Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
"Will you mary me?"


__ADS_3

Sesampainya dikantor.


Aku turun dari motor dan masuk ke dalam kantor. Sesampainya aku di dalam ruangan aku langsung memanggil antrian pencarian asisten.


"Nama kamu siapa?" tanyaku.


"Nova bu," jawabnya.


Lalu aku mewawancarainya begitupun dengan pelamar lainnya namun sampai 10 tidak ada yang memenuhi kriteria. Sampai pada akhirnya aku menemukan orangnya di nomor urut 13.


"Siapa nama kamu?" tanyaku.


"Oh saya Tania bu," jawabnya ramah .


Setelah beberapa saat mewawancarainya akhirnya aku menerimanya.


"Oke kamu memenuhi kriteria saya kalau begitu kamu saya terima," kataku.


"Terima kasih bu," katanya penuh semangat.


"Kapan saya mulai kerja bu?" tanyanya.


"Kalau tidak masalah saya ingin kamu bekerja mulai hari ini," kataku.


"Ohh tidak masalah saya bersedia sekali lagi terima kasih bu," katanya.


"Oke ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya," kataku.


"Iya bu," katanya.


"Oke tugas pertama kamu adalah kamu harus buat iklan kalau perusahaan kita lagi mencari HRD di ruangan kamu sudah saya siapkan komputer," kataku.


 


Tanpa basa basi dia langsung keluar dari ruanganku. Saat sedang sibuk mengurus desain bangunan tiba tiba telpon ku berdering.


 


"Ya halo bubu," kataku.


"Halo kamu lagi dimana cici ku sayang," katanya.


"Aku lagi di kantor nih oh iya kamu dimana?" tanyaku balik.


"Aku juga lagi di kantor, oh iya ci kamu pasti merasa aneh karna belakangan ini aku sibuk aku bener bener minta maaf ya ci," katanya.


"Iya aku ngerti kok aku tau aku bukan satu satunya yang penting buat kamu," kataku.


"Jangan gitu dong ngomongnya," katanya.


"Ya udah, udah dulu ya bu aku mau lanjutin pekerjaan," kataku lalu mematikan telponnya.


 


Tak terasa hari semakin sore aku dan Tania pun pulang. Saat di perjalanan hari sudah gelap tiba tiba telpon ku berdering.


 


"Halo bubu," kataku.


"Halo nai tolong aku, aku sekarang dirumah pohon tadi ada beberapa orang yang hajar aku habis habisan padahal aku gak kenal mereka," katanya dengan nada memelas dan nafas tersengal sengal.


"Hah?! kamu seriusan ya udah tunggu bentar ya aku bentar lagi sampai kok kamu bertahan ya," kataku panik kemudian mematikan telponnya.


"Pak kita jalannya lebih cepat ya pacar saya dalam bahaya," kataku pada supir dengan nada sangat panik.


Sesampainya aku di kampung aku langsung turun dari taksi dengan suasana hujan deras. Aku berlari sekuat tenaga ke arah rumah pohon dalam keadaan basah kuyup dan menangis.

__ADS_1


 


"Tuhan jaga bubu jangan ambil dia aku masih ingin lebih lama dengannya," kataku sambil berlari.


 


Sesampainya di rumah pohon aku melihat bubu sudah tergeletak tak berdaya di tanah dengan wajah penuh luka. Aku menjatuhkan tas dan berlari mendekatinya. Aku meletakkan kepalanya di atas pangkuan ku.


 


"Tuhan jangan ambil bubu kau berhak atas setiap nyawa tapi aku memohon jangan ambil bubu sebelum kau mengambil ku," kataku berteriak di tengah hujan.


"Bubu pliss jangan tinggalin aku Tuhan ciptakan kamu buat selalu ada disampingku dan Tuhan gak akan ambil kamu sebelum Tuhan ambil aku dari dunia ini," kataku kembali berteriak.


Tak berapa lama kemudian bubu mulai sadar dan mengusap air mataku.


"Bubu kamu udah sadar," kataku.


Dia tersenyum kecil.


"Tuhan belum ambil aku karna dia tau naila ingin habiskan waktu tuanya bersama aku," katanya.


Lalu dia berusaha berdiri namun kelihatannya sulit.


"Aku sengaja ajak kamu kesini juga tadi karna aku mau ngomong sesuatu disini tapi malah ada orang orang yang tak dikenal menyerang aku," katanya.


"Emang kamu mau ngomong apa bu," kataku.


Lalu steven berlutut di depanku di tengah hujan yang deras.


