
Sesampainya di rumah.
Ayah dan ibu masuk ke dalam lebih dulu.
"Ya udah bu aku masuk dulu ya," kataku pada steven.
"Iya istirahat yang banyak supaya sembuh total," katanya.
"Iya besok jangan lupa ya pulang kantor kita ke tempat cetak undangan buat urus undangan pertunangan," kataku mengingatkan.
"Lho? kamu ngapain ke kantor lagian soal undangan nanti aku aja yang urus biar kamu bisa istirahat total," katanya.
"Ihh apa sih aku tuh udah baik baik aja lagipula aku tetep mau urus pertunangan kita pokoknya kamu besok harus jemput aku," kataku lalu masuk ke dalam rumah.
Setelah berada si kamar aku duduk di tempat tidur.
"Kenapa ya cinta gue dan steven bikin banyak orang berkorban contohnya matthew, sisil, reina, bahkan emely mereka semua udah banyak berkorban buat aku dan steven," kataku.
Tiba tiba ibu datang ke kamar dan duduk di sebelah ku.
"Kenapa sih kok dari tadi pulang dari rumah sakit kok merengut aja," kata ibu.
"Gak apa apa kok bu naila cuman masih kurang enak nih kerongkongannya," kataku.
"Yakin tapi kok ibu rasa kamu ada masalah sama steven," kata ibu.
Aku menoleh ke arah ibu.
"Kenapa ya bu kadang apa terjadi di kehidupan kita jauh dari apa yang kita bayang kan," kataku.
"Nai kamu udah besar sekarang kamu tau apa yang kamu lakukan tapi ibu tau kadang masalah bisa datang bertubi tubi," kata ibu menjelaskan.
"Nai fikir dulu kalau nai tinggalin steven buat sisil semua akan baik baik saja tapi nyatanya malah menimbulkan banyak luka," kataku.
"Ya udah lain kali kalau kamu ambil keputusan jangan cuman pikirin perasaan orang lain yang ujung ujungnya bikin banyak luka," kata ibu sambil memegang tanganku.
Kemudian ibu meninggalkan aku dan keluar dari kamar setelah ibu keluar aku tidur.
Keesokan harinya.
Aku berangkat ke kantor pagi pagi benar. Sesampainya di kantor aku langsung mempersiapkan bahan presentasi untuk client pertama ku.
"Tania tolong kamu ambilkan berkas ibu yuli kita akan berangkat ke tempat yang sudah ditentukanya," kataku.
"Baik bu," katanya dengan sopan.
Setelah itu aku pergi ke ruangan Tia.
"Pagi Tia," kataku.
"Eh pagi bu silahkan duduk," katanya dengan sopan mempersilahkan aku duduk.
"Ada yang bisa saya bantu bu," katanya setelah aku duduk.
"Kamu tolong carikan officegirl yang baru untuk mengantikan nina alias emely juga carikan karyawan bagian keuangan," kataku menjelaskan.
"Baik bu akan saya laksanakan segera ibu tinggal e-mail kepada saya kriterianya bagaimana," katanya.
"Ya sudah kalau gitu saya mau pergi meeting kalau nanti ada client kamu kasih aja kartu nama saya soalnya kita juga belum punya karyawan untuk mendata client baru," kataku.
"Baik bu," katanya.
__ADS_1
Lalu aku keluar dan berjalan ke koridor kantor untuk menunggu Tania mengambil berkas berkas untuk meeting.
Tak berapa lama kemudian diapun datang.
"Bu mari kita berangkat," katanya.
"Semua sudah dibawa jangan sampai ada yang ketinggalan ya," kataku memperingati.
"Saya pastikan semua sudah dibawa bu," katanya.
Kamipun berangkat untuk bertemu client kemudian meeting dan survei lokasi tempat rumah itu akan dibangun. Setelah selesai aku menelpon steven untuk menjemputku.
