Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Hari pertama kuliah


__ADS_3

Keesokan hari setelah hari yang melelahkan aku mendapatkan kost\-kostan murah dengan modal uang yang tak banyak dari ayah. Pagi ini aku akan berangkat ke kampus. Setelah bersiap\-siap aku membeli sarapan di warung. Lalu, pergi ke kampus. Sesampainya dikampus aku merasa sangat canggung. Tapi, aku berusaha untuk rileks menghadapi teman baru, lingkungan baru, dan semua serba baru.


"Sulit juga, ya menghadapi lingkungan kota." kataku ragu-ragu ternyata, clara, dan steven juga kuliah di kampus yang sama.


"Eh, anak orang miskin itu gak pantes buat sekolah disini, lagian lo gak bakal bisa jadi orang kaya." katanya menyepelekan aku.


"Aku yakin kok, aku pasti bisa. Lagian kesuksesan gak pernah memandang asal usul." kataku membalas ledekannya.


Dia pun pergi menahan malu. Prok...prok...prok... suara tepukan tangan. Aku penasaran dari mana asal suaranya. Ternyata, steven datang dari belakang ku.


"Hey, nai." katanya sambil memukul pundakku.


"Astaga, lo kuliah disini juga, stev?" tanyaku tak menyangka.


"Ya, gue kuliah disini. Ngomong-ngomong lo tadi keren banget waktu ngelarang clara. Gitu dong lo harus bisa tegas." katanya dengan bangga.


"Oh, ya iyalah gue harus berani, lagian apa hak dia ngehina gue." kataku penuh keberanian.


Sambil berjalan menuju kelas, kami berbincang\-bincang. Tak terasa kami sudah sampai di kelas. Pelajaran pun dimulai, dosen menerangkan dan aku mendangarkan dengan cermat. Pak dosen mulai memberi pertanyaan.


"Setelah sudah saya jelaskan saya tolong jawab pertanyaan dipapan tulis." katanya sambil memilih murid yang ditunjuk.


"Naila..." katanya cukup keras.


Aku terkejut, namun tetap maju ke depan dengan gugup.


"Ayo kamu jawab." katanya padaku.


"Iya, pak." jawabku gugup.


Lalu aku menulis jawabanku dipapan tulis. Aku tak yakin jawaban ku benar.

__ADS_1


"Jawaban kamu sangat tepat, baru kali ini murid saya menjawab, dan saya sepuas ini." katanya penuh semangat.


Aku senang sekali dan timbul rasa bangga. Setelah itu, kelas usai. Lalu, aku dan steven berjalan menuju ke perpustakaan.


Di perjalanan,


"Lo tadi keren benget bisa bikin guru bangga padahal lo kan masih angkatan baru." katanya sambil melirik sekeliling.


"Ya, itu tujuan gue." kataku menjawab. Sesampainya di perpustakaan kami membaca beberapa saat.


"Udahan yuk, nai. Aku lapar, nih." katanya meringis.


Aku malu mengungkapkan bahwa aku tak punya uang.


"Ah, masih asik baca, nih." kataku berpura-pura tidak lapar.


"Masa sih, ayo dong gue traktir deh." ucapnya memohon.


"Oke, deh. Yuk ke kantin." kataku tanpa malu-malu.


"Stev, sini duduk di samping aku." katanya sambil merangkul tangan steven.


Aku hanya diam dan duduk di meja yang lain. "Kamu kok mau sih temenan sama orang miskin kayak dia." katanya sambil menengok ke arah ku.


"Emang kenapa?" tanya steven.


"Ya, gak sepadan aja. Orang berkelas kayak kamu temenan sama orang miskin." balasnya.


Karena tak sanggup menahan kesal aku pergi meninggalkan kantin, sambil berlari. Tak lama kemudian, steven datang mengejar


"Nai, nai, naila. Tunggu nai" jeritnya sambil mengejarku.

__ADS_1


Dan akhirnya dia bisa menangkapku.


"Hap, akhirnya ketangkep juga." katanya seraya bercanda.


Setelah aku berbalik badan, aku menghapus air mataku.


"Lo, kenapa main pergi-pergi aja kan kita belum makan. Pake nangis segala lagi." katanya.


Kemudian, aku kembali meneteskan air mata. "omongan clara ada benarnya juga, ya. Orang kaya gak bisa temenan sama orang miskin. Kayak lo dan gue." kataku membalas.


"Apaan sih, lo aneh banget." katanya membalas sikap ku yang aneh.


"Iya. Waktu tadi si clara hina hina gue lo malah diam aja, bukannya belain gue atau apa gitu." kataku yang masih kesal.


"Karena semua omongannya clara itu gak ada benernya dan gak penting juga." katanya membalasku.


"Tetep aja. Lo gak belain gue." ucapku tak puas.


"Gue akan selalu belain lo, karna gue sayang sama lo, sahabat gue." katanya berusaha memuaskan ku sambil memeluk ku dari belakang.


Aku terkejut jantungku berdetak tak beraturan.


"Aku kenapa, gak nai lo gak boleh suka sama steven. Aku harus fokus kuliah lagian dia itu sahabatku" kataku dalam hati.


Aku melepas pelukan steven.


"Apaan sih lo kan malu pelukan."kataku dengan gugup.


Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang saja ke kost kostan.


"Emang lo ngekost di mana sih nai?" tanyanya kepo.

__ADS_1


"Gue ngekost di kostan yang kecil banget, ada di jalan belakang kampus." jawab ku.


Kami pun pergi ke kostan ku dan ke beberapa tempat lain. Seperti taman, danau, dan jajan dipingir jalan. Hari yang menyenangkan.


__ADS_2