
Selesai keliling kampung, Arum dan teman teman kembali kerumah.
Dirumah, mereka di sambut oleh bibi nur, dengan wajah galak dan cemberut nya.c
" Arum , itu bibi kamu ya ?"
" iya "
" kok mukanya galak baget gitu "
" tapi aslinya baik kok "
" ih gak tau deh Arum kayak singa mau nerkam mangsa nya tau "
" hussst udah yuk Tessa , elin "
Elina dan Tessa di perbolehkan oleh bibi masuk sementara Arum di cegat tante agar tidak bisa masuk kedalam.
" Ada apa bibi "
"Kamu hebat ya "
" hebat ? Arum gak ngerti bi"
"kamu hebat udah rebut orangtua saya, dan sudah rebut Abang saya "
" astaghfirullah , Arum sama sekali gak pernah rebut siapa siapa bibi "
__ADS_1
" kamu dengar ya ! jangan kamu pikir saya diam saja apa yang sudah kamu lakukan "
" bibi Arum gak ada rebut siapapun"
" tolong tau diri, kamu itu siapa kamu cuma anak pungut disini kamu paham !"
" iya bi Arum tau "
" bagus deh kalau kamu tau diri "
Terlepas dari omongan bibinya, Arum tidak terlalu mengambil hati karena dia sudah tau sifat bibi dari ibunya.
Hari pertama di desa , mereka mulai menyusun laporan kegiatan bersama dengan pembimbing yang datang dari kota khusus membimbing mereka , sekaligus satu warga kampung yang ikut mengarah kan jalan ke pada mereka.
Dimulai dengan berkeliling ke rumah rumah warga mendata kesehatan masyarakat yang minim mendapatkan kebutuhan kesehatan.
"Mau gimana lagi neng, kalaupun kita sakit demam sakit kepala yaa.. kita paling bikin obat dari ramuan atau paling cepat beli di warung neng "
" waduh apa bapak gak takut konsumsi obat di warung secara waktu yang panjang gak baik " ucap Elina
" mau gimana lagi neng, kalau kita harus berobat ke kota, neng tau sendiri jalan dari sini ke kota bagaimana jauh dan susah nya untuk di lewati, blm sampai ke kota , sudah mati kami neng "
"ya Allah, pak semoga kedepannya ada tenaga kesehatan seperti kamu yang berbesar hati menjadi rewalan kesehatan disini " sambung arum
" aamiin neng "
Setelah selesai mengumpulkan data kependudukan , mereka kembali meneruskan perjalanan ke desa berikutnya dan tetap dong di pimpin sama Dimas.
__ADS_1
eh eh ternyata begitu melihat Dimas yang terus mepet ke Arum, membuat boy nai pitam dan terbakar cemburu .
" Siapa sih dia ngapain sih dia dekat dekat sama Arum terus " gumam boy di dalam hati
Sepanjang perjalanan boy hanya diam tanpa kata ia terus memandang Dimas dengan tatapan tajam, hengky yang melihat raut wajah masam boy berbisik
" lu kenapa sih bro, biasanya lu yang paling rese kenapa kayak ikan baru di pukul tuh kepala diam aja "
" brisik lu "
" aiiiing, emosi tingkat dewa pula , kenapa sih cerita dong ? ok ok aku tebak deh penyebabnya , lu cemburu ya ngelihat kedekatan si pembimbing tampan itu yang terus mepet cewek inceran lu "
Boy tanpa sadar menjawab " iya pengen gue jitak aja palanya "
" hahahah... sabar bro buktikan sendiri lu lebih layak di samping Arum dari pada dia "
.Dorongan Hengky untuk tidak tinggal diam, membuat boy semakin bersemangat ia menghampiri Arum, mendorong tubuh Dimas agar menjauh dari Arum , ia berdiri disebelah kiri Arum sementara Dimas berpindah posisi berdiri di sebelah kanan Arum.
" Ada apa sih ? kok dorong dorongan gitu "
" gak ada apa apa sih Arum, aku laper nih gimana kalau kita makan dulu "
" Aku sih terserah ketua aja , gimana ketua kita bisa istirahat dulu makan dulu habis makan kita lanjut lagi "
" ya udah... boleh "
ucap Dinda
__ADS_1