Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Pekerjaan sampinganku


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah aku pulang dari kampus. Aku berkeliling ke beberapa tempat uantuk mencari pekerjaan. Setelah agak lama berkeliling aku menemukan warung makan yang sedang mencari anggota baru.


"Permisi, bu" kataku menyapa pemilik warung. "Iya. Mau pesan apa, nak?" balasnya bertanya. "Saya kesini bukan mau makan, tapi mau kerja disini." kataku.


"Oh, kalau gitu saya harus tes kamu apa kamu bisa bersih-bersih." katanya dengan senyum. "Oh, gitu bu. Kalau gitu kapan tesnya." kataku penuh semangat.


"Kalau gitu sekarang aja." balasnya.


Aku pun mulai mengerjakan beberapa tes, seperti mencuci piring, membersihkan meja-meja, dan mengantar makanan.


"Wah, bagus juga kerja kamu, cekatan lagi." katanya sambil memegang pundakku.


"Kalau gitu saya diterima, bu?" tanyaku.


"Ya, iyalah. Mulai besok kamu datang kesini jam 2 siang." jawabnya.


"Sebenarnya saya ini seorang mahasiswi. Oh, iya nama saya naila." kataku sambil memperkenalkan diri.


"Iya, gak apa-apa kamu mahasiswi saya ngerti kok pasti kamu butuh biaya. Saya bu ningsih. Tapi, nak gaji disini tidak besar." katanya dengan lembut.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa kok bu yang penting saya kerja. Kalau gitu saya pamit besok saya datang lagi." kataku sambil memberi salam. "Iya hati-hati di jalan ya, nak." Aku pun pulang ke kost-an ku. Di sana ada steven yang tertidur di bangku terasku.


"Woy, bangun stev ngapain tidur disini." kataku sambil tersenyum geli. Dia pun terbangun.


"Lo dari mana aja sih gue kan mau ajak lo jalan." katanya sambil mengusap wajah. "Emang mau kemana?" tanyaku penasaran. "Ada deh." katanya sambil berdiri.


Aku pun membuka pintu dan masuk.


"Ya, udah tunggu bentar gue ganti baju." jeritku dari dalam.


Setelah beberapa waktu bersiap-siap aku dan steven pergi ke sebuah taman dan disana ada sebuah danau dimana orang memberi keinginannya.


"Lo, ngapain ajak gue ke sini?" tanyaku heran. "Karna banyak orang yang menulis keinginannya di sebuah kertas dan memasukkannya ke dalam botol. Lalu, melemparnya ke danau itu." katanya sambil mempersiapkan barang-barangnya.


"Gue juga mau kita komit disini kalau kita akan terus bersahabat, gak lebih dari itu." katanya dengan nada rendah.


"Oke, gue ikut aja." kataku.


Lalu kami menulis keinginan di kertas selembar

__ADS_1


"Semoga cita-citaku menjadi arsitek dapat terwujud supaya aku bisa bahagiakan kedua orang tuaku dan juga steven, sahabatku." keinginanku.


Setelah menulis kami memasukkan kertas itu ke dalam botol, lalu melemparnya ke danau. "Udah kan, sekarang kita mau ngapain lagi?" tanyaku.


"Sekarang kita ucapin komitmen kita," tambahnya.


Kami pun mengucap komitmen kami.


"Kami berdua akan selalu menjadi sahabat, selamanya." ucap kami serentak.


Entah mengapa setelah aku mengatakan itu semua, mataku serasa ingin menangis. Setelah itu, aku duduk di bangku. Lalu steven datang dan duduk di sampingku.


"Sini nyender di bahuku." katanya.


"hah" kataku dalam hati.


Aku terkejut dengan sikap steven. Aku pun menyender dan timbul rasa nyaman. "Nyaman, nieee" kata steven meledekku. "Apaan, sih" kataku sambil memukul perutnya. Setelah berduaan di bangku itu kami berjalan jalan mengitari taman, dan menemukan penjual mie ayam keliling.


Aku dan steven membeli mie ayam itu, mie ayam itu sangat lezat. Aku memang bercita-cita menjadi arsitek, namun aku juga suka meminta pendapat wanita tentang karir, dan kebetulan penjual mie ayam itu seorang wanita.

__ADS_1


"Menurut, ibu apa wanita butuh sekolah tinggi?" tanyaku penasaran.


"Menurut saya sih, perempuan gak butuh sekolah tinggi, lebih baik langsung saja menikah. Makanya, perempuan itu yang penting harus bisa masak. Karena, ujung-ujungnya wanita hanya melayani laki-laki saja." katanya tanpa berfikir panjang.


__ADS_2