
"Bu gimana naila udah cantik belum?" tanyaku pada ibu di depan kamar.
"Udah kok kamu mau pakai apapun tetap cantik kok," kata ibu sambil memegang wajahku.
"Ihh ibu naila serius naila cantik atau enggak pakai pakaian ini," kataku.
"Udah cantik kok udah buruan keluar steven udah nunggu kamu," kata ibu.
"Bubu udah di depan," kataku terlalu senang.
"Bubu bukan yang didepan itu steven," kata ibu.
"Iya bubu itu panggilan sayang aku ke steven," kataku.
"Ribet ya anak muda sekarang pakai pakai panggilan sayang," kata ibu.
"Ya udah nai pergi dulu ya bu," kataku lalu mencium kening ibu.
Lalu aku berjalan keluar rumah dan steven sudah duduk di teras rumah ku.
"Hai bubu," kataku lembut.
"Hai ci cantik banget sih malam ini pasti dandan gini buat aku ya," katanya.
Aku tersenyum kecil.
"Emang kita mau kemana sih?" tanyaku.
"Aku mau kenalin kamu ke teman teman aku," katanya.
"Oh ya udah kita berangkat sekarang yuk nanti kemaleman," kataku.
"Yuk," kataku.
Kemudian kami berangkat. Sepanjang perjalanan aku memeluk erat steven.
"Ci aku gak pernah se bahagia ini lho," katanya.
"Emang kamu bahagia kenapa?" tanyaku.
"Aku bahagia bisa miliki kamu walau belum seutuhnya kamu tau gak waktu kamu tinggalin aku ke Amerika separuh nyawa aku hilang apalagi waktu kamu bilang kamu udah jadi pacar matthew aku serasa benar benar mati aku berasa dunia berhenti dan aku mati," katanya.
"Dan kamu tau gak di saat aku tinggalin kamu aku merasa aku meninggalkan jiwa aku disini apalagi waktu aku bilang aku udah pacaran sama matthew jiwa tersiksa karna aku udah bohongi perasaan aku sendiri tapi aku gak pernah nyesel aku pernah pacaran sama matthew karna dia orang yang baik," kataku.
Tak berapa lama kemudian kami sampai di cafe tempat steven bertemu teman temannya. Kami masuk ke dalam bergandeng tangan.
"Bubu aku malu ini terlalu lebay kan malu diliat orang," kataku.
"Gak apa apa kita kan udah pacaran, aku pikir ini gak berlebihan kok," katanya.
"Iya deh terserah kamu aja," kataku.
__ADS_1
Di dalam cafe banyak sekali orang sampai steven sama sekali tidak melepaskan tangannya dari tanganku. Tiba tiba ada seorang teman yang menemui steven dan mereka langsung saling mengenal.
"Hai kamu steven kan cowok culun waktu sd," katanya.
"Hey kamu emely yang selalu sok princes di sekolah," kata steven menyambut sapaannya.
"Masih inget aja lo," katanya lalu ingin memeluk steven namun steven menghentikannya.
"Sorry gue bukan steven yang dulu, dan kenalin ini naila salah satu cinta di hidup gue dan dia alasan kenapa gue gak bisa terlalu dekat sama cewek lain," kata steven tegas.
"Waw aku gak nyangka steven bisa bikin aku tersanjung kayak gini," kataku dalam hati.
"Ohh sorry. Kenalin gue emely gue temen sd nya steven gue gak bermaksud apa apa lho gue cuman merasa hal biasa berpelukan bertemu teman lama," katanya.
"Iya gak apa apa gue ngerti kok oh iya gue naila pacarnya steven," kataku berusaha tegas.
Kemudian dia meninggalkan kami dengan sombongnya.
"Bu aku ke kamar mandi dulu ya," kataku.
"Iya jangan lama lama ya," katanya.
"Iya bubu sayang," kataku lalu pergi ke kamar mandi.
Saat baru masuk ke kamar mandi kudengar suara seorang perempuan yang sedang marah marah.
