Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
10. CINTA


__ADS_3

Pesanan mereka akhirnya datang juga. Sandra yang tidak ingin memperlihatkan wajahnya, memilih untuk tidak menemui pelayan restoran yang datang membawa makanan untuk mereka.


"Sayang, aku mau ke kamar mandi dulu, aku lagi sakit perut." Ucapnya bohong ketika mendengar bel pintu kamar apartemen mereka berbunyi.


"Baiklah sayang, tidak apa, tapi tolong tuntun aku ke pintu utama!" Pinta Tuan Richard.


Sandra menuruti permintaan Tuan Richard lalu ia langsung menyembunyikan diri di dalam kamar.


"Aku tidak akan memperlihatkan wajahku kepada siapapun yang mengenal sosok Tuan Richard. Cukup asisten Teddy dan Amel yang mengetahui hubungan antara aku dan Tuan Richard." Gumam Sandra lirih.


"Letakkan di atas meja makanannya dan kamu boleh tinggalkan tempat ini secepatnya!" Titah Tuan Richard yang tidak ingin pelayan restoran itu tahu kalau saat ini dia buta.


Setelah kepergian pelayan restoran itu, Sandra baru bernafas lega. Ia keluar menemui sang kekasih dan menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Tuan Richard, bolehkah aku menyuap makanan untukmu?"


"Lakukan sayang!" Senyum Tuan Richard terukir indah mengetahui Sandra begitu tulus padanya.


Dari memandikannya, memakaikan pakaian dan sekarang menyuapnya. Awalnya Tuan Richard menolak permintaan Sandra saat keduanya berada di perkebunan, tapi lambat laun, perhatian Sandra makin membuatnya yakin gadis ini tulus memperhatikan dirinya.


"Sayang, jika aku tidak mendapatkan donor mata, apakah kamu tetap mencintaiku?" Tanya Tuan Richard.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak menikahi aku secepatnya sebelum mendapatkan donor mata." Ucap Sandra.


"Aku hanya ingin melihat pengantinku, menyaksikan malam pertama kita dengan melihat darah keperawanan kamu, apakah aku salah dengan keinginanku itu?"


"Tuan Richard, aku akan merekam momen pernikahan kita dan percintaan panas kita. Anda bisa melihatnya kelak, setelah pengelihatan anda kembali pulih." Ucap Sandra.


"Tidak sayang!" Setiap inci tubuhmu tidak akan pernah terlewatkan olehku, aku hanya ingin kita melakukannya dengan saling menatap dan mengucapkan cinta yang kita rasakan satu sama lain." Ucap Tuan Richard mempertahankan prinsipnya.


"Kalau begitu, jangan pernah lagi meragukan cinta yang aku punya untukmu. Aku jatuh cinta padamu Tuan Richard. Aku mencintaimu Tuan Richard, bukan karena apa yang kamu miliki dengan reputasi keluargamu, aku mencintaimu karena sesungguhnya kamu adalah lelaki tampan yang sangat baik." Ucap Sandra dengan suara parau.


"Hei, kenapa kamu malah menangis sayang?" Aku juga mencintaimu Sandra. Aku hanya ingin kita mengukuhkan cinta kita dengan pernikahan dan melewati malam pengantin kita dengan melihat aset di tubuhmu." Ucap Tuan Richard.


"Aku takut tidak bisa membuat kamu bahagia dan tidak bisa melihatmu lagi. Suatu hari nanti kamu akan sangat membenciku dan sangat jijik kepadaku." Ucap Sandra makin bergetar dengan deraian air mata yang tak terbendung.


"Mengapa kamu berkata seperti itu, kamu sedang tidak menipu aku bukan, bahwa kamu adalah gadis perawan?" Tuan Richard menjadi ragu dengan Sandra karena ucapan gadis itu yang tidak mengatakan polemik sebenarnya yang terjadi antara mereka berdua.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Dia jadi salah paham kepadaku." Gumam Sandra membatin.


"Tuan Richard, aku tidak memiliki apa pun dalam hidupku kecuali diriku sendiri dengan milikku yang masih aku jaga dan aku berniat untuk menyerahkan pada suamiku di kala sudah menikah.


Mungkin terdengar klice hidup di budaya kita yang tidak menghargai nilai sebuah kesucian. Tapi percayalah aku masih perawan." Sandra menyudahi makanannya dan mengajak Tuan Richard ke kamar untuk beristirahat.


Tuan Richard tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sandra yang terkadang polos dan terkesan misterius.


