
Setelah berada di dalam taksi aku langsung menelpon ibu dekan.
"Hallo bu selamat siang," kataku.
"Ya selamat siang," katanya.
"Ini saya naila bu, saya mau ketemu ibu bisa bu," kataku menjelaskan.
"Oh naila, bisa kok sekarang saya masih di kampus di ruang dekan," katanya.
"Oke saya kesana sekarang ya bu kalau gitu saya tutup dulu telponnya," kataku lalu menutup telpon.
Akupun pergi ke kampus untuk menemui ibu dekan. Sesampainya di kampus aku langsung turun dari taksi dan berlari masuk ke kantor dekan.
Aku mengetuk pintu.
Tok..tok..tok suara pintu yang ku ketuk.
"Masuk," katanya dari dalam.
Aku masuk ke dalam ruangan.
"Siang bu," kataku.
"Siang, duduk nai," katanya.
"Iya bu," kataku sembari duduk.
"Kamu memangnya mau bahas apa," katanya.
"Ini soal beasiswa Amerika itu," kataku
"Ohh jadi gimana keputusan kamu," katanya.
"Saya mau ambil beasiswa itu bu saya mau," kataku.
"Wah keputusan yang baik kalau gitu saya akan urus berhubung kamu masih 3 tahun lagi kuliah disini nanti akan saya bicarakan dengan kampus di Amerika," katanya menjelaskan.
"Kalau gitu saya pamit ya bu," kataku sembari berdiri dari kursi.
"Iya iya silahkan," katanya.
Kemudian aku keluar ruangan dan berjalan menuju taman kampus. Di taman aku menelpon ibu.
Setelah diangkat aku langsung mengatakan apa yang ingin aku katakan.
"Hallo bu," kataku.
"Iya hallo nai ada apa tumben nelponnya siang," katanya.
"Disana ada bapak bu," tanyaku.
"Enggak bapak lagi jualan tuh ibu sendiri di rumah," kata ibu menjelaskan
"Ohh naila mau ngomong ni buk," kataku.
"Ohh ya udah ngomong aja ," kata ibu lembut.
"Naila sama sekali gak bisa pulang walaupun liburan," kataku.
__ADS_1
"Kenapa emangnya kamu sibuk ya," kata ibu jadi lesu.
"Iya buk rencana naila sih naila pulang bawa gelar sarjana dan bikin ayah bangga supaya aku bisa buktiin kalau Wanita juga bisa berkarir," kataku.
"Iya ya udah terserah kamu ajalah," kata ibu.
Aku kemudian menutup telponnya.
"Aku gak bisa cerita sekarang ke ibu kalau aku bakal ambil beasiswa ke Amerika 3 tahun lagi," kataku dalam hati.
Setelah itu aku berjalan ke luar kampus sambil menunggu taksi aku duduk di salah satu bangku yang ada di depan kampus. Tiba tiba mobil hitam berhenti di depanku.
"Kok kayak kenal ya tapi mobil siapa?" kataku bertanya tanya.
"Eh bentar deh kayaknya ini mobil pak No ya, kan," tambahku.
Setelah itu seorang pria turun dari mobil dan ternyata dia adalah pak No.
"Tuh kan bener dugaan gue," kataku setelah melihatnya.
"Eh naila lo mau kemana?" tanyanya.
"Mau pulang pak ke kost an," kataku.
"Ayo bareng saya aja saya anter sampe rumah," katanya.
"Oke ayo pak," kataku.
Aku dan pak No masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia mulai menjalankan mobilnya.
"Oh iya ada yang mau saya bicarakan," kataku gugup.
"Soal apa," katanya.
"Soal kontrak," kataku.
"Emang kontrak lo kenapa," katanya.
"Hah?!" katanya dengan raut wajah kaget.
Sampai tiba tiba dia rem mendadak.
"Kenapa pak gak boleh ya," kataku.
