
Saat berada di perjalanan menuju lokasi survei pak No mengungkit pembicaraan kami semalam.
"Jadi gimana keputusan lo tentang yang lo bahas semalem," katanya padaku.
"Semalem habis bapak anter saya, saya liat orang yang saya suka itu nembak temen saya pak jadi kayak emang sebaiknya saya ambil saja beasiswa itu," kataku menjelaskan.
"Lo udah yakin gak mau tetap kerja di kantor saya," katanya.
"Ya bentar lagi kan kontraknya selesai jadi saya juga kuliahnya tinggal 3 tahun sekarang aja saya udah banyak ujian, Saya juga udah hampir 1 tahun pisah dari orang tua," kataku.
"Ya kalau kamu ambil S2 nya makin jauh dong dari orang tua lo," katanya.
"Ya gitu deh pak tapi saya pasti sempetin buat pulang dulu sebelum berangkat ke Amerika biar melepas rindu dulu sama orang tua saya," kataku.
"Trus orang tua lo tau lo mau ke Amerika buat kuliah," katanya.
"Belum sih pak dan sebenernya saya di jakarta juga ayah saya ngak tau kalau saya disini kuliah," kataku.
Tak terasa kami berbincang bincang akhirnya kami sampai di lokasi survei. Kami langsung turun dari mobil dan menemui client yang sedang menunggu.
"Siang pak. Maaf kami telat tadi di jalan terjebak macet," kata pak No pada client itu.
"Oh tidak apa apa pak saya mengerti kok kalau Jakarta memang selalu macet," katanya sambil memegang pundak pak No.
Sesekali dia melirik ke arah ku aku hanya tersenyum kecil. Tak berapa lama menunggu steven dan mbak reina datang.
"Jadi ini lokasi yang akan di bangun mall," kata steven.
"Iya dan ini adalah lokasi terbaik," kata pak No menjawab.
"Apa ini strategis," kata steven kembali.
"Sudahlah lagian client juga sudah setuju dengan lokasi ini," kata pak No dengan nada tinggi.
Setelah perdebatan itu Kami memulai survei dan membahas beberapa desain atau ukuran bangunan. Setelah selesai aku agak menjauh dari tempat itu dan duduk di bawah pohon yang rindang.
"Mending gue duduk disini lagian gue udah selesai kerjaannya tinggal nunggu pak No bahas budget," kataku sambil menyenderkan kepalaku ke batang pohon.
Tak ku sadari steven mengikuti ku dari belakang.
"Hai nai bisa ngomong berdua bentar," katanya.
"Ya bisa lah duduk sini," kataku sambil menepuk tanah di sebelah ku.
"Emang mau ngomong apa stev," kataku setelah dia duduk.
"Gini kok perasaan gue lo menjauh deh setelah clara pulang ke desa trus setelah sisil masuk ke pertemanan kita dan setelah kita kerja di kantor Pak No," katanya dengan raut wajah sedih.
Aku terdiam sejenak.
"Lo gak tau aja stev kalau perasaan gue selalu sakit ngeliat lo bareng dan deket sama sisil dan ini semua karna komit yang lo suruh buat gue ucapin di danau itu," kataku dalam hati.
Perlahan air mataku mulai menetes.
__ADS_1
"Jawab nai lo gak perlu nangis," katanya memegang pundak ku.
"Gak mungkin lah gue menjauh dari lo karna gue sayang sama lo," kataku sambil menghapus air mataku.
"Lo sayang sama gue?!" tanyanya kaget.
"Ya iya lah lo kan sahabat gue," kataku.
"Iya ya kita kan sahabatan," katanya.
Setelah itu dia pergi, aku hanya diam termenung menahan perih yang kurasakan.
"Lo gak tau stev kalau gue itu cinta sama lo dan cinta yang gue punya bisa melebihi apapun," kataku sambil menangis.
Tiba tiba pak No memanggil ku.
"Naila!!!" jeritnya memanggil namaku.
"Ya pak saya kesitu," balasku berteriak.
Aku menghapus air mata dan berlari menuju ke parkiran mobil. Sesampainya di parkiran aku langsung masuk ke dalam mobil.
"Eh kenapa tuh mata lo kayak bengkak gitu, lo abis nangis ya," katanya.
"Gak kok saya tadi kelilipan waktu keliling trus di kucek jadi merah dan bengkak gitu," kataku mengelak.
"Lo kok gak peka sih stev gue itu cinta sama lo tapi lo gak pernah peka," kataku sambil menangis.
Aku mencuci muka dan keluar dari toilet. Aku berjalan ke ruangan ku dan mengambil tas.
"Stev gue pulang duluan ya soalnya kerjaan gue udah beres," kataku.
"Oh iya sorry gak bisa nganter soalnya masih ngurus desain mall," katanya.
"Iya gak papa kok aku bisa pulang sendiri," kataku.
Aku keluar dari ruangan dan berjalan keluar kantor saat sudah berada di depan kantor tiba tiba mbak reina memanggil ku.
"Naila tunggu sebentar," jeritnya cukup keras.
"Iya mbak ada apa," kataku saat dia sudah dekat.
"Kamu udah mau pulang," tanyanya.
"iya mbak kerjaan saya kan udah beres," kataku.
"E..e bisa bicara sebentar," katanya gugup.
"Ya bisalah mbak lagian saya gak buru buru kok," kataku.
"Kalau gitu kita ngomong di taman aja yuk," ajaknya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo mbak," ajakku kembali.
Kami berjalan menuju ke taman dan sampai disana kami langsung duduk di salah satu bangku taman.
"Mbak mau ngomongin apa?" tanyaku.
"Ini soal hubungan kamu dan steven," katanya.
"Memang kenapa dengan hubungan saya dan steven?" tanyaku lagi.
"Kamu itu pacarnya steven ya," katanya.
"Apa?! pacar steven ya gak lah mbak saya tuh sama dia sahabatan," kataku tak ikhlas.
"Tapi kok kelihatannya kalian deket banget," katanya lagi.
"Gimana gak deket kita kan udah sahabatan dari kecil sampai sekarang," jelasku.
"Kamu ada perasaan ya sama dia," katanya.
"Ya adalah mbak saya itu sayang sama dia..~"
kata kataku terpotong.
"Tuh kan saya bener kamu itu sayang sama dia paling bentar lagi jadian," katanya dengan raut muka kesal.
"Saya kan belum selesai ngomong main dipotong aja," kataku kesal.
"Iya iya sorry lanjut lagi deh," katanya dengan wajah polos.
"Ya jadi saya itu sayang sama dia sebagai sahabat gak lebih dari itu," kataku menjelaskan.
"Ohh gitu." katanya.
Tak kusangka steven mendengar pembicaraan kami aku menoleh kebelakang tampak raut wajahnya sangat kesal.
"Udah kan mbak saya ada urusan lagi nih," kataku sambil berdiri dari bangku.
"Oh iya iya udah kok saya cuman mau nanya itu doang," katanya.
"Oh iya kalau gitu saya duluan ya mbak," kataku.
"Tapi lain kali kita bisa ngobrol lagi kan nai," katanya.
"Pasti nanti kita bisa ngobrol ngobrol lagi," kataku.
"Oke terima kasih," katanya.
"Iya sama sama mbak saya pergi dulu ya mbak," kataku sambil mulai berjalan.
"Iya hati hati," katanya seraya berteriak.
Aku berjalan lesu menuju ke pinggir jalan sambi menunggu taksi aku terbayang bayang kejadian di lokasi survei tadi siang.
__ADS_1