
" Maafkan nur mas "
" jangan meminta maaf pada mas nur , minta maaflah sama mbak Sinta, karena dia yang telah kau sakiti "
Nur hanya diam saja seperti nya dia masih dendam dan tidak suka melihat Bu Sinta.
" ayo nur sungkeman sama mbak mu " bapak menegur nur yang hanya diam saja
Perlahan lahan nur melangkah mendekati Bu Sinta dan memeluknya
lalu ia berbisik " Aku ngelakuin ini demi bapak sama mas jangan besar kepala dulu sampai kapanpun saya tidak akan pernah menganggap kamu ada "
ibu Sinta hanya diam dengan mata berkaca-kaca, untuk menghindari kecurigaan keluarga nya ia pun berusaha menutupi
" mbak sudah maafkan , sudah lupain aja kita buka lembaran baru, mbak minta maaf kalau selama ini mbak ada salah sama nur mbak sayang sama nur "
Tak menjawab nur melepaskan tangannya dari tubuh Sinta .
Melihat keadaan sudah membaik, pak agung pun berpamitan pada kedua orangtunya
begitu juga Sinta dan Arum, saat Arum ingin berpamitan pada nur
nur tidak menjabat tangan Arum malah ia melihat kalung yang di leher Arum
" Bukannya itu kalung ibu ? kok bisa ada di kamu, kamu nyuri ya "
Arum terkejut , ibu menghampiri nur dan berkata " nur tenanga nak tenang, ibu yang memberikan nya untuk Arum "
" Apa ibu kasih itu kalung buat dia , ibu tau kan dia siapa dia orang asing Bu "
" huhuhukkk" pak agung tersinggung berpura-pura batuk
__ADS_1
" Sudahlah nur, jangan memperkeruh suasana dia Anak mas berarti dia cucu ibu keponakan kamu toh "
" Terserah lah Bu " Nur masuk ke dalam rumah begitu saja . melihat suasana kacau, Arum berniat ingin mengembalikan saja kalung yang nenek berikan
" loh loh kok di buka , Sudah , sudah pakai saja sayang, itu nenek beri untuk Arum "
", tapi nek apa yang bibi bilang bener , Arum orang asing nek gak seharusnya dapat hadiah semahal ini dari nenek"
" itu kalung milik nenek , nenek berhak mau kasih kalung itu ke siapa , jangan di buka pakai ya sayang "
nenek mengelus rambut Arum memberi rasa tenang pada anak itu.
Setelah berpamitan merekapun meninggalkan rumah, di tengah perjalanan saat melewati sawah dimana pertama sekali Arum bertemu dengan Dimas, disitu lah Dimas berdiri di pinggir jalan sambil melambai kan tangan ke mobil mereka.
" Itu bukannya Dimas pa ?"
" iya yah ma , ada apa ya ?"
Dimas mendekati kaca mobil di sebelah papa dan berkata " maaf om , saya mengganggu perjalanan nya saya cuma pengen ngobrol sebentar "
" oh ada apa nak Dimas ?"
" kalau boleh saya tau Dimana alamat rumah bapak ?"
" Di kota ( bapak menjelaskan jalan dan alamat lengkap rumah mereka ) itu rumah bapak ada apa ? kalau nak Dimas mau datang berkunjung ke kota boleh datang saja "
" trimakasih pak Bu "
" iya nak sama sama , Arum gak mau ngucapin selamat perpisahan untuk Dimas?"
Arum keluar dari dalam mobil,
__ADS_1
" iyapa , hai Dimas "
" hai Arum "
" hmmm... makasih selama disini udah nemenin aku jalan-jalan, makasih juga udah tolong aku waktu itu "
" iya sama sama , aku harap ini bukan pertemukan kita yang terakhir kalinya "
" udah nak ? kita udah bisa berangkat ?" kata papa berdiri di sebelah mobil menunggu Arum ngobrol .
" Sudah pa, maaf ya aku mau berangkat dulu assalamualaikum "
" walaikumussalam hati hati di jalan "
Arum melambaikan tangannya, memberi ucapan selamat tinggal
sebelum mobil jalan Arum memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk angsa sepasang yang satu ia pegang yang satu lagi ia berikan untuk Dimas
" pa, boleh gak sebentar aja brenti lagi Arum mau kasih kenang kenangan buat Dimas "
"tentu saja boleh nak "
Arum mengeluarkan tangannya begitu mendapat izin dari papa
mengulurkan tangannya berkata
" jaga baik baik ya "
ucap Arum mobilnyapun melaju perlahan lahan menjauh.
...****************...
__ADS_1