
Setelah itu aku menutup telponnya. Karna hari mulai panas aku memutuskan untuk pulang. Sesampainya di kost an aku membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Ihh steven nyebelin banget sih gak bisa gitu perhatian sedikit ke gue sebel deh," kataku marah marah sendiri.
Tak terasa hari mulai sore akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kampus. Aku mandi dan bersiap siap. Setelah selesai aku menelpon steven. Tak lama kemudian dia mengangkat telponku.
"Halo stev lo udah mau berangkat," kataku membuka percakapan.
"Iya nih," katanya.
"Hmm gue boleh nebeng," kataku agak ragu.
"Sorry ya gue udah janji duluan sama sisil dia kan sekarang ngampus malam kasihan kalau berangkat sendiri kasihan," katanya menjelaskan.
"Ohh gitu ya, ya udah gue berangkat sendiri aja deh," kataku kecewa.
Tanpa berfikir panjang aku mematikan telponnya dan berangkat ke kampus.
"Apa mendingan gue cari cowok aja ya biar bisa lupain steven," kataku.
"Tapi nanti aku malah jadi gak serius kuliahnya," tambahku lagi.
Aku menaiki taksi dan akhirnya sampai di kampus.
"Makasih ya pak," kataku setelah keluar dari taksi.
Akupun masuk ke dalam kampus saat berada di loby aku melihat steven dan sisil sedang bercanda canda.
"E..e hai gays lagi asik ya," kataku dengan gugup.
"Eh ada naila gabung yuk," kata sisil padaku.
"Gak usah gue kebetulan lagi ada urusan sama dekan," kataku tak kuat melihat kemesraan mereka.
"Ohh gitu ya," kata sisil.
"Iya gitu deh kalau gitu gue duluannya," tambahku.
Aku berjalan menuju ke ruang dekan karna sebentar lagi aku akan menjadi sarjana jadi aku ingin membahas tentang beasiswa S2.
Aku mengetuk pintu ruangan dekan.
Tok..Tok.. Tok..
"Masuk" suara bu dekan dari dalam.
Aku masuk ke dalam ruangannya.
"Eh naila kamu mau membahas tentang beasiswa S2 itu kan," katanya saat melihat ku.
"Iya saya kesini mau bahas itu buk," kataku.
"Jadi begini soal beasiswa itu saya sudah mengajukan proposal kamu dan salah satu Universitas Amerika menerimanya," jelasnya.
"E..e Amerika ya bu," kataku ragu.
__ADS_1
"Iya disana juga kamu akan dapat kontrak kerja selama 5 tahun ya sembari kamu kuliah," jelasnya lagi.
"Memang tidak bisa Universitas dalam negeri ya bu saya belum berani keluar negeri," kataku masih tetap ragu.
"Ya namanya kita mau sukses ya kita harus berani ambil resiko jauh dari keluarga sahabat dan teman," katanya meyakinkan ku.
"Hmm ya udah bu kalau gitu saya pikir pikir dulu ya bu," kataku tetap ragu.
"Iya tapi jangan terlalu lama nanti kamu nyesel lho ini kesempatan besar biar kamu jadi arsitek terkenal," katanya.
"iya kalau gitu saya ke kelas dulu ya bu," kataku sambil berdiri dari kursi.
Aku keluar dari ruangan dan terus memikirkan soal beasiswa itu.
"Oh iya kan gue mau lupain steven kali aja kalau gue jauh gue bisa lupain dia," kataku dalam hati.
Tak terasa akhirnya aku sampai di kelas dan steven sudah berada di dalam kelas.
"Eh nai tadi lo di ruangan dekan ada urusan apa sih," tanyanya kepo.
"Idih kepo lo males gue ceritain," kataku meledek.
"ihh pelit banget sih kan gue sahabat lo," katanya.
"Iya lo emang sahabat gue tapi bukan berarti lo bisa tau semua urusan gue, gue juga butuh privacy kali," kataku jutek.
