
Siang itu, Sandra dipanggil oleh rektor kampus tempatnya mengabdi.
"Sandra, aku minta besok malam kamu dan Alice ikut denganku menghadiri acara amal untuk anak-anak yang kurang mampu namun berprestasi.
Acara ini di hadiri oleh berbagai kalangan, baik dari elite politik, para pejabat dan pengusaha dari berbagai negara. Kampus kita terpilih dalam undangan itu karena banyak sekali mahasiswa berprestasi namun terbentur biaya.
Aku menunjuk kamu dan Alice sebagai panitia acara yang akan menyambut para duta besar dari berbagai negara." Titah Tuan Ferdinand.
"Baik Tuan!" Ucap Sandra singkat.
"Jangan lupa gunakan gaun pesta yang cantik karena ini acara istimewa. Aku tidak mau melihat wajah kusutmu yang tidak pernah tersentuh makeup." Ucap tuan Ferdinand lagi.
Sandra hanya menarik nafas panjang dan menghembusnya dengan kasar. Iapun mengangguk dan meninggalkan ruang kerja milik rektor.
"Sepenting apa acara itu? hingga aku harus berdandan cantik dengan mengenakan gaun bagus. " Gerutu Sandra sambil mencari beberapa gaun pesta yang ada di aplikasi ponselnya.
"Ada apa Sandra?" Mengapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya Gabriel yang duduk di samping Sandra.
"Aku lagi cari gaun pesta untuk acara besok malam. Sudah lama aku tidak pernah hadir di pesta dan harus memakai gaun." Ucap Sandra sambil cemberut.
"Kalau kamu ingin mendapatkan gaun bagus, yuk ikut aku!" Kebetulan kakak aku seorang desainer dan ia memiliki koleksi gaun pesta yang jumlah terbatas dalam merancangnya." Ucap Gabriel.
"Aku tidak punya uang untuk membeli gaun dari butik kakakmu." Ujar Sandra malas.
"Sudah, tenang saja Sandra. Itu gampang diatur. Kamu cukup mengenakannya dan di sana nanti kamu juga akan dirias oleh MUA."
"Benarkah?" Kamu tidak sedang bercanda bukan?" Tanya Sandra ragu pada Gabriel, rekan kerjanya ini.
"Percayalah padaku Sandra. Aku ingin tahu apakah kamu kelihatan cantik atau tidak saat di dandan karena selama ini kamu terlihat cuek dengan penampilan seadanya." Ujar Gabriel.
"Aku tidak punya waktu untuk merias diriku, Gabriel." Balas Sandra.
Keesokan harinya keduanya kemudian berangkat ke butik milik kakaknya Gabriel. Setibanya di sana, Gabriel memperkenalkan kakaknya yang ternyata adalah seorang lelaki.
"Apa..?" Kakakmu ternyata seorang lelaki, Gabriel?" Apakah dia juga seorang gay?" Tanya Sandra yang tidak suka berhadapan dengan seorang gay.
"Hussstt!" Sembarangan. Tidak semua perancang busana itu adalah perempuan dan tidak semua lelaki yang bergelut dengan dunia wanita adalah gay.
Mungkin nanti kamu akan naksir padanya karena dia begitu tampan dan cerdas." Ucap Gabriel yang merupakan gadis keturunan Amerika dan Meksiko ini.
Bisa juga disebut Gabriel dan kakaknya adalah keturunan Amerika latin.
"Hai kak!" Sapa Gabriel pada kakaknya yang bernama Richardo.
__ADS_1
"Hai Gabriel!" Tuan Richardo mengecup pipi adiknya.
"Apakah dia temanmu?" Tanya Richardo ketika melihat Sandra yang terlihat malu-malu.
"Oh iya kak, kenalkan ini Sandra dan Sandra ini kakak aku, Richardo." Gabriel memperkenalkan keduanya.
Keduanya bersalaman sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Kakak, tolong rekomendasikan gaun pesta terbaik di butik ini untuk sahabatku Sandra karena ia akan menghadiri acara penting malam ini dan aku ingin anak buahmu membantu merias wajahnya secantik mungkin." Ucap Gabriel sambil melihat-lihat gaun baru rancangan kakaknya.
"Baiklah nona Sandra!" Tubuhmu sangat indah dan tidak kalah dengan model-model dari agensi model yang biasa aku kontrak mereka untuk memperagakan setiap gaun rancanganku.
Aku harap dengan kamu memakai gaun pesta rancangan terbaru milikku, di acara amal itu, mungkin banyak yang akan melirikmu dan menanyakan gaun pesta ini." Ucap tuan Richardo sambil tersenyum.
"Terimakasih tuan Richardo, semoga saja nantinya, saya akan membawa keberuntungan untuk anda dengan mengenakan gaun rancangan anda." Ucap Sandra santun.
"Aku yakin, Dewi Fortuna akan mendatangi kita berdua nona Sandra." Tawa keduanya renyah.