"Haah....!! gak mungkin steven suka sama cewek itu pasti cewek itu yang deket deketin steven pokoknya gue bakal rebut steven dari dia dan gue bakal lakukan apapun buat dapatkan dia," katanya lalu bersiap keluar.
"Ci kamu kenapa kok kayak orang dikejar setan," kata steven.
"E..e..enggak kok aku cuman... udah lah gak usah dipikirin kita duduk aja yuk," kataku.
"Ya udah yuk," katanya.
Kemudian kami duduk di sofa.
"Stev kok aku gak suka ya lihat kamu dekat dekat sama dia si emely itu," kataku.
"Aku seneng," katanya.
"Kok seneng kan aku lagi kesel sama kamu," kataku.
"Cici aku seneng karna aku tau kalau kamu benar benar cinta sama aku lagian satu hal yang perlu kamu tau," katanya sambil memegang wajahku.
"Apa tuh?" tanyaku.
"Kamu adalah cinta pertama aku dan cinta terakhir aku, aku janji sama kamu gak ada satu wanita pun yang bisa ambil cinta aku ke kamu," katanya.
"Makasih ya," kataku lalu memeluknya.
"Buat apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Buat cinta yang kamu kasih ke aku buat ketenangan yang kamu kasih setiap aku di dekat kamu dan aku percaya kalau kamu akan selalu pegang janji kamu," kataku.
Tak berapa lama kemudian ada pesta dansa. Aku dan steven ikut berdansa.
"Aku sayang kamu cici," katanya sambil berdansa.
"Aku juga sayang bubu," kataku membalas.
Setelah malam yang indah aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku turun dari sepeda motor.
"Makasih ya udah kasih malam yang indah aku gak nyangka hidup aku bisa se bahagia ini bareng kamu," kataku.
"Iya dan aku rasa ini baru awal dari perjuangan aku untuk buktikan ke kamu kalau bisa jadi apa yang kamu mau," katanya.
"Ya udah ini udah malam pulang sana nanti mama kamu khawatir lagi," kataku.
"Ya udah aku pulang dulu Bye ci aku sayang kamu," katanya.
"Bye aku juga sayang kamu," kataku setelah dia pergi aku langsung masuk ke dalam rumah.
Setelah itu aku berjalan masuk ke kamar. Saat berada di dalam kamar aku menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur.
"Aduh gue senang banget malam ini," kataku.
"Steven udah buktikan ke gue kalau gue itu segalanya buat dia," kataku lalu tertidur.
Keesokan harinya.
Saat aku terbangun aku langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai mandi aku dandan secantik mungkin. Kemudian keluar dari kamar dan menemui ibu dan ayah di meja makan.
"Pagi bu pagi yah," kataku dengan ceria.
"Ceria banget," kata ibu.
"Oh iya nai kata ibu kamu pacaran ya sama steven trus semalam kalian dinner pertama," kata ayah.
"Maaf ya yah nai lupa cerita soalnya steven nembak nai sore trus malamnya langsung diajak ketemu," kataku pada ayah.
"Ayah ngerti kamu udah dewasa tapi gimana sama karir kamu kan sayang kamu udah kuliah sampai S2 tapi kamu gak mikirin gimana caranya biar kamu bisa sukses," kata ayah.
"Iya yah nai gak akan lupa sama karir nai rencananya nai mau buat perusahaan sendiri kan selama nai di Amerika gaji nai cukup besar jadi nai mau cari tempat kecil yang cukup dengan tempat nai," kataku.
"Emangnya gak ada orang ya yang mau kamu jadi arsitek di perusahaannya," kata ayah.
"Banyak nai nya yang gak mau nai gak mau bergantung sama perusahaan orang nai pengen punya sendiri," kataku.
"Ya udah ayah dukung semua keputusan kamu," kata ayah.
"Ibu juga ibu yakin kamu bisa," kata ibu.
Setelah selesai sarapan dan berbincang bincang dengan ayah dan ibu aku pergi ke rumah.
__ADS_1