"Iya iya deh gue gak kepo lagi," katanya.
Aku duduk termenung di kursi tak bisa berhenti memikirkan tentang beasiswa itu.
Tak lama kemudian dosen masuk ke dalam kelas.
"Baik pak," balas beberapa mahasiswa
"Oke kita bahas materi untuk ujian minggu depan," kata dosen itu sembari mulai menerangkan materinya.
Sementara dosen menerangkan aku terus mempertimbangkan tentang beasiswa itu.
"Oke semua udah pada paham kan jadi untuk ujian minggu depan saya harap semua bisa menjawab soal dengan baik," kata dosen menutup penjelasan.
"Amin!!!" saut beberapa mahasiswa.
"Oke kalau begitu kita tutup pembelajaran kita hari ini," kata dosen itu.
"iya pak," saut beberapa mahasiswi.
"Malam semua!" kata dosen lalu keluar dari kelas.
Setelah dosen keluar seluruh mahasiswa ikut keluar dari kelas, sementara aku masih termenung. Steven datang mendekat.
"Nai pulang yuk," ajaknya.
__ADS_1
"gak bisa stev," kataku menolak.
"kenapa?!" katanya dengan nada tinggi.
"Gini ya stev lo tadi berangkat sama sisil jadi lo harus balik bareng dia," kataku tegas.
"Iya tapi lo gimana?" tanyanya lagi.
"Gue gampang lah lo tenang aja," kataku sambil berdiri dan keluar dari kelas.
Aku berjalan keluar kampus sambil menunggu taksi lewat. Tiba tiba mobil berwarna hitam berhenti di depanku.
"Mobil siapa nih gak sopan banget gak liat apa gue diri disini," kataku mengomel.
Tiba tiba keluar seorang pria dari mobil itu ternyata pak No boss ku yang galak.
"Hey lo baru pulang ngampus," katanya padaku.
"Iya pak saya baru pulang kampus," kataku.
"Sekarang mau pulang," katanya lagi.
"Iya gitu deh pak," kataku cuek saja.
"Kalau gitu bareng aja sama gue," katanya.
"Eh bentar deh pak kok tumben bapak pake gue lo biasanya saya kamu," kataku meledek.
"kan ini gak di kantor jadi ya gue bebas," katanya santai.
"Iya deh iya terserah bapak aja," kataku pasrah.
"ya udah lo jadi gak ikut gue cepetan keburu gue berubah pikiran," katanya.
"Ya udah daripada nungguin taksi iya deh saya ikut bapak aja," kataku.
"Ya udah buruan masuk," katanya.
Sepanjang perjalanan aku hanya menoleh ke arah jendela mobil tanpa menoleh kearah pak No.
"Lo kenapa sih dari tadi bengong mulu," katanya berusaha mencairkan suasana yang sangat beku itu.
"Enggak pak saya lagi banyak pikiran aja," kataku.
"Hati hati lho nanti frustasi bisa gila lama lama," katanya meledek ku.
"Ihh bapak nyebelin banget sih saya fikir mau jadi temen curhat saya," kataku kesal.
"Emang masalah apa sih ya cerita aja kalau mau," katanya.
"Hmm gini misalnya bapak punya sahabat trus bapak cinta sama dia tapi sayang bapak udah komit buat sahabatan selamanya dan gak boleh ada perasaan lain, trus bapak ada niat buat jodohin sahabat bapak tadi sama temen bapak dan bapak mau berusaha buat lupain perasaan bapak ke sahabat bapak," kataku bercerita.
"Ribet juga ya masalah kamu berbelit belit. Coba lanjut lagi,"
"Iya gitu. Habis itu kalau bapak dapet beasiswa buat ke luar negeri dan itu adalah kesempatan buat bapak lupain perasaan bapak itu, Gimana tuh pak," kataku.
__ADS_1
"Hmm gimana ya menurut saya si mending ambil aja sih beasiswa itu biar cepet move on dan gak sakit hati lagi," katanya memberi saran.