"Halo bubu jemput aku ya aku sekarang masih di lokasi nunggu kamu," kataku.
"Iya bentar aku jemput kamu ya," katanya lalu menutup telpon.
Aku menunggu di bawah pohon.
"Oh iya kenapa aku gak telpon sisil aja ya aku kangen juga sama dia," kataku.
Lalu aku menelpon sisil namun terus tak diangkat.
"Sisil kok jadi gini sekarang ya sombong gitu," kataku kecewa.
"Tapi ya udah lah mungkin dia bener bener mau lupain masa lalunya," kataku lalu berhenti menelpon sisil.
"Kita pilih yang mana bubu," kataku bingung.
"Yang ini kali ya warnanya elegan gitu," katanya sambil menunjuk undangan berwarna hitam putih.
"Iya sih aku juga suka ya udah mending kita pilih yang ini aja," kataku.
"Ya udah mbak saya pesen ini 5.000 undangan," kata steven.
"Baik pak kami akan selesaikan," kata si pegawai.
Kemudian kami pulang ke rumah steven untuk bertemu mamanya. Sesampainya di rumah steven.
Tok..tok..tok..suara ketukan pintu.
"Masuk gak dikunci," kata mamanya dari dalam.
"Sore tante," kataku sambil mencium tangannya.
"Eh ada naila kok gak langsung pulang kan harus istirahat," kata mamanya steven.
"Iya mah biarin aja oh iya mah itu aku sama naila udah pesen undangan," kata steven.
"Kalian pesen berapa?" tanya mamanya steven.
__ADS_1
"5.000 tante aku udah bilang sama steven itu kebanyakan," kataku.
"Ya enggak lah nai malah itu kurang," kata mamanya steven.
Kemudian steven masuk ke kamar untuk mandi sementara aku menunggu di ruang tamu sambil berbincang bincang dengan mamanya steven. Tak lama kemudian dia selesai akupun berpamitan dengan mamanya dan pulang.
Sesampainya di rumah.
"Kamu mau mampir dulu," kataku.
"Iya dong," katanya.
"Ya udah kamu masuk dulu trus tunggu di ruang tamu soalnya aku mau mandi dulu," kataku.
"Iya," jawabnya pendek.
Lalu aku masuk ke kamar dan mandi. Setelah selesai mandi aku menemui steven di ruang tamu.
"Eh itu naila udah selesai mandinya kalau gitu ibu tinggal ke belakang dulu mau bikin teh buat ayah," kata ibu lalu pergi ke belakang.
"Ci kita jalan yuk," katanya.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Nonton aja ya gimana katanya lagi ada film romantis lho," ajaknya.
"Ya udah aku ambil tas dulu ya," kataku.
Lalu kamipun pergi ke bioskop. Sesampainya di bioskop kami membeli tiket dan cemilan.
"Filmnya asik awalnya aja udah gini gimana akhirnya ya," kataku menikmati film romantis itu.
Setelah cukup lama akhirnya filmnya selesai aku dan steven pun pulang. Sesampainya dirumah aku langsung turun dan steven juga langsung pulang ke rumah karena hari sudah larut malam.
"Nai kok baru pulang," kata ayah yang sedang membaca koran.
"Iya yah maaf tadi filmnya lama banget jadi lama deh pulangnya," kataku menjelaskan.
"Ya udah langsung tidur sana istirahat baru juga keluar dari rumah sakit udah keluyuran aja," kata ayah.
Aku tertawa kecil.
"Oh iya yah ibu mana?" kataku bertanya.
"Itu di kamar udah tidur ibu kamu mah jam segini udah ngantuk," kata ayah.
"Emang ini jam berapa sih yah," tanyaku lagi.
"Jam setengah dua belas ya udah gih tidur sana," kata ayah.
__ADS_1
Kemudian aku berjalan dan masuk ke kamar setelah itu aku bersih bersih dan tidur.