Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Status ku berubah.


__ADS_3

 


Tak berapa lama kemudian steven datang menjemputku. Saat akan naik ke sepeda motor tiba tiba perutku kembali sakit.


 


"Ci, kamu kenapa? perut kamu sakit lagi," kata steven panik.


Aku berusaha menahan rasa sakit.


"Enggak kok aku gak apa apa, dan akan selalu gak apa apa," kataku.


Kemudian aku naik ke atas sepeda motor.


"Ci..kamu jangan sering lembur dong, kan dua hari lagi pertunangan kita kamu jangan sampai sakit," kata steven.


"Iya kamu tenang aja semuanya akan baik baik aja kamu jangan khawatir berlebihan ah," kataku.


 


Tak berapa lama kemudian aku dan steven pun sampai di rumah aku langsung turun dari sepeda motor dan berjalan masuk ke dalam rumah.


 


"Ci, tunggu," kata steven menghentikan langkah ku.


"Ya ada apa?" kataku lesu.


"Aku cinta kamu," katanya tiba tiba.


Aku merasa aneh.


"Aku juga cinta kamu," kataku lalu masuk ke dalam kamar.


Saat berada di dalam kamar aku duduk di atas tempat tidur.


"Kenapa ya? belakangan ini aku merasa aneh sama perut aku," kataku sambil memegangi perut ku.


Keesokan harinya.


Aku bangun dan langsung bersiap berangkat ke kantor.


"Duh aku hari ini harus kejar target survei ke lokasi," kataku.


Setelah selesai aku menemui ibu dan ayah di meja makan.


"Bu maaf banget naila gak sempet lagi sarapan soalnya kan besok pertunangan naila, nai harus kejar target nai gak mau semua kerjaan nai nantinya malah ganggu pertunangan," kataku berusaha menjelaskan pada ibu.


"Ibu ngerti nai pasti banyak kerjaan tapi yang paling penting itu kesehatan, jangan sampai nai malah sakit nanti," kata ibu menjelaskan.

__ADS_1


"Nai ngerti kok nanti nai sempatkan sarapan di kantor, ya udah nai berangkat dulu ya bu yah," kataku sambil menyalami ibu dan ayah. "Iya hati hati di jalan ya nak," kata ayah.


Kemudian aku berangkat ke kantor menggunakan taksi.


"Pak tolong lebih cepat saya soalnya buru buru," kataku pada supir taksi.


"Iya baik bu," kata si supir taksi.


Setelah sampai di kantor.


"Tan, kamu siapin semua berkas kita survei ke lokasi sekarang juga," kataku pada tania.


"Baik bu," kata tania.


Setelah itu kami survei ke lokasi pertama.


"Selamat pagi," kataku pada client.


Namun tiba tiba perutku sakit lagi.


"Tania tolong kamu handle sebentar ya," kataku berusaha menutupi rasa sakit ku.


"Baik bu," jawab tania.


Kemudian aku berjalan menjauh dari mereka.


Bahkan kakiku terasa tidak kuat lagi berdiri.


"Sakit banget..perut gue kenapa sih, perasaan kemarin kemarin gak apa apa," kataku semakin ketakutan.


Sampai akhirnya aku menelpon Tania.


"Ya halo bu," katanya setelah menjawab telponku.


"Tan nanti kalau kamu udah selesai survei, kamu langsung balik ke kantor ya, saya mau jalan ke kantor nih," kataku sembari menahan rasa sakit.


"Tapi bu..." kata katanya hilang saat aku tiba tiba menutup telpon.


Sesampainya di kantor.


"Besok pertunangan gue, gue gak boleh sakit, nanti semuanya jadi berantakan," kataku.


Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu.


"Ya masuk.." kataku.


"Permisi bu," katanya.


"Eh tania, maaf tadi saya tinggal mendadak tadi saya kurang enak badan," kataku.

__ADS_1


"Iya gak apa apa bu, kalau ibu memang mau pulang silahkan biar saya yang handle semuanya," katanya.


"Enggak saya gak apa apa, Oh iya gimana tadi surveinya?" kataku sembari bertanya.


"Oh ini hasil surveinya," katanya sambil menyodorkan beberapa berkas.


"Oke nanti saya pelajari dulu, besok jangan lupa ya kamu sama semua karyawan di kantor datang ke pertunangan saya," kataku.


"Baik bu saya dan teman teman akan datang," katanya kemudian keluar dari ruanganku.


 


Malam harinya aku dan steven bertemu di depan rumah pohon duduk di tanah sambil memandang ke arah langit.


 


"Ci..aku gak nyangka ya, setelah semuanya besok status kita akan berubah," kata steven.


"Iya aku juga gak nyangka, tapi bubu...kalau suatu saat nanti Tuhan ambil aku kamu jangan nangis ya," kataku.


Dia spontan memandang ke arah ku.


"Apa sih udah tau lagi romantis, jangan bahas itu deh," katanya.


"Iya aku cuman mau bilang sama kamu, kalau Tuhan ambil aku, aku ikhlas kamu cari pengganti aku, kita gak tau apa aku adalah yang terakhir buat kamu, tapi aku gak mau suatu saat nanti kepergian aku akan kerusakan hidup kamu," kataku.


"Dengar ya ci..kamu adalah yang pertama dan yang terakhir buat aku apapun yang terjadi," katanya sambil memegangi wajahku.


Kemudian kami berpelukan.


Keesokan harinya.


Tepat hari penting buat aku dan steven.


Hari pertunangan kami.


"Bu..nai deg deg an banget deh," kataku dengan raut wajah panik.


"Ibu ngerti...kamu gak perlu khawatir kamu pasti bisa, wajar lah kalau kamu masih nerves," kata ibu berusaha menenangkan ku.


Setelah itu aku berangkat ke tempat pertunangan. Sesampainya di tempat pertunangan.


"Hai om tante," kataku sembari mencium tangan kedua orang tua steven.


Acara berlangsung dengan sangat indah. Dan berakhir di malam yang sangat indah. Kami duduk di rumah pohon hanya berdua.


"Aku seneng banget akhirnya kita tunangan," kata steven.


Aku hanya termenung.

__ADS_1


__ADS_2