
Siang harinya matthew dimakamkan.
Setelah selesai dimakamkan semua orang pulang termasuk ibu matthew yang diantar oleh orang suruhanku.
"Nai kita pulang yuk," kata steven.
"Gue masih mau disini kalau lo mau pulang lo pulang duluan aja," kataku.
"Tapi nai...~" katanya.
"Sudahlah stev gue masih mau sendiri gue masih pengen bilang selamat tinggal ke matthew," kataku.
"Segitu berharganya matthew buat lo sampai lo se sedih ini," katanya.
"Iya dia berharga buat gue karna apa karna dia yang selalu ada buat gue yang selalu ada disaat gue terpuruk, dan dia yang bantu gue buat lupain lo gue gak pernah minta itu semua tapi dia selalu ada buat gue," kataku persis di depan wajah steven.
"Gue juga bisa nai gue bisa jadi apa yang lo mau," katanya.
"Gak lo itu adalah orang yang gak pernah komit dengan apa yang lo ucapkan dulu lo pernah komit buat gak ada cinta diantara kita disaat itu cinta yang gue punya buat lo serasa lo lempar jauh jauh lo bilang lo gak bakal cinta sama gue," kataku sambil menangis.
"Gue tau gue salah gue gak bisa hilangkan perasaan gue buat lo, komit itu adalah satu kesalahan besar yang pernah gue buat, gue gak tau entah kapan rasa cinta ini muncul dihati gue," katanya.
Kemudian aku meninggalkan dia dan berjalan ke salah satu tempat yang selalu gue datangi disaat ingin sendiri.
"Tuhan kau sudah mengambil salah satu kebahagian di hidup ku kau ambil matthew yang selama ini selalu ada buatku, kau ambil separuh dari senyum ku," kataku sambil menangis.
Tak terasa hari mulai malam aku berjalan pulang namun saat di perjalanan hujan turun sangat deras.
"Nai...nai...naila!!!" teriakan dari sebuah arah.
Saat aku menoleh ke belakang ternyata steven.
"Steven," kataku terkejut.
"Nai kita pulang yuk, lo gak perlu lagi mikirin matthew dia udah bahagia disana lo harus jalani masa depan lo yang baru bareng gue gue yang akan gantiin posisi matthew," katanya sambil memegang tanganku.
Aku melepas tanganku dari genggamnya.
"Lo gak akan bisa gantiin posisi matthew lagian sisil butuh lo dan dia berhak miliki lo," kataku.
"Apa sih nai gue gak pernah cinta sama dia gue gak pernah sayang sama dia dan dia gak bakal bisa bikin gue cinta sama dia," katanya.
"Gue gak pantes buat lo gue udah tinggalin lo bertahun tahun bahkan disaat lo lagi kritis gue gak pantes buat lo stev, sementara ada sisil yang selalu ada buat lo bahkan disaat dia tau dia gak pernah dicintai sama lo," kataku lalu pergi berjalan pulang sendirian.
__ADS_1
Sesampainya aku dirumah aku langsung masuk ke kamar dan mandi lalu tidur. Kira kira jam 00:00 malam ibu datang ke kamar ku dan membangunkan ku.
"Nai nai bangun," kata ibu.
"Apa sih bu nai masih ngantuk," kataku.
"Steven nai steven," kata ibu.
"Iya steven kenapa?" kataku.
"Steven kecelakan waktu habis cariin kamu," kata ibu.
"Hah?! ibu serius," kataku langsung terbangun.
Aku, sisil, ayah, dan ibu berangkat ke rumah sakit tempat steven dirawat.
Sesampainya di rumah sakit ibu langsung merangkul mamanya steven sementara aku masuk ke dalam.
"Stev gue minta maaf gue udah bikin lo jadi kayak gini seandainya gue gak berantem sama lo pasti lo gak bakal nekat kayak gini," kataku sambil menangis.
Seminggu berlalu namun steven tak kunjung sadar. Sampai dokter meminta agar alat bantu hidup steven di cabut.
"Bu saya dan tim sudah menyerah kalau sampai nanti malam dia belum juga sadar maka kami mohon izin untuk mencabut alat bantu nya," kata dokter pada mama steven.
