Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Kisah inspirasi


__ADS_3

"Maksudnya mamanya bapak udah..~" kataku.


"Iya mama gue udah lama meninggal," katanya.


"Kalau boleh tau mamanya bapak meninggal karna apa," tanyaku.


"Dia meninggal sewaktu melahirkan gue jadi bisa dibilang dia berkorban nyawa buat gue," jelasnya.


"Wow cerita yang luar biasa pasti mamanya bapak bangga deh sama bapak bisa jadi orang sukses tanpa kasih sayang seorang ibu," kataku.


"Gue dapet kok kasih sayang seorang ibu," katanya.


"Pasti dari papanya bapak dia pasti curahkan semuanya," kataku.


"Gue gak punya papa," katanya.


"Maksud bapak," kataku kebingungan.


"Ya gue ditinggal waktu gue berumur 8 tahun dia bilang dia mau cari kerja biar bisa sekolahin gue tapi semenjak saat itu dia gak pernah balik untuk jemput gue dan akhirnya gue di usir dari kontrakan karna gak bisa bayar kontrakan ya trus gue jadi gelandangan deh," jelasnya sampai akhirnya dia menangis.


 


Aku terharu mendengar kisahnya yang luar biasa dia bisa sukses tanpa dukungan kedua orang tuanya.


 


"Ya trus bapak kok bisa sukses dan kasih sayang seorang ibu bapak dapat dari mana," kataku penasaran.


"Suatu hari gue tidur di sebuah warung penjual gorengan dan yang punya warung itu yang rawat gue besarkan gue menyekolahkan gue ya sampai akhirnya gue kayak gini seorang direktur perusahan properti gue bangga bisa punya ibu se luar bisa dia yang banting tulang demi menyekolahkan gue yang sama sekali bukan siapa siapa dia," katanya.


 


Air mata menetes dari mataku begitu pun dia.


"Dia sekarang dimana pak," kataku.


"Ya dia dirumah gue lah eh bukan deh lebih tepatnya itu rumah dia karna apapun yang gue berikan gak akan sebanding sama apa yang dia berikan," jelasnya bercerita.


"Wow baru kali ini sebuah cerita kehidupan bikin saya nangis," kataku sembari menghapus air mata.


 


Setelah cukup lama bercerita aku membaca kontrak lalu menanda tanganinya.


"Ya udah berhubung udah selesai saya mau balik ke ruangan saya mau lanjutin desain proyek mall itu," kataku.


"Oh iya iya silahkan," katanya.


Saat aku keluar aku berpapasan dengan steven.


"Lo mau kemana stev," kataku.


"Mau urus penambahan kontrak," katanya.


"Oh ya udah nanti kalau udah selesai lo langsung balik ke ruangan ya soalnya gue mau bahas proyek mall itu," kataku.

__ADS_1


"Siip bos," katanya.


 


Aku berjalan menuju ke dalam ruangan ku. Sebelum aku sampai di sana aku mendengar mbak reina sedang bicara di telpon tak sengaja aku mendengar sekilas obrolannya.


 


"Pokoknya saya gak mau tau kamu harus cari tau siapa pacar si steven," katanya seraya membentak.


"Tenang aja pasti saya bayar mahal," katanya dari dalam ruangan.


"Apa maksud mbak reina kok dia pengen tau banget pacarnya steven apa jangan jangan dia mau mencelakakan sisil duh gue pokoknya harus kasih tau ke si steven biar dia bisa lindungi sisil," kataku.


 


Lalu aku pergi ke ruangan pak No sebelum aku masuk aku mendengar perkataan mereka.


 


"Saya gak akan tambah kontrak kamu," kata pak No.


"Tapi kenapa pak buktinya naila bisa saya kok gak bisa saya gak terima ini pak,"


"Kenapa? ini perusahaan saya jadi hak saya buat ngasih keputusan," saut pak No.


"Oke saya gak jadi tambah kontrak karna awalnya saya mau tambah kontrak buat naila doang dan saya yakin naila gak mungkin suka sama bapak," kata steven.


"Siapa bilang sekarang aja dia udah semakin dekat dengan gue lo mau bilang apa," katanya.


"Lama banget stev jadi gimana diterima penambahan kontrak lo," tanyaku berpura pura tidak tau.


"Gak di setujui," katanya kecewa.


"Trus kalau kontrak lo selesai lo mau kerja dimana lagi stev," kataku.


"Seperti yang pernah lo bilang ke gue kalau mau sukses kita harus berjuang jadi gue berjuang buat jadi sukses," katanya.


"Gitu dong harus semangat karena semua diawali dari tekad," kataku.


"Iya yuk sekarang kita bahas proyek itu," katanya.


"Oh iya stev lo harus lebih jagain sisil ya soalnya ada rencana jahat yang mau nyelakain dia," kataku.


"Siapa?!" tanya steven kaget.


"Lo gak perlu tau yang penting lo harus jagain dia, lo sayang kan sama sisil," kataku.


"Ya sayang lah," katanya.


"Buktikan rasa sayang lo ke dia," kataku.


Lalu aku pergi keluar ruangan dan berjalan ke kamar mandi. Aku menangis sendirian.


"Gue emang sayang sama lo stev tapi semuanya udah terlambat gue bakal tinggalin lo dan tinggalin kenangan kita," kataku sambil menangis.

__ADS_1


"Tuh kan gue bener lo sayang sama steven sayangnya cinta lo bertepuk sebelah tangan," kata mbak reina dari belakang ku.


Aku terkejut dan spontan menghapus air mataku.


"Kan saya udah bilang mbak saya sayang sama dia sebagai sahabat," kataku berusaha tenang.


"Trus emang lo mau pisah kemana sampai lo nangis gitu," kata mbak reina.


"Kan steven gak disetujui untuk tambahan waktu kontrak e.. kalau aku kan disetujuin," kataku mulai gugup.


"Apa?! steven gak disetujui tapi lo disetujui," katanya dengan nada tinggi.


"Iya mbak," jawabku pendek.


Setelah itu dia pergi tergesa gesa sementara aku kembali ke ruangan.


"Lo dari mana sih," katanya.


"E..e.. tadi gue mules jadi ke kamar mandi, lo mah kepo banget," kataku.


"Kenapa setiap kita bahas sisil lo sedih gitu," katanya heran.


"Gak ah, masa bahas sahabat jadi sedih aneh deh lo," kataku.


"Ya gue kan cuman nanya," katanya.


"Pertanyaan lo gak banget tau, udah mending kita lanjut bahas," kataku.


 


Dia berdiri dari bangku nya lalu mendekati meja ku. Dia berdiri di belakang ku dan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.


 


"Duuh, steven ngapain sih diri dibelakang gue ini jantung gue nyolot banget gimana kalau dia denger bisa habis gue," kataku mengomel dalam hati.


"Kenapa sih udah yuk mulai," katanya.


"Lo ngapain sih di belakang gue," kataku.


"Ya ngak apa apa kan biar lebih jelas," katanya.


 


Akhirnya kami mulai membahas dengan posisi steven di belakang ku. Tak lama setelah itu pak No dan mbak reina datang ke ruangan kami.


 


"Apa apaan ini kalian gak ingat apa yang saya bilang waktu pertama kali kalian kesini gak boleh pacaran di kantor," kata pak No dengan nada tinggi.


"Iya tuh malah mesra mesra an lagi kan saya bete," kata mbak reina menyaut.


"Diam kamu," bentak pak No.


"Ngak ngak pak bapak salah paham saya lagi bahas soal proyek ini pak kami gak ngapa ngapain kok pak," kataku menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2