
Aku mengambil bahan presentasi dan melanjutkan berlari menuju kampus. Tak ku hiraukan keringat bercucuran di wajahku.
Dan akhirnya aku sampai juga di kampus.
Kulihat steven duduk di koridor kampus dengan raut wajah panik.
"Stev, lo ngapain disini kok belum masuk ke ruang kontes?" tanyaku dengan nafas tersengal sengal.
"Naila!! lo dari mana aja lama banget datangnya gimana kalau lo di diskualifikasi kan gak lucu," katanya mengomelin aku.
"Ya, trus lo ngapain disini bukannya presentasi," kataku balik mengomel.
"Gue itu udah presentasi, udah buruan masuk siapa tau masih boleh nanti aja kita ngobrolnya." katanya sambil mendorongku masuk.
Sesampainya di dalam ruangan.
Di depan pintu ada salah satu panitia.
"Permisi bu, saya mau ikut kontes dan saya sudah daftar," kataku ragu ragu.
"Ehmm, nama kamu siapa?" tanyanya.
"Saya naila bu," kataku menjelaskan.
"Ohh, kamu tadi sudah dipanggil 3x dan sudah dianggap gagal kamu itu kontestan nomor 8 dan ini sudah kontestan no 10," katanya.
"Tapi bu saya mohon beri saya satu kesempatan, tadi itu saya menolong teman saya ke rumah sakit bu," kataku dengan wajah memelas.
"Maaf ya nak keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat," katanya.
"Ya sudahlah tidak apa apa bu," kataku sambil berbalik badan"
Tiba tiba nama ku di panggil oleh MC dari dalam ruangan.
"Kontestan selanjutnya NAILAAA!!!" katanya dengan semangat.
Aku berbalik badan dan langsung berlari memasuki ruangan.
"Good luck nak," kata panitia tadi dengan dua jempol.
"Makasih bu," sautku.
Kulihat dibelakang juri ada steven dan dia mengedipkan mata padaku.
"Oke perkenalkan diri lalu katakan nama desain bangunannya lalu presentasikan se detail mungkin," kata salah satu juri.
"Baik, nama saya Naila Ayuna bangunan yang akan saya presentasikan adalah rumah pohon." kataku.
__ADS_1
"Waw, unik," kata salah satu juri.
Aku tersenyum dan mulai mempresentasikan
sebaik mungkin.
Setelah selesai aku turun dari panggung dan duduk di samping steven. Juri mulai berembuk untuk memilih pemenang kontes.
Disaat itu aku berdoa.
"Tuhan, menang atau kalah memang biasa tapi berikanlah aku kesempatan untuk dapat memenangkan kontes ini, Amin." doaku.
Dan akhirnya juri selesai berembuk, MC siap mengumumkan pemenang kontes.
"Oke gays, pemenang kontes ini akan mendapatkan uang sebesar sepuluh juta rupiah dan juga akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar dalam 1 tahun," kata Mc dengan semangat.
"Baiklah pemenang kontes tahun ini adalaaaahh .......... naila dan steveen" tambahnya dengan jeritan yang meriah.
Aku tak menyangka bisa mencapai ini semua.
Aku dan steven pun maju ke depan untuk mengambil piala dan hadiah lainnya.
"Oke ada yang mau kalian katakan," katanya.
"Ya, saya mau bicara," kataku dengan penuh kebahagiaan.
Kemudian aku turun dari panggung dan keluar dan menyalami setiap juri.
"Trus berkarya ya nak jangan menyerah," kata juri pertama.
"Jangan dipedulikan apa kata orang jika itu tidak penting," kata juri kedua.
"Jangan pernah malu untuk menujukkan bakat mu yang luar biasa." kata juri ketiga.
"Yang terpenting jangan pernah sombong karena kesombongan adalah awal kehancuran." kata juri keempat.
Setelah menyalami setiap juri aku pun keluar ruangan. Dan disusul oleh steven.
"Eh, ngomong ngomong lo tadi kok bisa telat sih?" tanyanya penasaran.
"E..e..e~," kataku gugup.
"Apa sih eeee," katanya sebel.
"Eh tunggu gue mau bilang makasih dulu lo mau bujuk juri jadi gue bisa ikut kontes," kataku.
"Iya iya tapi ceritain dulu yang tadi," katanya penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya tadi itu waktu gue mau ke kampus gue liat sisil dia lemes banget jadi gue anter dia pake taksi jadi gue bayar aja pake duit yang ada ternyata duit gue pas pasan ya jadinya gue balik jalan kaki deh ke kampus," kataku perlahan lahan.
"Ya, ampun kenapa lo gak telpon gue pasti capek banget lari lari an kan," katanya sambil memegang kening ku.
"Apaan sih lo bukannya khawatir sama sisil malah mikirin yang gak penting," kataku sebel.
"Ehmm, gimana kalau kita jenguk dia sekarang," kataku menambah.
"Boleh, yuk berangkat." katanya menutup pembicaraan.
Kami pun berangkat ke rumah sakit dengan sepeda motor.
Dan akhirnya sampai di rumah sakit.
"Yuk masuk," kataku sambil menarik tangannya.
Kamipun sampai di ruangan sisil.
"Hai, sil gimana udah enakan?" tanyaku.
"Udah kok," katanya lemas.
"Ohh bagus lah kalau gitu," kataku lagi.
"Ohh, ya nai makasih ya udah nolong aku tadi pagi," katanya.
"Iya, sama sama," kataku.
"Iya sampai dia te...~" kata steven ketus.
Aku pun menutup mulutnya dan menariknya keluar.
"Sstt, jangan ceritain ke dia," kataku memarahi steven.
"Emang kenapa?" tanyanya.
"Gimana kalau dia merasa bersalah kan gak enak," kataku kesal.
"Ohh, oke oke," katanya pendek.
Kemudian kami masuk lagi.
"E..e sil gue pamit duluan ya mau kerja," kataku.
"Ohh, ya hati hati ya sekali lagi makasih," katanya lembut.
"oh ya udah gue anterin ya," kata steven padaku.
"Gak usah gue bisa sendiri mendingan lo temenin sisil ya disini nanti sore gue kesini
__ADS_1
lagi." kataku.