"Naila aku gak tau entah kapan Tuhan taruh cinta aku buat kamu tapi satu hal yang aku tau cinta yang aku punya gak pernah salah untuk aku perjuangkan beribu alasan manusia yang ingin menjatuhkan kamu tapi aku tau kamu gak pernah jatuh dimata alu, Naila I love you. Naila will you mary me?" katanya penuh cinta dan makna.


Aku meneteskan air mata.


"Aku juga gak tau apa yang membuat aku cinta sama kamu tapi aku gak punya alasan untuk tolak lamaran kamu," kataku.


"Naila will you mary me?" tanyanya sekali lagi.


 


Dia memeluk ku erat dengan penuh cinta di malam di tengah hujan dia menujukkan sebuah kisah cinta sejati malam dimana air mataku adalah sebuah kebahagiaan yang tak terhingga harganya.


 


"Nai tau gak butuh berapa tahun untuk aku berani nyatakan semua ini," katanya.


"Aku gak pernah mau tau yang aku ingin tau seberapa besar cinta kamu ke aku," kataku.


Kami duduk di tanah sambil aku bersandar di bahunya dan menggenggam erat tangannya.


"Cinta aku gak akan pernah bisa terhitung bahkan setiap hembusan nafas kamu berarti buat aku, dan setiap senyum kamu adalah sebuah cinta di hidup ku," katanya.


"Se berarti itu aku buat kamu," kataku.


"Iya lebih berarti dari hidup aku," katanya.


Tak berapa lama kemudian dia mengantar ku pulang. Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan mandi. Setelah selesai mandi aku naik ke tempat tidur dan menelpon bubu.


"Halo bubu," kataku.


"Halo ci ada apa?" tanyanya.


"Enggak aku cuman pengen tanya kamu udah mandi kan besok pagi sebelum ke kantor aku bakal ke rumah kamu dulu deh," kataku.


"Ya udah oh iya ci kapan ya kita tunangan," katanya.


"Aku mah ikut kamu aja kamu bicarakan aja dulu sama papa mama kamu trus nanti kita bicarakan sama ayah ibu aku," kataku.

__ADS_1


"Oh ya udah malam kamu istirahat ya jangan lupa mimpin aku," katanya.


"Iya malam bubu ku sayang," kataku.


"Malam cici ku sayang," balasnya.


Kemudian aku tidur dan menantikan hari esok yang indah. Keesokan paginya aku bangun dan langsung mandi setelah selesai mandi aku bersiap secantik mungkin untuk menemui bubu.


 


"Hai ibu ayah gimana nai udah cantik belum?" tanyaku sembari berputar.


"Iya emang kamu mau kemana?" kata ayah.


"Mau ketemu pacar lah ayah ku tersayang," kataku pada ayah.


"Kamu udah sejauh mana sama steven?" tanya ibu.


"Tau gak ibu ayah semalem steven lamar aku dan dia romantis banget," kataku.


"Hah?! udah sampai di lamar dan ayah gak tau kamu gimana sih," kata ayah marah.


"Maaf yah dan rencananya sih steven mau ngomong dulu sama keluarganya baru nanti ngomong sama ayah dan ibu," kataku.


"Udah udah kita makan dulu aja nanti lagi bahasnya nanti kamu telat ke kantornya," kata ibu.


 


Kemudian kami makan setelah selesai makan aku berjalan menuju ke rumah steven. Sesampainya di rumah steven aku mengetuk pintu.


 


Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu.


"Pagi tan," kataku saat mamanya steven membuka steven.


"Eh naila masuk sayang steven nya lagi sakit karna semalem kehujanan," kata tante.


Lalu aku masuk ke dalam.


"Kamu ke kamarnya gih dia udah cerita lho kalau dia udah lamar kamu," kata tante.


Aku tertawa kecil.


"Ya udah tan naila ke kamar steven dulu ya," kataku.


"Iya," jawab tante.


Aku menaruh tas dan berjalan ke kamar steven saat sampai di depan kamar steven aku membuka pintu perlahan. Aku mendekat dan meletakkan tanganku di kepalanya.


 


"Bubu sayang," kataku sambil mengelus kepalanya.


"E...iya sayang kamu belum berangkat kerja," katanya lemas.


"Ini udah mau berangkat cuman aku kesini dulu nemuin kamu," kataku.


"Makasih ya udah ada di saat aku butuh," katanya.


"Sorry ya bu gara gara aku kamu jadi sakit," kataku.


"Ini gak seberapa masih ada pengorbanan yang akan lebih besar lagi buat kamu," katanya.


 


Setelah tak berapa lama berbincang bincang aku berpamitan dengan bubu om dan tante. Kemudian aku berjalan keluar rumah steven kemudian aku memesan taksi online dan berangkat ke kantor.

__ADS_1


 


 


__ADS_2