
"Ya, udah lo hati hati ya," kata steven.
"hehehe, biasa sil dia suka alay alay gimana gitu," kataku meledek steven.
"Itu tandanya dia sayang sama kamu," kata sisil padaku.
"Ya ya, ya udah aku pergi ya, dah..," kataku sembari berjalan.
Di perjalanan aku terus memikirkan cara apalagi yang bisa mendekatkan steven dan sisil.
"Tapi kenapa ya waktu aku deketin steven dan sisil hati ku berat seolah tak terima,"kataku menghentikan langkah ku.
"Eh eh eh apaan sih gue ini gak boleh mikir kayak gitu dong sampai kapanpun lo gak bisa jadian sama steven." kataku sambil melanjutkan berjalan.
Tak terasa aku sudah sampai di warung bu ningsih.
"Siang bu, kok ibu sedih gitu," kataku sambil mendekat.
"warung ibu sepi karena ibu difitnah menggunakan bahan makanan yang sudah busuk," katanya hampir menangis.
"Astaga!! trus rencana ibu apa?" kataku sembari bertanya.
"Ibu berencana pindah ke kampung ibu buat apa lagi disini kalau gak bisa jualan," katanya.
"Berarti saya..~" kataku terputus.
"Ya nai kamu gak bisa kerja sama saya lagi," katanya.
__ADS_1
"iya gak apa apa kok lagian ya bu saya itu menang kontes hadiahnya itu piala, trus itu ya bu uang 10.000.000 dan terpenting kerja sama di perusahaan besar." kataku dengan semangat.
"Wah, baguslah kamu pasti bisa jadi orang sukses," katanya ikut tersenyum.
"Ya udah kalau gitu saya bantu beres beres ya bu," kataku sembari memegang beberapa barang.
"Gak gak usah nai soalnya ibu itu gak punya uang lagi," katanya sambil mengambil barang yang ku pegang.
"Yaelah gak usah digaji kali bu saya mah ikhlas," kataku kembali merapikan barang barang.
Tak terasa hari sudah sore aku pamit dengan bu ningsih lalu menaiki ojek menuju rumah sakit. Saat aku hendak masuk aku melihat steven dan sisil sedang tertawa tawa bersama akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk ke kamar sisil dan duduk di depan ruangannya.
"Ah gue gak usah masuk deh nanti malah ganggu lagi," kataku dalam hati.
"Lo ngapain sih," kataku.
"Ya ngegendong lo lah, lo yang ngapain tidur diluar bukannya masuk," katanya mengomel.
"Gak.., gue gak mau aja ganggu lo lagi asik ngobrol," kataku.
Dia akhirnya membawaku masuk dan menurunkan ku disofa.
"Kenapa naila digendong, dia sakit." kata sisil.
__ADS_1
"Gak gak steven aja yang lebay," kataku.
"Ihh gue itu gak mau lo diluar digigitin nyamuk," katanya sambil mengelus kepalaku.
Agar mereka bisa bicara berdua aku pun berpura pura tidur.
"Ehmm.. stev kamu itu sayang banget ya sama naila," tanya sisil.
"Kok sisil tanyanya kayak gitu sih," kataku dalam hati.
"Ya iyalah," jawab steven.
"Menurut kamu naila itu kayak gimana orangnya." tanyanya lagi.
"Ehmm dia itu seperti yang lo liat ya dia itu cantik, baik, perhatian, asik, kadang nyebelin sih tapi ngangenin." kata steven.
"Ouhh gitu dia sahabat yang baik dong," kata sisil.
"Ya pastinya lah dia itu duplikat seorang ibu," tambah steven.
"Ya udah aku tidur dulu ya,"katanya sisil.
"Eh kamu nanti tidur dimana?" tambah sisil bertanya.
"Gampang aku nanti tidur di karpet samping sofa naila," jawab steven.
"Oke kalau gitu selamat malam stev," kata sisil.
__ADS_1
"Ya malam," kata steven menutup pembicaraan.
"Duh gimana kalau aku jatuh ke bawah aku bisa jatuh ke steven," kataku dalam hati.