
5 tahun kemudian.
"Jadi gimana aku pulang duluan tapi janji ya kamu nyusul," kataku yang sedang menelpon matthew.
"Iya nih soalnya aku ada urusan penting banget," kataku.
"Oke jadi kamu pulangnya kapan," kataku.
"Paling nanti malam atau besok pagi," katanya.
"Jangan lupa kabarin ya kalau udah sampai," kataku.
"Iya pasti," katanya.
"Ya udah aku tutup dulu ya soalnya udah mau berangkat," kataku.
"Iya love you," katanya.
"Love you," kataku.
Kemudian aku menutup telpon dan memasukkan ke dalam tas.
"Yes, I will go online first," kataku berpamitan pada caline.
"Yes be careful on the way, I will miss you," katanya.
Tak lama kemudian aku masuk ke dalam pesawat.
"Aku bakal kangen banget sama caline," kataku.
"Bye caline semoga bahagia dan masalah keluargamu cepat selesai," kataku.
Tepat jam 05:00 pagi aku sampai di Jakarta.
Aku turun dari pesawat kemudian mengambil barang barang dan lain lain.
Setelah sampai diluar bandara aku menaiki travel yang ku pesan untuk mengantarku pulang.
"Gue telpon ibu dulu deh," kataku.
Kemudian aku menelpon ibu.
"Halo bu ini naila," kataku.
"Eh naila kok nelpon pagi pagi," kata ibu.
"Soalnya naila udah di Indonesia udah jalan ke kampung," kataku.
"Hah! serius kamu," kata ibu terkejut.
"Iya sorry ya bu naila baru kabarin," kataku.
"Emang berapa jam lagi kamu sampai," kata ibu.
"Kira kira dua jam lagi lah bu," kataku.
"Iya udah hati hati di jalan ya," kata ibu.
"Iya bu," kataku kemudian menutup telpon.
Dua jam kemudian aku sampai di rumah.
"Ibu ayah naila udah sampai," kataku saat berada di depan pintu.
"Masuk!!" suara dari dalam.
__ADS_1
Saat aku membuka pintu di dalam banyak orang ada ayah ibu sisil dan steven.
"Ste..ven.." kataku terkejut.
"Hai naila seneng deh ketemu kamu lagi," kata sisil.
"Hai nai masih ingat gue kan," kata steven.
"Ibu naila kangen banget," kataku sambil mendekat memeluk ibu.
"Ibu juga kangen banget nai," kata ibu sambil memelukku sangat erat.
"Gak kangen sama ayah," kata ayah.
"Kangen banget lah," kataku lalu memeluk ayah.
"Ayah bangga sama kamu," kata ayah.
"Itu yang nai mau nai mau buktiin ke ayah kalau nai bisa jadi orang sukses," kataku.
Ayah tersenyum.
"Oh iya sisil," kataku lalu mendekat dan memeluk sisil
"Aku kangen banget sama kamu nai," katanya
"Sama aku juga," kataku.
Kemudian aku menoleh ke arah steven dan melihat wajahnya yang muram.
"Gue kangen banget sama sahabat gue yang satu ini," kataku lalu memeluk steven.
"Gue juga nai dan tau gak gue ada surprise buat lo," katanya.
"Oh iya apa tuh?" tanyaku berusaha tak canggung.
"Oh bisa kok bisa, bentar ya sil bu yah naila pergi dulu," kataku.
Kemudian aku berjalan berdua bersama steven aku memandang lama wajahnya yang sudah lama tak ku pandang.
"Eh lo tutup mata dulu biar jadi kejutan," katanya sambil menutup mataku dengan sapu tangan.
Tak lama kemudian kami sampai di tempat kejutan itu.
"Udah sampai stev," kataku.
"Udah dong dan dijamin lo bakal seneng banget," katanya sambil membuka penutup mataku.
"Tunggu ya jangan langsung dibuka matanya," kata steven.
"Iya iya," kataku.
Setelah dia membuka penutup mataku dia menghitung.
"Gue hitung sampai tiga ya. Satu...dua...tiga..." katanya.
"Gue buka ya.." kataku.
Saat aku membuka terlihat oleh ku sebuah rumah pohon mungil dan sebuah rumah kayu unik di bawahnya. Terdapat taman yang indah di sekelilingnya juga ayunan yang sangat indah.
__ADS_1
"Waw ini indah banget stev," kataku sangat terpesona.
"Ini semua gue bangun selama lima tahun terakhir," katanya.
"Ini luar biasa stev gue bangga banget sama lo gue yakin wanita yang akan tinggal disini bareng lo dia adalah wanita paling beruntung," kataku.
"Dan tau gak siapa wanita yang gue harapkan itu adalah lo nai," katanya.
"Sorry stev gue udah punya matthew dia laki laki yang baik gue gak bakal menghianati dia," kataku lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia langsung mengejarku.
"Nai pliss tunggu gue," katanya berusaha menghentikan ku.
"Apalagi gue gak mau bahas itu lagi," kataku.
Aku meneruskan berjalan.
"Nai tapi lo gak cinta sama dia," katanya.
Aku berhenti.
"Siapa lo yang bisa tau isi hati gue. Inget stev lo bukan siapa siapa lo hanya sahabat gue lo jangan berharap gue bakal cinta sama lo," kataku dengan berat hati.
"Pliss lo buka hati lo, lo itu gak cinta sama matthew lo cuman menyiksa perasaan lo," katanya mulai menangis.
"Lo denger sekali lagi perkataan gue, lo bukan siapa siapa dan lo gak bisa tau apa yang ada di hati gue," kataku.
Kemudian aku kembali berlari ke arah jalan pulang. Sesampainya di rumah aku masuk dan berjalan ke kamar.
"Lo emang tau hati gue stev tapi gue gak bisa setelah 5 tahun matthew ada buat gue dia selalu dukung gue tapi gue yakin sebuah adalah yang terbaik," kataku sambil menangis.
Tiba tiba telponku berdering.
"Iya hallo sayang," kataku saat mengangkat telpon.
"Aku pulang nanti malem paling sampainya jam 1 siang," katanya.
"Iya yang paling penting hati hati di jalan ya jangan lupa doa sebelum berangkat," kataku.
"Iya sayang ku," katanya.
"Oh iya nanti kalau kamu udah sampai langsung kenalin aku ke ibu kamu ya aku yakin dia orang yang baik," kataku.
"Iya nanti aku kenalin ya udah aku packing dulu ya," katanya lalu menutup telpon.
"Iya dah love you," kataku.
"Love you too," katanya lalu menutup telpon.
Setelah menutup telpon aku keluar dari kamar dan menemui sisil.
"Hai sil," kataku sambil menepuk pundaknya.
"Eh naila ada apa?" katanya.
"Oh iya sil selama lima tahun ini lo ada hubungan sama steven," tanyaku.
"Gak dia gak pernah nembak aku malah dia selalu curhat tentang kamu dia berusaha banget buat bangun rumah pohon itu buat kamu," katanya.
"Sorry sil gue malah bikin hidup lo hancur gue pikir dengan perginya gue dia bisa cinta sama lo," kataku.
"Ini bukan salah kamu kok nai ini juga bukan salah steven kita gak salah hanya semuanya belum tepat jadi kita harus sabar untuk menunggu apa yang seharusnya jadi milik kita," katanya dengan raut wajah sedih.
"Lo perempuan yang kuat ya gue kagum sama lo," kataku.
__ADS_1
"Salah nai kamu perempuan yang kuat kamu rela mengorbankan perasaan kamu buat orang lain," katanya kemudian dia masuk ke dalam rumah.