk di sebelah steven dan memegang tangannya.
"Hmm.. steven lo cepet sadar ya lo gak keren sama sekali kalau pingsan gini, culun tau," kataku berbisik.
"Oh iya kita kan mau tanda tangan kontrak lo emangnya gak mau jadi arsitek kece kayak yang lo bilang," kataku sembari meletakkan tangannya di pipiku. Air mata mulai menetes di pipiku.
Tiba tiba aku merasa tangan steven bergerak, dan ternyata benar dia menghapus air mataku.
"Gue gak apa apa kok lo gak usah nangis," katanya saat baru sadar.
"Lo udah sadar, eh siapa juga yang nangis," kataku.
"Gak usah gengsi kali, lagian kan gue sahabat lo masa gue pingsan lo gak nangis," katanya.
"Iya deh iya terserah lo aja," balasku.
"Enggak kok gue gak apa apa," jawabku.
"Bukan masalahnya luka dalam kelamaan jomblo,"katanya sembari tertawa meledek ku.
"Ihh gue pikir lo serius khawatir, dasar lu sahabat nyebelin," kataku marah.
"Ya ya sorry tapi gue beneran khawatir lo, sorry ya gue gak hati hati bawa motornya," katanya memelas.
Saat sedang mengobrol telpon ku berdering, *Kring*... suara telpon ku.
__ADS_1
"Bentar ya stev gue angkat telpon dulu," kataku.
"Ya angkat gih siapa tau penting," katanya.
Kemudian aku mengangkat telpon.
"Ya hallo dengan siapa?" tanyaku.
"Ini dengan naila saya big boss perusahaan yang akan jadi tempat kerja kamu," katanya dengan nada cukup tinggi.
"Aduhh mati gue," kataku dalam hati.
"E..e..e maaf pak saya telat soal tadi itu saya dan teman saya kecelakaan," kataku gugup.
"Ohh begitu ya kalau gitu saya tunggu sekarang juga di kantor," katanya.
"Iya iya iya pak," kataku setelah itu dia menutup telpon.
Aku kembali ke ruangan steven.
"Stev gini big boss tempat kita kerja nyuruh gue buat ke kantor sekarang," kataku.
"Truss gue gimana," ucapnya dengan nada memelas.
"Kan disini ada suster," kataku polos.
"ya udah deh lo pergi aja gak apa apa tapi lo mau naik apa kesananya," tambahnya.
"Gampanglah ya udah gue pergi dulu ya," kataku pamit.
Aku pun keluar rumah sakit dan menaiki angkot. Dan pergi sendirian menuju kantor baruku.
__ADS_1