
Keesokan harinya.
Aku bangun lalu mandi setelah selesai mandi aku keluar dari kamar dan ternyata steven sudah di rumahku.
"Lho? kamu kok udah disini," kataku heran.
"Kan kita mau urusin soal pertunangan kita jadi kan," kata steven.
"Oh kalau itu sih aku udah siap semalem aku udah telpon si Tania aku suruh handle," kataku.
"Ya udah yuk berangkat," kata steven.
Kemudian aku pamit dengan ayah dan ibu lalu pergi.
"Kita urus apa duluan ya," kata steven.
"Kan kemarin undangan udah sekarang kita urus baju kita yuk," kataku.
"Oke," jawab steven.
Kemudian kami pergi ke butik langganan mamanya steven. Setelah selesai urusan pakaian kamipun pergi ke catering untuk mengurus konsumsi. Tak berapa lama akhirnya selesai.
"Trus sekarang kita kemana lagi mau urus yang mana lagi," kataku.
"Kelihatannya..kamu kecapean mending kita pulang aja ya biar kamu bisa istirahat," katanya.
"Sayang ku bubu ku kamu gimana sih kan biar semuanya selesai mending kita cari cincin pertunangan," kataku.
"Iya deh tapi janji ya habis itu kita pulang, soalnya muka kamu udah pucat banget.." steven seperti tak ikhlas.
"Iya terserah kamu deh," kataku lalu naik ke atas motor steven.
Kamipun pergi ke toko emas untuk mencari cincin pertunangan.
Sesampainya di toko emas.
"Mbak ini yang mana ya model terbaru," aku bertanya pada si penjual.
"Untuk model terbaru yang ini mbak, tapi menurut saya sih ini paling bagus apalagi jari mbak putih," katanya sambil menyodorkan dua model cincin.
Aku menatap steven namun raut wajahnya tampak khawatir.
"Kamu kenapa sih, ayo dong bantu aku pilih," aku spontan mengatakannya saat melihat wajah steven.
"Aku gak apa apa kok.., kamu aja yang pilih aku pasti suka kok," katanya sambil memegang wajahku.
"Ya udah deh..," kataku lalu kembali memilih cincin.
Aku cukup lama memilih sampai akhirnya aku menemukan sebuah cincin sederhana.
"Saya mau yang ini mbak," kataku sambil menunjukkan sepasang cincin berlian sederhana.
"Baik mbak akan saya siapkan," kata si penjual.
Aku menoleh ke arah steven.
__ADS_1
"Bubu.., kamu kenapa sih dari tadi kayak gak tenang gitu," aku heran melihat sikap steven yang berubah.
"Enggak kok aku gak apa apa, gimana udah dapat cincinnya..kalau gitu kita pulang yuk," kata steven.
Saat akan berjalan keluar toko, tiba tiba perutku sakit dan akhirnya akupun pingsan.
Saat aku membuka mata, aku berada di kamarku.
"Ehmm...bu," kataku saat menoleh dan melihat steven.
"Iya ci..kamu sih kan aku udah bilang kita pulang kamu kekeh mau ngurusin tunangan kan jadi kecapean harusnya kamu bisa jaga diri dong," katanya memarahi ku.
"Nai apa yang sakit sayang," ibu ikutan panik.
"Tadi sih perut bu, tapi sekarang udah baik kok," aku berusaha menenangkan mereka.
"Kita ke dokter aja ya, kita gak boleh menyepelekan masalah ini," kata steven.
Aku menatap wajahnya yang panik.
"Gak perlu..aku baik baik aja kok, kamu gak perlu khawatir mending sekarang kamu pulang," aku kembali menenangkan nya.
"Oke, bu steven pulang duluan ya," kata steven berpamitan sopan dengan ibu.
Setelah steven pulang ibu keluar dari kamarku.
"Kenapa ya..? aku kok merasa aneh sama perutku," aku menjadi khawatir.
Keesokan harinya.
Aku bangun dan berjalan ke kamar mandi setelah selesai mandi aku berjalan keluar kamar ke meja makan.