"Apakah gadis ini sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Bagaimana kalau seandainya dia akan kabur dariku?" Bantah Tuan Richard dalam batinnya.


Keduanya terlihat menjadi asing satu sama lain dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, hingga akhirnya keduanya tidur tanpa melakukan ritual pemanasan percintaan mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷


Hari berlalu, waktu terus mengejar mimpi, kedekatan Tuan Richard dan Sandra makin terlihat mesra. Dengan mobil yang diberikan oleh Tuan Richard, Sandra selalu mengajak Tuan Richard bersenang-senang, entah ke area pantai maupun menginap di daerah pegunungan yang menawarkan tempat eksotis.


Mereka menginap di salah satu puncak gunung yang tempat penginapannya tidak jauh dari daerah aliran sungai.


Walaupun Tuan Richard belum bisa melihatnya, Sandra selalu menjelaskan tempat dan suasana yang saat ini mereka lewati.


Malam ini keduanya sedang menikmati makanan mereka di depan perapian karena saat ini di kota itu sedang turun salju.


"Iya sayang, sebentar lagi aku akan mengikuti acara wisuda."


"Apakah kamu ingin mengajar?"


"Itu yang aku impikan menjadi seorang guru, kalau bisa menjadi seorang dosen suatu hari nanti."


"Kenapa kamu tidak kerja di salah satu perusahaanku saja, dengan begitu kamu lebih banyak belajar tentang bisnis."


"Aku tidak begitu berminat dengan dunia bisnis Tuan Richard. Aku lebih senang berhadapan dengan para siswa." Timpal Sandra menolak tawaran Tuan Richard padanya.


"Tidak apa sayang, aku hanya menawarkan saja, bukan untuk memaksamu bekerja di perusahaanku." Tuan Richard meralat penawarannya.


"Dari dulu aku sudah bermimpi menjadi seorang guru ataupun dosen, aku ingin ilmu sampai pada setiap generasi muda yang akan meneruskan ilmu itu pada keturunan generasi mendatang. Aku ingin dikenang menjadi seorang ilmuan daripada menjadi pengusaha yang hanya dikenang di keluarga besarnya saja." Ucap Sandra.


"Baiklah sekarang kita istirahat, besok kita akan bermain salju. Kamu sudah bawa perlengkapan ski untuk kita?"

__ADS_1


"Sudah sayang, tapi apakah kondisimu bisa nyaman melakukan ski?" Tanya Sandra cemas.


"Kita akan berpegangan saat meluncur, bukankah itu lebih seru dan menantang?" Timpal Tuan Richard.


"Idemu brilian juga. Kenapa aku tidak memikirkannya sampai di situ." Ucap Sandra lalu keduanya terkekeh.


*


*


Keesokan harinya keduanya melakukan ski, tapi sebelumnya keduanya membuat patung salju dan kemudian bersiap meluncur, bermain ski di tempat yang cukup aman untuk keduanya.


Keduanya berpegangan tangan lalu meluncurkan bersama. Keduanya tertawa terbahak-bahak ketika tubuh mereka sudah meluncur mengikuti jalur lekukan tumpukan salju.


Beberapa kali mereka mencoba meluncur lalu kembali beristirahat.


Tidak lama terdengar ponsel milik Tuan Richard berdering. Sandra membantu menyambungkannya pada si penelepon.


"Siapa..?" Tanya Tuan Richard.


"Dari Daddymu sayang."Ucap Sandra seraya menyerahkan kepada Tuan Richard.


"Hallo Daddy!" Sapa Tuan Richard pada ayahnya diseberang telepon.


"Hallo, nak!" Apakah kamu sedang menikmati liburanmu bersama Sandra?"


"Iya Daddy!"


"Nak, Daddy punya berita bagus untukmu. Apakah kamu mau mendengarnya?" Tanya tuan Miller seakan sedang mengulur waktu untuk membuat putranya penasaran.


"Berita gembira apa Daddy?" tanya Tuan Richard yang tidak sabaran.


"Bersiaplah nak, Daddy sudah menemukan donor mata untukmu." Ucap Tuan Miller kegirangan.


"Apa... maksud Daddy, aku akan bisa melihat lagi. Donor matanya sudah ada di rumah sakit kita?" Tuan Richard mengulangi lagi perkataan Daddy-nya dengan ekspresi wajah gembira.


Degggg....

__ADS_1


Darah Sandra langsung berdesir.


__ADS_2