
Setelah aku mandi telpon ku berdering. Ku fikir boss rempong itu yang menelpon ku. Ternyata...
"Hah?! masa boss rempong itu nelpon ini kan masih jam tujuh aku kan disuruh datang jam sembilan," kataku merasa heran.
Saat kulihat ternyata steven, aku mengangkat telpon ku.
"Ya hallo ada apa stev pagi pagi nelpon gue," kataku.
"Gak gue cuman mau nanya semalem lo pulang naik apa kok gak nungguin gue sih," katanya.
"Eh gue itu udah nungguin lo di parkiran satu jam an gitu sampai gue digigitin nyamuk, ya udah deh gue pulang duluan," kataku kesal.
"Ohh gitu sorry ya soalnya gue ngobrol banyak sama sisil jadi kelamaan," katanya polos.
"Ya udah gak apa apa, eh jangan lupa nanti kita ke kantor jam sembilan jangan sampai telat nanti yang ada kita dimarahin sama boss rempong," kataku menjelaskan.
"Iya nanti gue jemput lo ya," katanya.
"Gak usah stev kita berangkat sendiri sendiri aja," kataku.
"Kenapa gitu?" tanyanya.
"Udahlah mending lo siap siap nanti telat." kataku setelah itu aku langsung menutup telpon.
Setelah itu aku langsung sarapan lalu pergi ke kantor menggunakan taksi.
Sesampainya di kantor aku terburu buru keluar dari taksi dan langsung masuk.
__ADS_1
Saat di loby seorang cleaning service sedang mengepel lantai aku tak melihat sehingga aku terpeleset. Tiba tiba pak No menangkap ku dari belakang, wajah kami begitu dekat.
Aku langsung berdiri.
"Terima kasih pak," kataku sambil merapikan bajuku.
"Ya sama sama lain kali hati hati," katanya dengan lembut.
"Ternyata dia bisa lembut," kataku dengan suara berbisik.
"Lo bilang apa barusan," katanya dengan nada tinggi.
"Enggak bukan apa apa kok pak, saya masuk dulu," kataku.
Tak lama kemudian steven datang.
"Tumben lo bisa cepat datang, biasanya telat mulu kemana mana," kataku meledek.
"Wow dia marah," ledekku lagi.
"Tau gak harusnya itu gue dateng lebih cepat dari ini," katanya.
"Masa?!" ledekku tak percaya.
"Iya tapi tadi gue anter sisil ke kampus dulu," katanya senyum senyum.
Raut wajahku langsung berubah.
"Ohh," jawabku pendek.
Setelah berapa lama mbak reina menemui ku.
__ADS_1
"Nai lo dipanggil pak No tuh ke ruangan dia," katanya.
"Naila aja mbak saya enggak," tanya steven.
"Iya cuman naila, kamu tunggu sini aja," kata mbak reina menjelaskan.
"Ohh oke," kata steven.
"Yuk mbak temenin saya," kataku.
Aku dan mbak reina keluar ruangan lalu pergi ke ruangan pak No. Sesampainya di depan ruangan mbak reina di panggil rekannya, dia pun meninggalkan ku.
"Reina!!!" teriak salah satu rekan kerjanya.
"Ya, tunggu sebentar." Dia menoleh ke arahku.
"Nai gue ke sana dulu ya," katanya.
"Ya, mbak gak papa ke sana aja," kataku sembari membuka pintu.
Dan sekarang aku berada di ruangan yang paling aku benci. Tambah lagi aku hanya berdua dengan orang paling menyebalkan Boss rempong.
"Pagi pak bapak panggil saya," kataku sopan.
"Ya," jawabnya sambil membalik kursi kerjanya.
"Ada apa ya pak?" tanyaku.
"Saya mau kamu ambil berkas lama nomor 276 di lantai 12 ruang berkas, eits tapi jangan pake lift," katanya ketus.
"Hah?! kalau gak pake lift pake apa pak?" tanyaku kaget.
__ADS_1
"Ya pake tangga lah," katanya semakin ketus.