Wanita Juga Bisa Berkarir!

Wanita Juga Bisa Berkarir!
Ketinggalan Bus ...


__ADS_3

"Sil, gue mau pulang ke kampung besok jadi gue harus persiapkan barang barang gue, gue juga mau ke kantor dulu gue titip steven ya mungkin gue gak akan ketemu dia lagi untuk selamanya," kataku pada sisil.


"Emang kamu gak mau ya nunggu sampai steven sadar trus kamu pamit sendiri," kata sisil.


"Gak gue gak akan sanggup sil gue gak sanggup liat matanya dan amarah yang dia pendam minggu depan gue bakal berangkat ke Amerika gue jalanin hidup baru gue disana," kata ku mulai meneteskan air mata.


"Nai kamu yakin bakal ninggalin steven untuk selamanya," kataku.


"Ya aku yakin aku gak bakal temui dia lagi karna dia bakal jadi milik lo gue ikhlas asal lo akan selalu bahagiain dia," kataku.


"Tapi nai dia gak cinta sama aku dia cuma cinta sama kamu aku gak akan pernah ada di hatinya," kata sisil sambil menangis.


"Sil lo denger ya cinta itu bisa tumbuh karna kebiasaan gue juga dulu karna sering bareng steven," kataku meyakinkan sisil.


 


Aku berjalan ke luar ruangan steven sampai ke luar rumah sakit dan pergi menuju ke kantor menggunakan taksi.


 


"Stev, selamat tinggal gue bakal kangen banget sama tingkah jahil lo gue bakal kangen sama narsisnya lo," kataku dalam hati.


 


Tak berapa lama kemudian aku sampai di kantor. Aku langsung turun dari taksi dan berjalan masuk ke dalam kantor dan masuk ke dalam ruangan pak No. 


Tok...tok...tok...


"Masuk," kata pak no dari dalam.


Akupun masuk ke dalam ruangannya.


"Permisi pak saya mau pamit," kataku.


"Pamit?! mau kemana?" tanyanya kaget.


"Kan kontrak saya selesai tepat hari ini, jadi besok saya mau pulang ke rumah ayah dan ibu saya lalu minggu depan saya berangkat ke Amerika," kataku menjelaskan.


"Ohh ya udah silahkan," katanya jutek.


"Ya udah saya pergi dulu ya pak," kataku sambil berbalik.


Tiba tiba dia memeluk ku dari belakang.


"Nai gue bakal kangen sama lo selama ini lo ajarin gue arti persahabatan," katanya.


"Iya pak saya pasti kangen juga sama bapak," kataku sambil menepuk tangannya.


Kemudian dia melepas pelukannya.


"Ya udah saya pergi dulu ya pak," kataku pamit.


"Ya hati hati gue yakin lo pasti bakal jadi arsitek yang sukses," katanya padaku.


"Makasih pak saya akan berusaha sebaik mungkin," kataku.


Lalu aku keluar dari ruangan pak No. Saat tiba di loby kantor aku bertemu mbak reina aku mulai mendekatinya.


 

__ADS_1


"Mbak bisa bicara sebentar," kataku.


"Ohh kamu bukannya buru buru ya ya udah pergi aja sekarang saya juga lagi sibuk," katanya.


"Cuman sebentar kok mbak soalnya ini penting banget," kataku.


"Okey dimana?" katanya dengan raut wajah terpaksa.


"Di taman aja biar gak ada yang dengar," kataku padanya.


"oke yuk kita ke taman," katanya.


 


Kamipun berjalan ke taman. Sesampainya di taman aku dan mbak reina duduk di salah satu bangku taman. 


"Emang apa sih yang mau lo bicarain," katanya dengan nada tinggi.


"Pelan aja mbak ngomongnya jangan marah marah," kataku.


"Udah deh to the point aja gue buru buru nih," katanya.