Saat tante ingin tanda tangan aku langsung menghentikannya.
"Jangan tante pliss jangan biarin steven dia pasti sadar malam ini kasih dia kesempatan tante," kataku memohon.
"Enggak tan enggak steven pasti bisa dia bakal buktikan ke kita kalau dia gak bakal tinggalin kita," kataku semakin memohon.
Kemudian aku masuk ke dalam ruangan steven.
"Stev bangun stev lo harus buktiin ke mereka semua kalau lo kuat lo janji sama gue gak bakal tinggalin gue," kataku.
"Pliss lo gak boleh tinggalin gue lo bilang lo cinta sama gue lo bilang lo mau tinggal di rumah yang lo bangun bareng gue stev pliss bangun," kataku sambil menangis.
"Tuhan jangan ambil steven dia salah satu cinta dihidup aku dia sebagian dari hidupku pliss jangan ambil dia, kau sudah ambil matthew pliss jangan ambil steven aku cinta sama dia," kataku sambil memeluknya.
Tiba tiba ada tangan yang menyentuh kepalaku.
"Tan pliss kesempatan ke steven jangan cabut alat bantunya," kataku saat mengira mama steven menyentuh kepalaku.
Namun beberapa saat kemudian aku sadar kalau bukan mama steven yang menyentuh kepalaku.
"Hah? steven lo sadar," kataku.
Dia meneteskan air mata.
__ADS_1
"Dokter..dokter...Tante steven sadar," kataku.
"Kamu serius nai," kata mama steven.
"Iya tadi steven elus kepala aku trus tadi dia meneteskan air mata," kataku senang.
Kemudian dokter memeriksa steven.
"Ini keajaiban saya pikir mustahil untuk steven sadar lagi namun sekarang dia sudah stabil. Nanti saya akan cabut alat bantu pernapasannya karna dia sudah bisa bernafas normal," kata dokter menjelaskan.
Kemudian dokter dan mamanya steven keluar.
"Terima kasih Tuhan kau gak ambil steven," kataku.
"Gue janji stev gue gak bakal tinggalin lo lagi gue gak bakal buat lo nangis lagi stev," kataku.
Di malam harinya aku pulang ke rumah. Dan aku menemui sisil. Kami berbicara di teras rumah.
"Sil gue minta maaf gue gak berhasil buat lo dan steven jadi....~" kataku terpotong.
"Gak nai aku yang salah aku udah buat sebuah kisah cinta jadi berantakan karna penyakit aku, dan aku gak mau steven cinta sama aku cuma gara gara penyakitku," katanya.
"Iya lo bener lo gak bakal bahagia kalau steven cinta sama lo namun sebuah itu karna dia tau penyakit lo," kataku.
"Cinta bukan perasaan yang harus saling memiliki tapi cinta adalah pengorbanan," katanya.
Aku menangis begitupun sisil.
"Hidup ini memang rumit yang kita inginkan belum tentu itu yang menjadi punya kita," kataku.
Keesokan paginya aku pergi ke rumah sakit pagi pagi sekali.
Sesampainya di rumah sakit aku masuk ke ruangan steven dan ternyata alat bantu pernapasan yang ada di tubuhnya sudah dicabut.
"Pagi stev," kataku.
"Pagi," katanya lemas.
Saat aku menoleh ke meja di sebelah steven ada sebuah surat.
"Stev itu surat siapa?" tanyaku lembut.
"Gak tau nai semalem mama pulangnya cepat kok jadi aku sendirian disini," katanya.
"Eeee.... kasihan," kataku sambil mengelus kepala steven.
Dia memegang tanganku dan menciumnya.
"Nai sorry ya gue udah maksa lo buat cinta sama gue," katanya.
"Stev sebenarnya gue udah sayang dan cinta sama lo dari SMP tapi gue gak pernah berani ungkapkan karna gue pikir lo gak cinta sama gue," kataku gugup.
__ADS_1
"Hah?! lo udah cinta sama gue lama," katanya.
Lalu aku mengangguk. Lalu aku duduk ditempat tidurnya sambil mengelus kepalanya.