Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Rahasia sisil terungkap


__ADS_3

 


Saat aku berjalan sudah hampir sampai ku dengar ada yang sedang bicara. Aku pun mendekat dan menguping.


 


"Aku sebenarnya cinta sama steven, tapi....


aku gak mau bikin naila sakit hati, lagian umurku gak akan lama lagi." katanya pada diri sendiri.


Aku yang mendengar sontak terkejut.


"Hah... berarti sisil sakit parah." kataku berbisik.


Mungkin dia mendengar bisikan ku, dia mendekati pintu. Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi dan masuk ke kost-an ku.


"Kenapa harus sahabat ku Tuhan, kenapa?" kataku meluap kesedihan. Aku seolah tak terima sisil mengalami hal sepedih ini. Aku pun menelpon steven tujuan ku sih pengen ngasih tau dia.


"Kring...kring...kring" suara telpon.


"Halo. Ada apa, nai?" katanya membuka percakapan.


Aku tak berani mengungkap rahasia itu pada steven. Aku takut sisil marah. Jadi, aku memutuskan tidak jadi memberitahu stev.


"Ee...enggak cuman mau ajak berangkat bareng aja besok." kataku gugup.


"Oh, ya udah. See you tomorrow," katanya sambil menutup telpon.

__ADS_1


Kemudian aku membuka buku dan belajar, karena besok kami ada ujian.


"Ah, mending aku belajar yang bener dan tekun, supaya aku bisa buktiin ke orang banyak kalau wanita itu bisa berkarir." kataku menyemangati diri.


Keesokan paginya.


Steven datang dan kami pun berangkat bersama. Setibanya di kampus, banyak yang menatapku aneh, di kampus juga banyak sekali poster ditempel. Aku pun mendekat untuk melihatnya.


Setelah kulihat ......


"Hah, kenapa isi posternya fotoku yang sedang kerja di warung bu ningsih." kataku heran.


"Kenapa, lo malu foto lo disebarin." ledek clara.


"Iya, gaya-gayaan lo ngampus disini kerja di warung makan." tambah temannya.


Dia tampak tercengang melihat perlakuan ku padanya.


"Tuh, lo denger dia gak malu." kata steven.


"Awas lo ya, liatin aja nanti." jeritnya tak terima.


Aku berusaha tak memperdulikan kata-katanya, namun hati ku tetap sakit. Mataku seperti ingin menangis.


"Woy" kata steven membuatku terkejut.


"Apaan sih ganggu aja aku mau ke perpus nanti kan kita ujian." kataku mengubah pembicaraan.

__ADS_1


"Oh, iya duh gimana ya gue belom belajar lagi." katanya kebinggungan.


"Tuh kan makanya kita harus balajar." kataku sambil menariknya.


"Tunggu, tunggu tapiii kalau gue gak bisa lu mau kan kasih gue contekan." katanya lagi.


"Apaan males enak banget lo." kataku sambil meninggalkan steven.


"Heiiii, tunggu dong." jeritnya.


"Makanya buruan." jeritku dari kejauhan.


Kami pun pergi menuju perpustakaan. Dan disana aku membaca beberapa buku supaya aku bisa lancar waktu ujian.


"Udahan yuk nai gue bosen baca buku truss." katanya merengek.


"Gue belom selesai nih, lo duluan aja." kataku sibuk membaca.


Dia pun pergi keluar.


Yap, steven itu orangnya bosenan. Tak terasa aku udah cukup lama berada di perpustakaan. Dan waktu kelas mau dimulai. Aku pun pergi menuju kelas.


"Ke kelas ah keburu ujian dimulai" kataku sambil menyimpan buku yang kubaca tadi.


Sesampainya di dalam kelas.


"Eh, eh, eh itu si pelayan warung." kata salah satu mahasiswi di kelas ku.

__ADS_1


"Apaan lu semua ngehina hina naila, sekali lagi gue denger ada yang hina naila berurusan sama gue." kata steven lantang.


__ADS_2