Tuan Richardo meminta anak buahnya untuk merias wajah Sandra terlebih dahulu sebelum mengenakan gaun pestanya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Satu jam berlalu, Sandra keluar dari ruang makeup dengan gaun indah yang sudah menempel ditubuhnya.
"Benarkah ini kamu Sandra?" Dosen killer yang disegani banyak mahasiswa." Ucap Gabriel spontan.
Di saat yang sama tuan Richardo menatap wajah cantik Sandra tanpa berkedip membuat adiknya Gabriel menepuk pipi sang kakak.
"Kakak!" Teriak Gabriel menyadarkan lamunan kakaknya.
"Lagi terpesona ya sama Sandra?" Goda Gabriel.
"Kamu seperti tuan putri yang baru ditemukan sang raja dan ratu nona Sandra." Ucap Tuan Richardo.
"Terimakasih untuk pujiannya tuan!" Ucap Sandra sedikit salah tingkah di depan tuan Richardo.
"Sandra, ayo berangkat!" Rektor pasti sudah menunggumu." Ucap Gabriel yang ingin mengantar sahabatnya ini ke pesta, walaupun dia sendiri tidak di undang di acara itu.
Sandra menghampiri tuan Richardo untuk mengucapkan terimakasih atas gaun pesta yang sangat indah yang dikenakannya saat ini dan juga riasan makeup yang di dandani oleh MUA yang ada di butik tersebut.
"Tuan Richardo aku sangat beruntung bertemu dengan anda. Aku akan menyicil gaun pesta rancangan anda ini." Ucap Sandra.
"Tidak perlu Sandra!" Aku ingin menghadiahkan gaun indah ini untukmu." Ujar tuan Richardo yang sudah terhipnotis dengan kecantikan Sandra.
__ADS_1
Keduanya bersalaman dan tuan Richardo mengecup punggung tangan Sandra dengan lembut.
Setibanya di salah satu hotel mewah, di mana acara pesta amal itu akan digelar, Sandra turun dari mobil mewah milik Gabriel.
"Terimakasih untuk semuanya Gabriel!" Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini." Ucap Sandra lalu mengecup pipi Gabriel.
"Masuklah Sandra!" Titah Gabriel lalu meninggalkan hotel itu.
Sandra berjalan dengan anggun tanpa melihat sekitarnya, padahal semua mata sedang tertuju pada kecantikan dan juga gaun indah yang saat ini merupakan limited edition dari perancang ternama yaitu tuan Richardo Gonzales.
"Siapa gadis itu?" Apakah dia seorang model baru?" Tanya salah satu wartawan wanita yang sedang meliput acara amal tersebut.
"Mungkin saja seorang putri raja yang sedang datang memberi kontribusi besar di acara amal ini." Ucap sesama rekan wartawan.
Sandra masuk ke lift yang sedang terbuka menuju ke lantai dua puluh di mana acara amal itu sedang berlangsung.
Ketika mencapai lift ke sembilan belas, lift itu berhenti dan masuk seorang lelaki tampan dan gagah. Kebetulan Sandra sedang sendirian di lift itu dan ia pun sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan wajah pria tampan yang baru masuk ke lift itu.
Pria tampan itu seketika terkesima dengan wajah cantik Sandra. Ia seperti berhadapan langsung dengan peri cantik yang baru saja turun dari kahyangan.
"Apakah anda juga tamu di acara amal di hotel ini, nona?" Tanya pria tampan itu pada Sandra yang terlihat cuek padanya.
"Astaga!" Suara itu, suara itu seperti suara Tuan Richard!" Gumam Sandra lirih sambil mendongakkan wajahnya ke arah pria tampan itu secara perlahan.
"Hahh!" Benar itu Tuan Richard!" Mata Sandra mendelik tak percaya dengan pengelihatannya saat ini.
Jantungnya seakan ingin melompat dari raganya. Ia pun buru-buru mengambil permen fox untuk menghilangkan kegugupannya.
"Apakah kita ke tujuan yang sama, nona?" Tanya Tuan Richard lagi.
Sandra hanya mengangguk sambil menunjuk ke mulutnya bahwa saat ini, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan Richard karena sedang mengunyah permen.
"Ok, tidak masalah, nona!" Kamu sangat cantik." Puji Tuan Richard.
Pintu lift terbuka, Sandra melangkah tergesa-gesa di ikuti oleh Tuan Richard yang ingin berkenalan dengannya.
"Sandra!" Kenapa kamu lama sekali datangnya?" Tanya Alice kesal.
Sandra makin gugup dengan situasi yang tidak kondusif baginya saat ini karena Alice menyebut namanya dengan jelas di depan Tuan Richard yang berdiri di belakang mereka.
"Sandra..?" Gumam Tuan Richard dengan dada bergemuruh karena ia yakin Sandra di depannya saat ini adalah gadisnya yang hilang tiga tahun yang lalu.
"Casandra Thalia!" Panggil Tuan Richard dengan lantang pada Sandra, sehingga langkah gadis cantik ini terhenti.
__ADS_1