
Keesokan paginya aku bangun pagi pagi sekali.
"Stev, stev bangun kita harus ke kost an dulu setelah itu baru ke kampus," kataku membangunkan steven.
"Iya iya lo pamit dulu ke sisil," katanya sambil berdiri.
Aku pun membangunkan sisil untuk pamit pulang.
"Sil sil gue pamit pulang dulu ya soalnya kita berdua ada urusan penting," kataku.
"Iya hati hati ya nai stev," balasnya.
"Oke bye," kata steven sambil keluar dari ruangan sisil.
"Dah.." kata sisil melambai.
"Dah.." balas ku.
Aku dan steven kembali ke kost an.
Dan setelah sampai aku langsung berlari masuk ke dalam kost an.
"Gue masuk dulu ya lo pulang juga nanti jam 8 jemput gue kita ke kantor ngurus kontrak," kataku dari dalam kost an.
"Ya gue pulang dulu ya," katanya sambil berlalu.
"Oh iya mending uang hadiah kontes itu gue simpen aja dulu nanti kalau udah ke kumpul lumayan baru gue kirim ke ayah dan ibu." kataku sambil bersiap siap.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap siap, aku menelpon steven untuk memastikan dia sudah selesai bersiap siap.
"Stev lo udah selesai atau belum," kataku.
"Belum nih sedikit lagi bentar lagi juga gue dateng," katanya.
"Jangan lama lama nanti kita telat," kataku lagi.
"Iya tunggu aja bentar lagi," katanya sambil
menutup telpon.
"Eh..~" kataku terputus karena telponnya ditutup.
Tak berapa lama menunggu akhirnya dia datang dengan memakai kemeja warna biru.
"Mungkin kita sehati kali ya," katanya menggodaku.
"Hah apaan gue ganti dulu ya," kataku saat akan masuk ke kost an ku.
Steven menarik tanganku hingga aku berbalik badan.
"Apa sih ganti ganti segala gak apa apa kali sama sahabat sendiri," katanya.
"Ya oke oke aku gak jadi ganti bajunya," kataku sambil menaiki sepeda motor steven.
"Nah gitu dong sekarang waktunya kita berangkat," katanya sambil menyalakan sepeda motornya lalu mulai berjalan.
Di perjalanan aku dan steven bercanda tawa.
__ADS_1
Tiba tiba ada mobil yang menyerempet kami steven kaget dan tak bisa mengendalikan sepeda motornya. Kamipun terjatuh, dan steven pingsan. Akupun langsung berlari ke arah steven dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan ku, sembari menyadarkannya namun tak berhasil.
"Stev stev bangun dong jangan bikin gue panik gini," kataku sambil menepuk pipinya.
"Duh gimana nih malah ini jalan sepi amat," kataku sambil mengitari pandanganku.
Dan setelah beberapa menit akhirnya ada taksi yang lewat. Aku meletakkan kepala steven perlahan lalu berdiri dan berteriak.
"taksi taksi," kataku sambil melambaikan tangan.
Taksi itupun mendekat,dan supirnya pun bertanya.
"Teman kamu kenapa dek?" tanyanya.
"Kami korban tabrak lari pak jadi temen saya pingsan," kataku menjelaskan.
"Oke mari saya bantu angkat teman kamu ke dalam," katanya sambil mengangkat steven.
"Makasih pak, trus motornya gimana nih," kataku bingung.
"Ya sudah sebentar saya cari warga sekitar sini ya nak, kamu temenin aja teman kamu di dalam."katanya.
Aku menyenderkan kepala steven ke bahuku. Ntah mengapa aku panik sekali melihat steven seperti ini.
"Stev lo harus baik baik aja ya," kataku sambil mengelus kepalanya.
Kemudian sepeda motor steven dititipkan ke beberapa warga.
"Makasih ya pak," jeritku dari dalam mobil ke beberapa warga.
"Ayo pak kita ke rumah sakit terdekat," kataku pada supir taksi.
Kamipun pergi menuju ke rumah sakit.
__ADS_1