Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Aku sampai di kampung.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tepat di pagi hari aku sampai di rumah ayah dan ibu. Kemudian aku turun dari mobil dan masuk ke dalam.


"Ibu...Ayah..!!" jeritku sambil berlari.


Ibu dan ayah keluar dari dalam.


"Naila...!!" balas mereka berteriak.


Aku langsung memeluk mereka.


"Nai kangen banget sama ayah dan ibu," kataku.


"Ibu apalagi gimana kamu udah lulus," kata ibu.


"Hah?! lulus?!" kata ayah bingung.


"Iya yah aku udah sarjana sekarang," kataku pada ayah.


"kamu kuliah disana kamu berarti bohong sama ayah," kata ayah dengan nada tinggi.


"Nai gak bohong tapi nai kerja kok disana walaupun sambil kuliah," kataku pada ayah.


"Tapi nai kamu dapat uang dari mana untuk daftar kuliah," kata ayah.


"4 tahun lalu nai dapat beasiswa dari SMA tempat naila sekolah, nai takut bilang ke ayah jadi pura pura aja bilang nai kerja disana," kataku.


"Trus kamu kerja apa disana," tanya ayah.


"Nai kan dapat jurusan arsitektur trus waktu itu ada kontes desain terbaik jadi nai ikutan dan ternyata nai menang yah nai dapet uang 10 juta yang nai kasih ke ayah dan ibu trus nai juga dapet kontrak 1 tahun kerja di perusahaan properti yang besar," kataku menjelaskan.


"Setelah satu tahun kerja disitu kamu kerja dimana lagi sayang," kata ibu bertanya.


"Nai dapat bos yang baik bu jadi nai minta penambahan kontrak dan dia kasih bu," kataku.


"Wah bos kamu baik banget," kata ibu.


 


Kemudian pak No keluar dari mobil. Dan datang menghampiri aku ayah dan ibu.


 


"Nai itu siapa?" tanya ibu.


"Itu bos nya nai bu sekaligus pacarnya nai," kataku.


"Wah ajak kesini sekarang," kata ibu senang.


"Sayang sini ibu mau ketemu.." kataku terpaksa.


"Iya sebentar," jawabnya.


"Jadi bu aku tuh baru jadian sama dia, dia baik kok bu dia sayang juga sama aku," kataku berpura pura.


"Ya baguslah," kata ibu.


"Pagi bu saya Matthew No pacarnya Naila," katanya.


"I..i..iya bu dia matthew," kataku sambil tersenyum senyum terpaksa.


"Oh ya udah kita masuk semua yuk, ibu udah masak makanan makanan yang enak," kata ibu.


"Iya iya ibu masuk duluan ya nai masih mau ngobrol sama matthew," kataku gugup.


"Oh ya udah ibu tunggu di dalam ya," kata ibu.

__ADS_1


 


Kemudian ibu masuk ke dalam. Aku menarik pak No keluar dari halaman.


 


"Duh bapak gak usah lebay mukanya saya jadi susah aktingnya," kataku.


"Ihh gue salah mulu deh jadi sebel gue lama lama," kata pak No.


"Udah kita masuk akting yang bener," kataku.


"Iya iya," katanya.


 


Kemudian aku dan pak No masuk ke dalam rumah. Ibu dan ayah sudah menunggu di meja makan. Kamipun ikut duduk di meja makan.


 


"Jadi nak matthew ini pacar anak saya," kata ayah.


"Iya om," kata pak No.


"Oh iya nai kenapa steven gak pulang juga," kata ibu.


"E.. nai kurang tau bu nai kan gak bareng dia pulangnya," kataku.


"Ohh gak biasanya kalian misah gini biasanya kalian nempel mulu kayak perangko," kata ibu.


"Iya bu nai juga gak tau, oh iya nai dapet S2 di Amerika nai juga bakal kerja disana yah, bu. Jadi ayah dan ibu bakal ijinkan nai buat pergi atau enggak," kataku gugup.


