
Sesampainya di rumah.
Aku langsung masuk ke kamar dan mandi.
"Aku mandi dulu ya bu," kataku.
"Nai...~" kata kata ibu terpotong.
Setelah selesai mandi aku keluar dari kamar.
"Nai ini nak matthew mau nginap disini," kata ibu.
"Gimana dak lo mau nginap disini," kataku pelan agar ibu tak dengar.
"Kayaknya sih gue gak mungkin pulang malam ini kan," katanya.
"Iya sih," kataku.
"Kayaknya dia bakal nginap deh bu kasihan kan masa dia pulang malam malam gini," kataku pada ibu.
"Iya ya udah nanti nak matthew bisa tidur di kamar belakang," kata ibu.
"Makasih ya tan," jawabnya.
Hari semakin larut akhirnya kami semua tidur di kamar masing masing.
Keesokan harinya aku bangun dari tidur dan langsung mandi. Setelah selesai mandi aku langsung keluar dari kamar.
"Bu, matthew mana dia udah pulang," kataku.
"Belum tuh dia nemenin ayah di depan," kata ibu.
"Lagi ngapain mereka bu," kataku.
"Itu ayah lagi ajarin matthew memahat," kata ibu.
"Oh aku liat dulu ya bu," kataku.
"Iya habis itu bantuin ibu bikin sarapan ya," kata ibu.
"Iya bu," jawabku.
Kemudian aku berjalan keluar rumah. Kulihat ayah dan steven sedang asik memahat kayu bersama.
"Si badak rese itu ternyata cepet juga ya deket sama ayah dan ibu," kataku setelah itu aku kembali ke dapur untuk membantu ibu menyiapkan sarapan.
"Nai tolong kamu iris itunya ya, cabai nya ibu mau cuci sayur dulu," kata ibu.
Aku kemudian mengiris cabai dalam keadaan melamun.
"Steven udah sembuh gak ya gue merasa bersalah banget nih udah ninggalin dia dalam keadaan kritis," kataku sambil mengiris cabai.
Tak ku sadari tanganku teriris pisau.
"Aduh... perih banget ibu tolong naila," kataku memanggil ibu.
__ADS_1
Ibu datang dari belakang.
"Kenapa nai," kata ibu panik.
"Tangan nai ke iris pisau," kataku sambil mencuci tangan.
"Bentar ibu ambil kotak P3k," kata ibu.
"Iya buruan bu perih nih," kataku.
Tak berapa lama kemudian ibu datang membawa kotak P3k.
"Sini ibu obati lukanya," kata ibu sambil memegang tanganku.
Setelah selesai di obati ibu bertanya padaku.
"Kok bisa sih nai tangan kamu ke iris pisau, kamu melamun ya," kata ibu.
"Iya bu tadi naila sempat melamun sih," kataku sambil duduk di meja makan.
"Emang apa yang kamu pikirin sih sampai gak liat tangannya ke iris pisau," kata ibu.
"Cuman mikirin kuliah di Amerika naila agak takut sih," kataku berbohong.
"Ohh emang mungkin awalnya deg deg an tapi ibu yakin kamu pasti seneng nanti disana," kata ibu.
"Iya sih bu banyak yang bilang kayak gitu," kataku.
"Oh iya steven udah tau kamu mau pergi," kata ibu bertanya.
Aku mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya bu nai lupa nai mau ketemu temen dulu ya, kalau gitu nai pergi dulu ya bu," kataku.
"Iya bu," kataku.
Kemudian aku berjalan keluar rumah sesampainya di teras untuk pamit dengan ayah.
"Yah nai pergi dulu ya," kataku.
"Emang kamu mau kemana nai?" tanya ayah.
"Nai mau ke rumah temen udah kangen 4 tahun gak ketemu," jawabku.
"Iya hati hati ya jangan pulang malam malam," kata ayah.
"Yang, aku ikut ya," kata pak No.
"Apaan sih ni pak no panggil gue, nyebelin banget," kataku dalam hati.
"Gak usah kamu temenin ayah aja disini sekalian belajar kan," kataku.
Kemudian aku berjalan menuju rumah pohon. Saat tiba disana aku melihat seorang pria dan dari belakang pria ini tampak familiar.
"Kok kayak kenal ya siapa dia," kataku tidak terlalu kencang.
"Gue gak nyangka nai gue pikir walaupun lo gak cinta sama gue setidaknya pasti ada rasa sayang di hati lo tapi ternyata enggak lo tega ninggalin gue dalam keadaan gak berdaya dan disana malah ada sisil yang selama ini gue gak anggap apa apa," katanya.
__ADS_1
"Steven? dia udah pulang," kataku dalam hati.
Kemudian dia pergi tanpa menoleh ke arahku.
"Gue yakin lo bakal bersikap kayak gini sekarang tapi ini semua emang rencana gue biar lo pikir gue bener bener jahat tapi sebenernya gue gak tega ninggalin lo di saat itu," kataku mulai menangis.
Tiba tiba si badak rese datang dan langsung merangkul aku. Aku bersandar di bahunya dan kami duduk di tanah.
"Steven marah ya sama lo," katanya.
"Iya dan matanya bener bener menunjukan kebencian sama gue walau emang ini yang gue mau tapi kenapa rasanya sakit banget ya," kataku dengan air mata berderai deras dipipi ku.
Si badak rese memegang pundak ku dan menghapus air mataku.
"Emang apa yang kita pengen gak semua akan terjadi di hidup kita, dulu sebelum gue punya semua ini gue sering nangis temen temen gue semua punya yang mereka mau tapi gue yakin kalau gue bersyukur akan apa yang gue dapat gue akan bahagia." katanya.
"Maksud lo dak," kataku tak mengerti.
"Maksud gue siapapun jodoh lo nanti lo harus bersyukur karna itu yang terbaik buat lo dan itu yang akan buat lo bahagia," katanya.
Kemudian aku berdiri dan menghapus air mata.
"Gue yakin akan ada yang terbaik buat gue dan gue gak boleh cengeng gue harus bersyukur akan apa yang gue miliki sekarang," kataku.
"Nah gitu dong udah kita pulang sekarang aja ya soalnya gue mau balik nih ke Jakarta," katanya.
"Lo mau balik ke Jakarta dak," kataku cukup sedih.
"Iya soalnya banyak meeting yang numpuk," katanya.
Kemudian dia menggandeng tanganku dan mulai berjalan ke arah rumahku.
"Kok gue sedih ya denger badak rese mau pulang," kataku dalam hati sambil menoleh ke arahnya.
"Oh iya nai sekali lagi thank you ya udah mau jadi sahabat gue selama ini," katanya.
"Iya dak gue juga seneng bisa kenal sama lo pria yang bener bener pekerja keras," kataku.
Tak berapa lama kemudian kami sampai di rumah dia langsung masuk ke kamar belakang dan merapikan barang barangnya.
Setelah selesai dia keluar dari kamar dan berpamitan dengan ayah dan ibu setelah itu aku mengantarnya ke mobil.
"Ya udah gue pulang dulu ya nai gue seneng bisa deket sama keluarga lo yang baik banget sama gue," katanya.
"Iya hati hati ya badak rese," kataku setelah itu aku memeluknya dan diapun membalas dengan pelukan yang hangat.
Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan mulai berjalan. Dia melambai dari luar jendela mobil aku membalas dengan lambaian sambil melompat dan berteriak.
"Daaaa..... Badak rese sampai jumpa kapan kapan kapan," teriakku.
__ADS_1
"Sampai jumpa... cewek baja gue sayang sama lo," katanya membalas berteriak.