Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Surat dari sisil.


__ADS_3

"Stev kita baca suratnya yuk," kataku.


"Ya udah baca aja," katanya.


Aku mengambil surat itu dan membacanya.


"Dear naila dan steven,


Sorry ya aku gak pamit pergi aku tau keberadaan aku selama ini sudah menganggu hubungan kalian aku seneng pernah kenal kalian, kalian orang yang baik banget tapi kalian terlalu baik terutama kamu naila aku tau kamu cinta banget sama steven tapi karna kamu tau aku cinta sama steven kamu rela mengorbankan perasaan kamu buat aku. Tapi sayang perempuan yang ada dihatinya steven cuman kamu aku gak mau jadi perempuan yang jahat perempuan yang memaksakan kehendak. Aku melihat sebuah cinta yang luar biasa di malam dimana steven kecelakaan naila buktikan kalau dia benar benar cinta sama steven aku benalu di hubungan kalian dan aku gak mau bikin hubungan kalian mati gara gara aku, Naila kamu perempuan yang tepat buat steven sementara aku perempuan lemah yang gak pernah ada dihati steven. Stev, aku udah cinta sama kamu dari awal kita ketemu tapi udah lihat sebuah cinta di mata kamu tapi itu bukan buat aku tapi buat naila. Selamat menjalani hidup baru aku pamit semoga kalian bahagia selamanya.


Sahabat kalian,


Sisil." isi surat itu.


Kemudian aku menoleh ke arah steven dan mulai menangis.


"Stev sisil pergi ini yang aku takutkan banyak orang yang akan berkorban hanya untuk hubungan kita sisil dia punya penyakit tapi dia gak pernah cerita ke kita," kataku sambil menangis.


Steven memelukku.


"Nai kamu gak perlu takut semua yang terjadi itu udah takdir sisil udah dewasa dan dia tau apa yang dia jalani sekarang," kata steven berusaha menenangkan ku.


Seminggu kemudian.


Steven pulang dari rumah sakit aku dan steven bertemu di depan rumah pohon. Saat aku datang kesana tempat itu sudah dihiasi dengan sangat indah.


"Steven mana ya katanya mau ketemu disini," kataku sambil mengedarkan pandangan.


"Wah..indah banget aku gak nyangka steven bisa kayak gini," kataku.


Tiba tiba dari belakang ku ada yang menutup mataku.


"Steven?" kataku bertanya tanya.


"Surprise!! gimana lo suka sama tempatnya," kataku.


"Suka lah ini tuh alam banget banyak bunga bunga yang bergelantungan dari atas gue gak nyangka lo bisa kayak gini," kataku.


"Bisa dong apa coba yang enggak buat lo," katanya.


"Bisa aja lo, oh iya lo bilang ke gue ada yang lo mau omongin," kataku.


Kemudian steven berlutut di depanku.


"Hah? steven mau ngapain," kataku dalam hati.


"Naila ini bukan pertama kalinya aku ungkapkan perasaan aku ke kamu tapi aku gak akan nyerah untuk bilang cinta ke kamu, Naila aku cinta kamu sekarang dan untuk selamanya," katanya.


Aku termenung sebentar.


"Stev sorry selama ini aku menyiksa kamu karna perasaan kamu tapi aku tau sekeras apapun aku berusaha aku, aku gak akan bisa hilangkan cinta aku ke kamu aku juga gak mau pengorbanan seseorang aku sia sia kan," kataku.


"Maksud kamu?" tanyanya.


"Aku mau jadi pacar kamu bahkan jadi teman hidup kamu yang akan selalu ada di saat kamu butuh aku," kataku.


Kemudian steven berdiri.


"Maksud kamu kita pacaran,"katanya.

__ADS_1


Kemudian aku mengangguk.


"Yeay...!! aku seneng banget nai kamu udah balikin semua kebahagiaan aku kamu udah balikin setengah dari nyawa aku," katanya lalu memeluk ku.


"Aku bahagia stev mungkin waktunya terlambat tapi aku seneng akan jadi orang pertama yang akan membantu kamu disaat kamu terpuruk," kataku.


