Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
3 TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

3 TAHUN KEMUDIAN.


Setelah melalui berbagai ujian dan rintangan akhirnya aku lulus sarjana begitupun dengan steven, sisil, dan teman se angkatan lainnya.


"Yeay!!!!" kata kami bersorak gembira.


"Akhirnya lulus juga," kataku senang.


"Iya nai gue juga seneng habis ini kita pulang ya ke kampung trus kita wujudkan mimpi kita buat bangun rumah pohon yang bagus," kata steven.


Aku hanya tersenyum kecil. Tiba tiba sisil datang menghampiri kami.


"Hmm, nai stev aku boleh ikut kalian gak karna kan aku gak punya keluarga lagi jadi aku gak tau mau kemana," katanya dengan wajah memelas.


"Boleh kok," jawabku.


 


Kemudian kami bersenang senang. Dan tiba tiba steven menarik ku ke arah taman kampus.


"Nai ikut gue yuk," katanya sambil menarik ku.


"Mau kemana stev lagi asik ni bareng teman teman," jawabku.


"Udah ikut aja dulu," katanya.


 


Sesampainya di taman dia berlutut di depan ku dan juga memegang tangan ku.


 


"Nai, sebenarnya selama ini gue menyimpan sebuah perasaan sama lo tapi gue gak berani untuk mengungkapkan ke lo," katanya.


"Maksud lo?! kataku ragu.


"Gue cinta sama lo nai, lo mau kan jadi pacar gue," katanya.


Aku melepaskan tangan ku dari tangan steven.


"Sorry stev gue gak bisa jadi pacar lo karna gue gak pernah anggap lo lebih dari seorang sahabat," kataku.


"Gue gak percaya selama ini lo bilang sayang sama gue lo perhatian sama gue," katanya.


"Iya gue emang sayang sama lo dan sayang gue itu gak lebih dari sayangnya seorang sahabat," kataku.


"Tapi kenapa nai kenapa lo gak bisa sayang sama gue," katanya.


"Karna lo sahabat gue stev!!" kataku dengan nada tinggi.


"Jadi kalau kita sahabatan kita gak bisa saling cinta," kata steven.


"Lo inget lo pernah suruh gue buat komit gak bakal cinta sama lo karna kita sahabatan selamanya," kataku menjelaskan sambil mulai menangis.


"Gue inget dan karna komit itu lo kubur cinta lo buat gue," katanya.


"Bukan tapi karna gue punya laki laki lain di hati gue," kataku berusaha menutupi perasaan ku.


Lalu aku berjalan pergi meninggalkan dia.


"Gue gak percaya nai," jeritnya tak terima.


 

__ADS_1


Aku tak memperdulikan kata katanya. Dan kembali bergabung bersama temen temen. Sisil datang menghampiriku dengan raut wajah panik.


 


"Nai nai itu itu..." katanya gugup.


"Apa apa itu apa," jawabku ikut panik.


"Itu steven steven," katanya semakin panik.


"Iya steven kenapa?" tanyaku semakin tak karuan.


"Dia tadi kelihatan marah banget dan dia bawa motor kebut kebutan, aku takut dia kenapa napa," kata sisil menjelaskan dengan gugup nya.


"Lo tenang aja dia pasti baik baik aja kok dia cuman butuh waktu sendiri," kataku.


"Emang dia kenapa sih nai kok dia sedih banget," kata sisil mulai menangis.


 


Aku menarik sisil ke arah taman tempat steven menembak ku. Aku dan sisil duduk di salah satu bangku taman.


 


"Sil, lo cinta kan sama steven," kataku.


"Apa sih nai ya enggak lah pertanyaan kamu aneh," katanya.


"Sil, gue tau lo cinta sama steven dan gue percaya lo sanggup buat dia bahagia," kataku.


"Sebenarnya aku pengen jujur sama kamu," kata sisil.


"Jujur aja sil karna gue bakal buka semua disini," kataku.


Air mata mulai menetes di wajah kami berdua.