"Oke saya jelasin dengar ya mbak reina yang terhormat mbak pikir kejadian 3 tahun lalu di kampus saya yang terjadi dengan sisil dan juga steven saya biarkan berlalu begitu saja," kataku dengan serius.


"Maksud lo," katanya gugup.


"Ya saya tau otak di balik semua itu adalah mbak dan saya punya bukti jadi jangan sekali kali mbak punya niat buat sakitin sisil lagi kalau sampai itu terjadi saya pastikan mbak akan di penjara," kataku lalu berdiri dan meninggalkan tempat itu.


 


Kemudian aku pulang ke kost an ku menggunakan taksi. Dan setelah sampai aku langsung turun dari taksi dan masuk ke dalam kost kost an.


 


Setelah akhirnya selesai aku beristirahat.


Keesokan harinya.


Aku bangun dan mandi.


"Duh ini jam berapa ya bus gue kan jam sepuluh," kataku panik.


Setelah aku mandi aku mengambil koper lalu keluar dari kost an ku.


"Selamat tinggal kost an ku udah 4 tahun gue tinggal disini, gue pasti bakal kangen banget tidur dikamar ini lagi," kataku sambil menengok ke arah kost an ku.


Kemudian aku berjalan dengan terburu buru ke ujung jalan kost an ku. Setelah sampai di ujung jalan aku menaiki taksi dan pergi menuju terminal. Tak lama kemudian aku sampai di terminal. Aku langsung turun dan masuk ke dalam terminal.


 


"Duh udah jam sepuluh nih gimana ya semoga gue gak ketinggalan bus," kataku dalam kepanikan.


Aku datang ke loket pembelian tiket.


"Permisi mbak saya mau tanya ini tiket saya mobilnya yang mana ya mbak," kataku.


"Ohh ini sudah berangkat bu kurang lebih beberapa menit yang lalu," katanya menjelaskan.


"Hah?! udah berangkat. Ya udah makasih ya mbak," kataku kecewa.

__ADS_1


"Iya sama sama," balasnya.


 


Karena sudah ketinggalan bus. Akhirnya aku kembali berjalan ke luar terminal.


 


"Gue gak boleh nyerah gue pasti punya cara lain buat pulang ke kampung," kataku bertekad.


Sesampainya aku di luar terminal aku melihat mobil pak No.


"Eh..itu kan mobilnya pak No tapi ngapain pak No di terminal," kataku heran.


Tiba tiba pak No datang menghampiriku.


"Nai kok belum berangkat," katanya.


"Ketinggalan bus pak," jawabku masih kesal.


"Ohh, gue ada penawaran yang bagus nih itu sih kalau lo emang pengen pulang," katanya.


"Apa pak saya pengen banget pulang," kataku.


"Saya anter," jawabnya pendek.


"Hah!! bapak yang anter," kataku kaget.


"Iya emang kenapa?" tanyanya dengan raut wajah sok polos.


"Trus kalau orang tua saya tanya bapak ini siapa saya gimana?" tanya balik.


"Ya bilang aja kita pacaran simple kan," katanya.


"Maksud bapak kita pacaran," kataku bingung.


"Ya gak lah," jawabnya ketus.


"Trus gimana dong," kataku tambah bingung.


"Ya kita pura pura pacaran aja," kata pak No.


"Ohh gitu. Oke boleh tapi gak boleh ya lebih dari pura pura," kataku.


"Iya iya," katanya.


 


Kemudian kami berjalan menuju ke arah mobil. Setelah itu kami masuk ke dalam mobil. Lalu mulai berjalan ke kampung.


Sepanjang perjalanan kami latihan berpacaran pura pura.


"Sayang kita jadian tanggal berapa ya?" kataku berpura pura bertanya.


"E..e kayaknya seminggu setelah kamu kerja di kantor aku deh," jawabnya.


Aku tertawa terbahak bahak mendengar ucapan pak No.


Kami berlatih sepanjang jalan agar tidak gugup di depan ayah dan ibu.

__ADS_1


__ADS_2