
Akupun melanjutkan perjalanan menuju rumah steven. Sesampainya aku disana aku langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
"Stev lo tau gak sisil udah pulang," kataku sambil meletakkan tas di atas kursi.
"Udah, tadi waktu gue baru nyampek rumah katanya sih dia masih di taksi dia nelpon gue bilang kalau dia udah pulang dari rumah sakit gitu," katanya sambil bersisir.
"Ohh gitu, udah buruan nanti kita telat lagi," kataku sebel.
"Ya, yuk gue udah selesai nih," katanya sambil mengambil tas dan kunci motor.
Aku keluar lebih dulu dan menunggu di samping motor. Tak lama kemudian steven keluar, dia menutup pintu lalu menyalakan sepeda motornya. Aku menaiki sepeda motor tanpa berkutik. Di perjalanan steven terus mengajakku ngobrol aku tak menghiraukan alias cuek.
"Ngobrol dong nai bosen nih gue lo diem baek," katanya.
"Ngobrol tuh ama spion," kataku sebel.
"Kok gitu siih," katanya merasa aneh dengan sikap ku.
"Bodo amat," kataku berusaha tak menghiraukan.
"Oke oke aku diem," katanya sambil fokus membawa sepeda motor.
Sesampainya di kampus aku turun dari motor dan langsung masuk ke dalam kampus tanpa berkutik, dengan langkah kaki yang cukup cepat aku meninggalkan steven di parkiran. Dia mengejar ku dan terus memanggil manggil namaku.
"Nai, nai, naila, tunggu dong buru buru amat sih," jeritnya.
"Takut telat," jeritku balik.
Setelah dia berada disampingku aku memperlahan langkahku.
"Lo kenapa sih aneh banget sikap lo dari waktu ke kost an gue tadi," katanya heran. "Gak kok biasa aja gue lagi males aja ngobrol," kataku jutek.
__ADS_1
Sesampainya aku di dalam kelas aku membanting tas lalu mengambil salah satu buku dan membaca.
"Ihh, steven gak peka amat sih dia gak tau gue itu cemburu," kataku dalam hati
Tak lama kemudian dosen datang. Kami mulai membahas materi, aku sama sekali tak fokus karena sebel pada steven.
"Oke semua kalian sudah paham konsep baru ini," katanya sembari menunjuk ke papan tulis.
"Paham!!!" saut beberapa mahasiswi.
"Kalau gitu saya mau salah satu dari kalian menjelaskan ulang." katanya dengan nada tinggi.
"Kalau gitu mari kita dengarkan naila yang menjelaskan ulang," katanya.
Aku sontak terkejut mendengar namaku dipanggil.
"Haah?! saya kenapa pak?" tanyaku terkejut.
"Ya kamu yang jelaskan ulang," jelasnya.
"Jelaskan apa ya pak," kataku belum mengerti.
"E..e..enggak pak saya lagi gak fokus aja maaf ya pak," kataku merasa bersalah.
"Ya sudah semua kita lanjut pertemuan kita besok lagi naila saya gak mau ini terulang lagi ya," katanya.
"Ya pak," jawabku.
"Kalau gitu kalian semua boleh pulang," kata dosen menutup pembelajaran.
Aku keluar dari kelas dan langsung menuju ke luar kampus. Tiba tiba steven muncul di sampingku. Telponnya berdering.
"Nai tunggu ya ada telpon," katanya menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Emang telpon dari siapa?" tanyaku penasaran.
"Dari sisil," jawabnya polos.
"Ihh tuh kan sisil ngapain coba telpon telpon," kataku dalam hati.
"Iya sil ada apa," kata steven saat baru mengangkat telpon.
"Ihh makin sebel aja gue," kataku meninggalkan dia menuju parkiran.
Cukup lama aku menunggu di parkiran dia tak kunjung datang aku mulai mengantuk. Akupun memutuskan untuk pulang sendiri saja.
"Udah deh mending gue pulang aja males nungguin dia pasti dia lagi asik ngobrol sama sisil," kataku meninggalkan parkiran.
Akupun berjalan ke luar kampus dan menaiki taksi. Di dalam taksi aku memikirkan banyak hal.
"Aku kok aneh banget ya, kan tujuan aku tuh emang mau deketin mereka berdua sekarang kok aku yang cemburu," kataku aneh dengan perasaanku.
"Trus sampai menganggu belajar ku lagi sampai sampai aku tadi gak fokus, udah ah aku gak mau lagi mikirin steven," kataku.
"Kita sudah sampai mbak," kata supir taksi.
"Ohh iya iya," kataku.
"Ini ongkosnya pak," tambahku.
"Iya makasih ya mbak," kata supir taksi setelah aku berada di luar taksi.
Setelah aku sampai aku lansung masuk kedalam kost an. Mataku berasa ingin menangis tapi...
Keesokan Paginya...
__ADS_1
"Uahhh," aku menguap tanda masih mengantuk.
"Ohh iya aku harus cepat jangan sampai telat ke kantor nanti si boss rempong itu marah marah lagi," kataku berlari ke kamar mandi.