"Bukan gitu bukannya lo mau ke Amerika ya," katanya.
"Iya tapi itu 3 tahun lagi jadi saya putusin buat nabung dulu selama 3 tahun ini," kataku.
"Ohh ya udah nanti urus aja sama reina gue nanti email ke dia lo mau tambah kontrak," katanya.
"Makasih ya pak," kataku.
"Iya sama sama lagian gue masih butuh lo kan gara gara lo jadi perusahaan gue banyak proyek sekarang," katanya.
"Ya itu karna kerjasama saya dan steven," kataku.
"Gak usah deh sebut nama dia naik tensi gue," katanya dengan raut wajah kesal.
"Emang kenapa pak kalau saya sebut nama dia," kataku bingung.
"Dia tuh sok deket aja sama lo gue kan gak suka," katanya kesal.
Aku kurang memperdulikan apa yang dikatakan pak No.
"Apa pak bapak ngomong tadi saya gak denger," kataku.
"Ngak ngak bukan apa apa," katanya gugup.
Setelah itu dia terdiam tak berkutik. Aku bingung dengan sikapnya. Tak terasa akhirnya kami sampai di kost an ku. Aku langsung turun dari mobil. Diapun ikut turun juga dari mobil.
__ADS_1
"Makasih ya pak," kataku.
"Iya sama sama," katanya.
"Ya udah saya masuk dulu ya pak," kataku sambil berbalik ke arah pintu kost an.
"Eh nai tunggu," katanya gugup.
"Iya pak ada apa lagi," kataku
"Soal omongan gue tadi gak usah lo pikirin ya tadi gue cuman bercanda," katanya gugup.
"Iyain aja deh daripada lama," kataku dalam hati.
"Iya iya pak bapak tenang aja," kataku polos.
"Oke masuk gih," katanya.
Akhirnya aku masuk ke dalam kost an.
"Tadi pak No ngomong apaan ya kayak ngak suka gue deket sama steven maksudnya apaan ya," kataku bingung.
Malam harinya aku ngak pergi ke kampus karna lagi males banget. Aku tertidur sampai tak menghiraukan telpon dari steven. Sampai akhirnya dia menemui aku di rumah.
Tok..tok..tok.. suara pintu yang diketuk.
Aku terbangun.
"Siapa sih malem malem berisik amat ganggu orang tidur aja," kataku kesal.
Aku pun membuka pintu sambil sesekali mengusap wajah.
"Iya siapa sih malem malem," kataku sembari membuka pintu.
"Ini gue steven," katanya.
"Eh steven ada apa stev lo dateng kesini malem malem," kataku bingung.
"Lo kenapa gak ngampus," tanyanya.
"Iya gue lagi males aja," kataku sembari duduk di bangku teras.
"Katanya mau sukses tapi kok males males an gini," katanya.
"Iya gue lagi gak enak badan nih," kataku.
"Ohh jadi lo lagi sakit kita ke dokter aja yuk gue anterin lo," katanya sambil menarik ku.
"Gak gak gak usah paling gue butuh istirahat aja kok ya udah gue tidur dulu ya lo pulang aja gih udah malem," kataku sambil mendorong dorong dia.
"Ya udah deh gue pulang dulu ya," katanya.
"Iya hati hati," kataku.
Setelah itu aku masuk kembali ke dalam kamar dan langsung tidur.
Keesokan harinya.
"Uah.." aku menguap tanda masih mengantuk.
"Udah pagi mending gue buru buru ke kantor buat urus kontrak semoga aja gue bisa nabung buat pegangan di Amerika nanti," kataku sambil bangkit dari tempat tidur ku.
Aku berlari ke kamar mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Setelah selesai aku langsung keluar dari kost an dan saat sampai di teras aku melihat mobil pak No.
__ADS_1
"Hah?! mobil pak No ngapain dia dateng ke sini kurang kerjaan amat," kataku heran.