"Hah?! Amerika itu kan jauh sekali kamu yakin nai," kata ibu.


"Sekarang ayah ngerti ayah ijinkan nai buat pergi tapi jaga diri ya nak maafin ayah selama ini larang kamu buat kuliah tapi kamu udah buktikan kalau perempuan juga bisa sukses," kata ayah.


"Makasih ya bu yah nai seneng benget," kataku.


 


Kemudian kami mulai makan. Setelah selesai makan aku berjalan ke luar rumah.


 


"Yah nai pergi dulu ya," kataku pada ayah yang sedang berada di teras.


"iya jangan terlalu sore pulangnya," kata ayah.


"Iya," kataku.


 


Kemudian aku berjalan dan akhirnya sampai di rumah pohon tempat ku dan steven biasa bermain.


 


"Udah 4 tahun gue gak menginjakkan kaki disini dan setelah ini gue gak bakal injakan kaki lagi disini," kataku sambil berlutut di tanah dan mulai menangis.


Tiba tiba pak No datang dari belakang ku.


"Jadi ini tempat yang bikin lo cinta sama steven tempat yang sederhana ini," kata pak No dari belakang.


"Tempat sederhana ini menyimpan seribu rahasia menyimpan seribu kenangan dan juga menyimpan banyak kesan yang beragam," kataku pada pak No.


"Waw se berarti itu tempat ini buat lo," kata pak No.


"Iya pak sebelum saya ke Jakarta saya selalu menghabiskan hari hari saya disini bersama steven," kataku sembari berdiri.

__ADS_1


"Ternyata hidup lo banyak drama nya juga ya," kata pak No meledek ku.


"Ihh bapak nyebelin kan saya lagi sedih bukannya dihibur malah diledek," kataku kesal.


"Bentar deh lo kan gak kerja sama gue lagi kenapa lo panggil gue bapak," kata pak No.


"Trus saya panggil apa," tanyaku.


"Panggil Matthew lah siapa lagi," katanya.


"Gak cocok mending gue panggil lo badak," kataku.


"Apaan nama gue keren banget malah dipanggil badak," katanya kesal.


"Ya terserah gue lah mau manggil lo siapa kek," kataku berusaha membuat dia kesal.


"Awas ya lo," katanya semakin kesal.


 


Sampai akhirnya kami ber kejar kejaran sampai akhirnya kami kelelahan dan tiduran di tanah. Pak No menoleh ke arah langit aku menoleh ke arahnya.


 


"Walau gue gak se bahagia ada di dekat steven tapi gue bahagia juga ada di dekat lo pak No alias badak rese," kataku dalam hati.


"Makasih ya nai," katanya sambil menoleh ke arah ku.


"Buat apa dak," kataku sambil menoleh ke atas langit.


"Buat selama ini lo ajarin gue artinya cinta," katanya.


"Maksud lo apa sih badak," kataku.


"Iya gue belajar dari cinta lo yang besar ke steven gue seneng pernah kenal lo dan laki laki yang bakal jadi pasangan lo adalah laki laki yang beruntung banget," katanya.


"Gue juga yakin dak perempuan yang jadi pasangan lo adalah perempuan yang beruntung dia pasti bangga banget sama lo karna lo itu adalah laki laki yang kuat gue bangga pernah kenal sama lo," kataku.


 


Kemudian kami berdiri. Aku berjalan ke arah rumah pohon.


 


"Lo mau ikut naik," kataku.


"Boleh kayaknya asik tuh," katanya.


"Iya lah," kataku.


Kemudian aku naik ke atas rumah pohon.


"Lo tau gak apa yang bikin gue suka banget naik ke atas sini,"


"Emang apa?" tanyanya.


"Pemandangan," jawabku pendek.


"Pemandangan?" katanya.


"Ya lo liat deh pemandangan dari sini itu indah banget," kataku.


"Iya sih luar biasa," katanya.


 


Tak terasa hari semakin sore. Aku dan si badak rese itupun pulang ke rumahku.

__ADS_1


 


__ADS_2