Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Ku rahasiakan kuliahku dari ayah


__ADS_3

"Ee...engak ibu cuman ngehibur naila kok biar dia gak kepikiran lagi soal kuliahnya." kata ibu dengan gugupnya.


"Ouh...gitu ya udah nai, tolong ayah anterin pesanan pak joko, ya." kata ayah tanpa rasa curiga.


Aku menghela nafas lega.


"Iya, yah. Aku anterin." kataku sambil mengambil barang itu dari tangan ayah.


Di perjalanan,


"Aku harus gimana ya, apa aku harus rahasiain semua dari ayah." kataku dalam hati.


Tiba-tiba,


"Eh, nai" steven datang dan menyenggol ku. "Eh, lo stev, ada apa?" tanyaku.


"Tadi, lo kenapa kok seneng banget?" tanyanya kembali padaku.


"Ohh, yang tadi itu, gue dapat telpon dari kepala sekolah.." ucapku terpotong.


"Truss... truss gimana?" tanyanya ingin tau. "Ya, sabar dong. Trus dia bilang gue dapat beasiswa S1 jurusan arsitektur." kataku menjelaskan.


"Wah, kalau gitu pas banget sama impian kita, gue juga mau kuliah jurusan arsitektur nih. Esst....tunggu dulu, emang ayah lo mengizinkan?" sautnya cukup bahagia.


"Ya, belum tentu sih. Tapi lo mau bantu gue gak?" ucapku tak yakin.


"Kalau gak diizinkan gimana? ya, iyalah lo kan sahabat gue pastilah gue bantu." katanya. "Gue mau lo bantuin gue buat rahasiain semua ini dari ayah gue." jawabku.

__ADS_1


"Oke siip, bos ku." dia menjawab sambil memberi hormat.


Kami pun melanjut ke rumah pak joko untuk mengantar barangnya.


Keesokan harinya.


"Uaah" aku menguap tanda masih mengantuk. "Oh, iya nantikan aku harus ke sekolah, mandi dulu ah." kataku penuh semangat.


Setelah selesai mandi aku pergi keluar kamar untuk sarapan. Setelah sampai di meja makan, ayah dan ibu menatap dengan tatapan heran.


"Kamu mau kemana kok rapi banget?" tanya ayah keheranan.


"Aku mau jalan sama steven." jawabku ketus tanpa gugup.


Setelah aku selesai sarapan aku mengambil tas dan pamit.


"Aku pamit pergi dulu ya, yah, bu." sambil memberi salam pada keduanya.


Aku pun berjalan menuju ke rumah steven. "Steven, steven." kataku sambil mengetuk pintu rumahnya.


"Ya, ada apa nai?" sautnya sambil membuka pintu.


Aku menarik dia dari depan pintu.


"Sini, deh." kataku sambil menarik dia.


"Lo temenin gue ke sekolah, ya. Ngurus beasiswa yang gue dapet." kataku seolah memohon.

__ADS_1


"Kenapa? lo kan bisa sendiri." katanya padaku. "Masalahnya gue bilang sama ayah kalau gue mau jalan sama lo." ungkapku.


"Oh, gitu. Ya udah, yuk." ajaknya sambil menarik tanganku.


Kami pun pergi menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Sesampainya di sekolah, aku masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Setelah selesai mengurus semua aku keluar ruangan, tak sengaja aku menabrak seorang wanita.


Ternyata adalah ..... clara, anak kepala desa di kampung kami. Aku pun terjatuh.


"aduh..." jeritku spontan. Lalu dia meminjak tanganku dengan sepatu hak tinggi.


"Orang miskin kayak lo, gak akan bisa jadi orang sukses paling lo kayak bokap lo jadi orang miskin, tapi gue denger denger lo dapat beasiswa. Gaya banget lo." katanya menghinaku tanpa menhiraukan sakitku.


Dari kejauhan steven berlari dan mendorong clara hingga terjatuh, dan langsung membantu ku berdiri.


"Gimana kalau pak kades tau perilaku anaknya sangat memalukan." bentak steven pada clara.


"Eteven!! kamu kok tega sih dorong aku." katanya seolah ingin memegang tangan steven.


Lalu, steven menarikku dan kami pun pulang. Setelah sampai dirumah, aku meletakkan tas di kursi dan duduk di samping ayah.


"Yah, gimana kalau aku merantau saja." kataku.


"Emang kenapa mau merantau?" tanya ayah. "Aku ingin mencari pekerjaan saja, yah." kataku lembut.


"Ayah setuju saja, kalau kamu mau bekerja." kata ayah.


"Trima kasih, ayah." kataku sambil memeluk ayah. Lalu aku masuk dan menghampiri ibu. "Bu, ayah sudah setuju untuk aku merantau. Doakan aku ya, bu semoga suatu saat nanti ketika aku pulang aku bisa mengangkat derajat keluarga kita." kataku dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Setelah itu, aku pergi ke kamar dan berdoa. "Ya, tuhan. lancarkanlah perjalananku menuju kesuksesan agar aku dapat membuat ayah dan ibu bangga padaku. Amin." doaku.


Lalu, setelah usai kuberdoa aku mempersiapkan keberangkatku. Lalu, aku berangkat tanpa pamit pada steven. Menggunakan bus.


__ADS_2