 


Kemudian kami berjalan jalan menggunakan sepeda motor. Aku memeluk steven dengan sangat erat.


 


"Kayaknya kalau cuma aku kamu kita gak romantis ya," katanya.


"Trus aku panggil kamu apa dan kamu panggil aku apa," kataku bingung.


"Hmm....apa ya," katanya.


Kemudian kami berpikir sejenak dan akhirnya mendapatkan jawabannya.


"Nah....aku tau nih sayang pasti ini bagus banget," kata steven.


"Emang apa?" tanyaku.


"E...kamu panggil aku bubu aku panggil kamu cici," katanya.


"Hmm....bagus aku suka oke mulai sekarang aku panggil kamu bubu ya kan," kataku.


Dia tersenyum. Tak berapa lama kemudian steven mengantar ku pulang.


Sesampainya di rumah aku turun dari motor.


"Bye bubu sayang," kataku.


Kemudian aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah sangat ceria.


"Nai kok tumben senyumnya se ceria ini apalagi semenjak matthew meninggal," kata ibu.


"Ibu tau gak aku baru jadian sama steven," kataku lalu tertawa kecil.


"Hah?! kamu gak boleh gitu kan matthew baru aja meninggal masa udah cari yang baru aja," kata ibu terkejut.


"Ibu enggak kok matthew punya tempat yang spesial di hati nai tapi steven punya juga tempat yang spesial," kataku.


"Ibu bingung deh sama kamu," kata ibu sambil memegang kepalanya.


"Gak usah bingung bu," kataku lalu berjalan ke kamar.


 


Saat berada di kamar aku mengambil handphone dan menelpon caline teman yang ada di Amerika.


 


"Hello," kataku.


"Yes, hello. This is naila?" katanya.


"Yes it's me. Caline I have bad news," kataku.

__ADS_1


"What bad news?" tanyanya.


"Matthew...he died and that was about one week ago," kataku menjelaskan.


"What?! how come you just told me now. Why did he die?" tanyanya.


"The plane he was traveling in had an accident and he could not be saved," kata menjelaskan.


"I'm sorry to hear that, I also love matthew. But, unfortunately I can't see him for in last time," katanya.


"Yes, If so close the phone first so we continue when," kataku lalu menutup telpon.


 


Setelah menutup telpon aku pergi mandi karna hari mulai sore. Tak berapa lama kemudian aku selesai mandi saat aku keluar dari kamar mandi tiba tuba telponku berdering.


 


"Ya hallo bu, ada apa?" kataku saat baru mengangkat telpon.


"Ci, kamu bisa gak jalan malam ini," katanya.


"Kayaknya bisa sih emang kita mau kemana?" tanyaku.


"Ada deh.. yang penting kamu siap siap aku jemput jam 8 malam," katanya.


"Ya udah deh, Dah....bubu," kataku.


"Dah....ci," jawabnya lalu aku menutup telpon.


 


Aku menoleh ke arah jam yang menujukkan tepat pukul jam enam sore. Aku berlari ke luar kamar dan menemui ibu yang sedang menonton tv.


 


"Bu....!!!," kataku berteriak.


"Iya sayang ibu denger gak usah teriak teriak," kata ibu.


"Tau gak bu steven ajak aku ketemu malam ini. Haaaaa.......!!!" kataku sambil berteriak dan melompat lompat.


"Ihh kamu jangan lompat lompat gimana kalau dilihat orang kan lucu," kata ibu melarang ku.


"Ya udah nai mau siap siap dulu," kataku lalu mencium ibu.


 


Kemudian aku berjalan kembali ke kamar. Aku memilih baju sepatu dan tas terbaik untuk dinner pertama ku dan steven.


 


"Aduh gue pake baju yang mana ya merah atau biru," kataku bingung sambil melihat lihat baju.


Setelah menemukan baju yang cocok aku melihat rak sepatu ku.


"Duh ini sepatunya heels atau enggak ya," kataku.


 

__ADS_1


Setelah cukup lama memilih baju sepatu dan tas akhirnya aku siap dengan memakai dress biru pendek dan sepatu heels yang tidak terlalu tinggi.


 


__ADS_2