"Pagi bu, oh iya nai izin gak sarapan ya soalnya ada meeting pagi," kataku pada ibu.
"Yaaah...padahal ibu udah masak banyak banget," ibu tampak kecewa.
"Maaf ya bu, ya udah nanti siang nai makan banyak banget," kataku.
"Ya udah nai berangkat dulu ya bu," tambahku sambil menyalami ibu dan ayah.
Sesampainya di kantor.
Aku masuk ke dalam ruangan, dan menelpon tania.
"Halo tania," kataku membuka percakapan.
"Iya..halo bu, ada yang bisa saya bantu," jawabnya.
"Tolong kamu chek schedule saya," kataku.
"Baik bu, saya chek sebentar," dia menjawab sopan.
Dia terdiam sejenak.
"Ohh siang ini kita ada meeting bu dengan client," katanya tak berapa lama kemudian.
"Iya kamu nanti temui saya di ruangan saya saat mau berangkat meeting, jangan lupa juga siapin berkas berkas buat meeting," kataku.
"Baik bu," jawabnya
__ADS_1
Aku mematikan telpon lalu duduk di bangku kerja ku. Tapi, tiba tiba perutku sakit.
"Duh.., kok tiba tiba perutku sakit ya," kataku sambil menahan sakit.
"Rasanya kok persis kayak yang semalam ya," aku mencoba menahan rasa sakit ini yang perlahan menghilang.
Akhirnya sakitnya hilang dan aku kembali rileks.
"Huh..~, udah hilang sakitnya, aku kenapa ya semoga ini gak serius," kataku.
Sepulang dari kantor.
Malam harinya saat berada di kamar. Perutku kembali sakit dan rasanya luar biasa.
"Aduh..kok sakit lagi, sakit banget," kataku sampai aku terjatuh ke lantai.
"Gue gak apa apa, sebentar lagi adalah hari pertunangan gue, gue pasti kuat," aku berdiri dan naik ke atas tempat tidur.
Keesokan harinya.
Aku pergi ke kantor seorang diri. Setelah sampai di kantor aku menyelesaikan beberapa proyek agar tidak mengganggu pertunangan ku yang sebentar lagi diadakan.
Pada malam harinya. Aku masih berada di kantor sampai larut malam karna aku memutuskan untuk lembur.
"Gue harus bisa proyek proyek ini harus selesai kalau gue udah bikin desainnya selanjutnya bisa di bantu sama tania," kataku.
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu.
"Iya masuk," kataku.
Dan ternyata itu adalah tania.
"Malam bu, karyawan yang lain udah pada pulang semua, ibu mau lembur?" katanya sembari bertanya.
"Iya tan kan kita lagi banyak proyek nih saya bentar lagi mau tunangan, jadi desainnya harus cepat selesai, besok kamu atur jadwal saya survei lokasi," kataku sembari sibuk mengerjakan desain.
"Apa ibu udah makan? ibu kelihatannya pucat banget, ibu sakit ya," katanya sembari bertanya.
"Enggak kok ya udah kamu pulang sana nanti kemaleman besok jangan lupa datang pagi ya," kataku mengingatkan.
"Iya bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bu, soalnya udah malem juga," katanya.
"Iya hati hati di jalan ya," kataku.
Lalu tania pulang kemudian aku melanjutkan pekerjaanku. Tak lama setelah itu steven menelpon ku.
"Iya halo bubu," kataku.
"Kamu dimana sih ci kan aku udah kangen," katanya.
"Kamu lebay ah, aku masih di kantor nih lagi ngejar target soalnya, kan bentar lagi hari pertunangan kita," kataku.
"Kamu lembur? gimana sih kalau nanti kamu sakit gimana ci?" kata steven.
"Enggak kok bentar lagi aku pulang kamu tenang aja," aku mencoba menenangkan steven.
"Ya udah aku jemput," katanya lalu menutup telpon.
Aku merapikan desain desainnya ke dalam lemari kemudian berjalan keluar kantor sambil menunggu steven menjemput.
__ADS_1