
Setelah aku pulang dari taman.
"Oh, iya aku belum beli telur untuk sarapan." kataku sebelum membuka pintu.
Aku pun berjalan menuju warung terlihat oleh ku seperti seorang wanita tergeletak di ujung jalan. Aku merasa aneh karena daerah kost\-an ku ini biasanya sepi kalau jam segini.
Aku memberanikan diri untuk mendekat setelah kulihat dia hanya wanita biasa. Kemudian aku berusaha membangunkannya, namun tak berhasil aku pun memutuskan untuk membawanya pulang.
"Tapi, gimana cara bawanya pasti dia berat banget." kataku kebingungan.
Aku memandang sekeliling berharap ada yang lewat.
"Oh, ya" Aku teringat kalau steven ngekost tidak jauh dari kost-an ku. Maka aku pun menelponnya.
"Halo, stev." kataku ketika steven baru menggangkat telpon.
"Iya, ada apa?" tanyanya padaku.
"Ini..~" saat baru mau bicara steven memotong.
"Masa baru ketemu udah kangen aja." ledeknya.
"Apaan sih, ini aku liat cewek pingsan di ujung jalan kost-an kita. Cepetan kesini ya tolongin." kataku.
Tak lama kemudian, Dia datang. Dia mengeluarkan wajah terkejut.
"Wah, lu apain anak orang sampe pingsan gini." katanya terkejut.
"Eh, eh, eh. Enak aja lu, gue gak ngapa- ngapain ini cewek. Waktu gue kesini dia emang udah kayak gini." kataku menyaut tuduhan steven.
Setelah banyak bicara kami akhirnya membawa cewek itu ke kost-an ku. Lalu, aku membuatkan secangkir teh dan mengambil minyak angin, dan setelah itu aku kembali untuk memberikannya kepada cewek itu. Saat aku kembali cewek itu sudah sadar.
__ADS_1
"Oh, lo udah sadar." kataku senang. Terlihat oleh ku wajahnya kebingungan.
Eh, eh, eh. Ada yang tau siapa dia? tau gak? tau gak? pengen tau ya! hehehe. Dia itu.....
"Gue sisil anak baru di kost-an." katanya tiba-tiba.
"Oh, anak baru." kata steven polos.
"Trus lo kok bisa pingsan tadi" tambahku. "Mungkin aku kecapean. Oh, ya thanks udah tolongin aku." katanya.
"Iya. Sama-sama." aku dan steven menjawab serentak.
Aku menatap stev begitu pun dia.
"Ihh, sweet banget sih kompakan gitu, pacaran ya." katanya dengan senyum mengelikan.
"Ngak, gak kok." jawab kami serempak sambil menggerakkan tangan.
"Serempak mulu, ya udah aku pulang dulu ya." katanya sambil berdiri.
"Braakk... aku terjatuh kepalaku terbentur ke dinding.
"Aduh.." kataku spontan.
Karena suara yang cukup keras akibat benturan, sisil yang berada di sebelah datang menghampiri ku, tanpa basa-basi dia membuka pintu.
"Aelah.. ngapain kamu ngejongrok disitu." katanya sambil menahan tawa. Lalu, dia menolong ku.
"Thank you, sil." kataku setelah berada di atas tempat tidur.
"Iya, sama-sama kamu kok bisa jatuh?" tanyanya sambil menahan tawa.
"Itu tadi mau bersihin langit-langit tau-taunya jatuh." kataku agak gugup.
"Oh, lain kali lebih hati-hati bisa bahaya, lho." katanya sambil memegang pundakku. Tak lama setelah itu dia pun pulang.
__ADS_1
"Jangan-jangan aku sudah gila karena steven, gak gak gak aku masih mau kuliah aku gak mau gila." kataku sambil menidurkan diri.
Keesokan Paginya.
Aku berangkat ke kampus. Steven datang lebih dulu, setelah dia melihatku dia menghampiriku
"Nai, ke kelas bareng yuk." katanya sambil mengandeng tangan ku.
"Tuh, kan. Jantungku nyolot lagi, kalau gue dekat-dekat sama steven." kataku dalam hati.
Sesampainya di kelas aku membuka genggaman steven dan duduk. Dosen kami pun masuk.
"Pagi semua. Sekarang kita akan melanjutkan pelajaran dan materi yang kemarin." katanya. Setelah beberapa jam belajar dia, iya si dosen galak itu memberi pengumuman.
"Oke, semua kampus kita mengadakan kontes membuat desain bangunan terbaik. Sesuai dengan jurusan kalian, kalian bisa ikut serta berpartisipasi, kalian hanya membayar biaya pendaftaran kepada panitia acara." katanya penuh gairah.
"Aku pengen ikut sih, tapi gimana ya aku gak punya uang. Eh, tapi aku gak boleh nyerah, siang ini kan aku kerja di warung bu ningsih." kataku dalam hati.
Tak lama kemudian kelas usai, aku dan steven berjalan pulang. Namum, di koridor kampus aku dan steven bertemu sisil.
"Eh kamu kuliah disini." kata sisil padaku.
"Iya aku satu jurusan sama steven. Kamu jurusan apa?" kataku sembari bertanya.
"Aku jurusan sastra." katanya singkat sambil berkali- kali melirik genggaman tangan steven.
"Kamu udah selesai kelas?" tanya steven. "Belum masih ada siang ini." balasnya ketus.
Kami pun mengakhiri pembicaraan dan pergi ke tujuan masing masing. Aku pun pergi ke warung bu ningsih.
"Siang, bu." sapa ku.
"Eh, naila kamu cepat ke belakang kamu cuci piring." katanya terburu-buru karena banyak pembeli. Setelah mencuci piring aku melayani pesanan para pembeli. Tak terasa hari semakin sore, aku pun diberikan gaji, dan setelah itu aku pamit pulang.
"Pulang dulu ya, bu." kataku sambil berjalan. Kusimpan uang 50.000 itu di dalam tas ku, lalu kembali berjalan pulang.
__ADS_1
"Semoga dalam waktu 1 minggu aku bisa nabung supaya aku bisa nabung supaya bisa ikutan kontes itu." kataku dalam hati.