"Sil, gue mau jelasin ke lo, kalau sebenarnya gue sayang sama steven gue cinta sama dia tapi itu semua gak mungkin," kataku sambil menangis.


"Tapi kenapa nai kenapa?" tanyanya bingung.


Aku menjawab dengan tenang.


"Dulu gue dan steven pernah komit buat gak pernah punya hubungan lebih dari seorang sahabat, dan gue akan selalu tepati komit itu walau sebenarnya itu menyiksa gue," kataku semakin menangis.


Sisil datang dari belakang ku sambil memeluk ku.


"Aku tau ini berat buat kamu tapi aku tau kamu kuat nai biar waktu yang menjawab apa yang harus kamu lakuin," kata sisil.


"Gue udah berusaha buat mendekatkan lo sama steven, tapi semua gagal tadi dia nembak gue disini gue tolak dia walau sebenarnya gue cinta sama dia," kataku sambil terduduk di tanah.


Sisil terdiam tak menjawab. Aku berdiri dari tanah.


"Sil, besok gue bakal pulang ke kampung dan dua hari lagi gue bakal berangkat ke Amerika untuk ambil S2 sambil kerja disana," kataku.


"Kamu mau ke Amerika apa steven udah tau," kata sisil.


"Belum dan dia gak perlu tau," kataku.


 


Saat kami sedang bicara tiba tiba telpon ku berdering dan nomornya tidak ku ketahui.


 

__ADS_1


Kring.....


Aku mengangkat telponnya.


"Ya halo dengan siapa ya," kataku.


"Ini dengan rumah sakit permata," kata si penelpon.


"Ya mau bicara dengan siapa," kataku.


"Dengan naila," jawabnya.


"Ya saya sendiri ada apa ya," kataku bingung.


"Begini teman mbak yang bernama steven kecelakan dia menabrak trotoar dan kecelakaan ini cukup parah mbak," katanya menjelaskan.


"Apa?! steven kecelakaan," kataku terkejut sampai aku menjatuhkan handphone ke tanah.


"Ada apa nai steven kenapa dia kenapa?" tanya sisil panik.


"Stev..steven kecelakaan dia nabrak trotoar dan katanya kecelakaan nya cukup parah," kataku menjelaskan pada sisil.


"Tuh kan aku udah bilang udah udah kita harus cepetan kesana," kata sisil menarik ku.


 


Kami berjalan keluar kampus lalu menaiki taksi dan perhi menuju rumah sakit tempat steven di rawat.


 


"Pliss stev lo harus kuat lo kuat pliss jangan tinggalin gue," kataku dalam hati.


Aku menoleh ke arah sisil tampak oleh ku raut wajah sisil panik tak karuan.


"Tuhan jangan ambil steven masih banyak yang butuh dia jangan ambil dia Tuhan," kataku dalam hati sambil mulai meneteskan air mata.


 


Akhirnya kami sampai di rumah sakit. Aku dan sisil turun dari taksi dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


 


"Sus ruangan korban kecelakaan yang baru banget kecelakaan," kataku panik.


"Atas nama siapa mbak," kata suster ikut bingung.


"Steven atas nama steven," kataku semakin panik.


"Ohh e..e.. mbak lurus dari sini trus belok kanan kamar nomor 2," kata suster itu.


 


Aku dan sisil kembali berlari ke arah kamar steven di rawat.


 


Sesampainya di kamar steven aku langsung masuk dan memegang tangannya.


"Stev kenapa kenapa lo harus bertingkah bodoh kenapa lo gak bisa buat lupain cinta lo ke gue cinta lo cuman buat lo celaka," kataku semakin menangis.


Steven terbaring tak berdaya alat bantu hidup ada dimana mana.


"Stev sorry gue gak bisa dan gue bakal ninggalin lo, lo harus kuat lo harus bisa gue yakin lo bisa hidup tanpa gue di sini ada sisil dia akan selalu jaga lo," kataku lalu mencium keningnya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


__ADS_2